Haruskah foto mereka ditampilkan? Tak adakah cara lainnya?

Jika saya mengingat berbagai foto yang pernah saya lihat hingga saat ini, ada beberapa foto yang menyiratkan kisah-kisah penuh hikmah kehidupan, meski terkadang foto tersebut bagi sebagian besar orang tergolong sangat ekstrim. Seperti foto-foto pembantaian manusia secara sadis dan sporadis yang saya lihat ketika kelas 2 SMP dulu dari seorang fotografer yang harus kehilangan beberapa jari tangannya saat memotret peristiwa tersebut.

Namun saya tak akan membahas tentang hal itu dalam tulisan ini, mengigat sampai sekarang gambaran foto-foto yang didominasi warna merah darah itu terkadang sangat jelas berkelebat dalam bayangan saya. Setiap kali teringat foto-foto itu saya berharap peristiwa keji seperti itu tak akan terulang lagi di bumi manapun hingga kapanpun juga.

Yang akan saya bahas di tulisan ini adalah beberapa foto-foto lain yang mengundang berbagai perasaan penuh gejolak antara marah, sedih, dan juga tak paham. Saya teringat sebuah peristiwa beberapa bulan sebelum berangkat ke Jepang di tahun 2007 yang lalu.

Waktu itu menjelang magrib, bersama teman satu kamar kost, saya pergi ke sebuah toko swalayan yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa di lingkar kampus IPB Darmaga, Bogor. Dan seperti biasa toko swalayan itu senantiasa ramai dan padat dengan pengunjung yang rata-rata mahasiswa IPB yang baru saja selesai kuliah.

Setelah mengantri cukup lama dalam deretan panjang akhirnya saya dan teman saya akhirnya sampai juga di hadapan kasir yang sibuk menghitung jumlah barang-barang yang kami beli untuk persiapan fieldtrip Oseanografi Fisika di Pelabuhan Ratu.

Tak sengaja saya melihat sebuah tempelan mencolok di dekat pintu masuk swalayan, tak jauh dari tempat saya berdiri. Sambil menjawil bahu teman saya, saya berkata:

“Fad, itu kok parah betul ya di tempel di situ. Apa ya etis ngelihatin foto seperti itu?”

Teman saya melihat sejenak ke arah yang saya maksud, kemudian dengan cueknya berkata:

“Yaaa… biarin aja. Biar jera, Nang” sambil mengangkat tas plastik belanjaan hendak meninggalkan swalayan.

“Iya… biar mereka jera. Kapok sekapok-kapoknya” tiba-tiba sahut si mas tukang kasir berseragam perpaduan warna hijau dan orange, sambil menyerahkan tas plastik terakhir pada saya.

Sejenak saya tertegun. Jika tak ingat bahwa masih banyak orang lain yang natri di belakang saya tentu saya akan mendebat si tukang kasir itu. Hanya saja teman saya sudah berlalu keluar melewati pintu swalayan. Maka saya pun bergegas menyusulnya.

“Udahlah, Nang. Ngapain juga dipikirin yang kayak githu. Banyak orang juga dah ngelihat dan mereka cuek. Ngapain juga kamu mikirin…” timpal Fadli dalam perjalanan pulang ke kost yang tak jauh dari swalayan itu.

Tapi entah mengapa kok saya tetap gak senang banget dengan tempelan di pintu swalayan itu ya. Saya tak habis pikir dengan tempelan yang saya lihat waktu itu. 5 anak perempuan kira-kira seumuran anak kelas 4-6 SD tampak memenuhi tempelan itu dalam berbagai pose foto yang ditempel di pintu swalayan itu. Namun pose mereka berbeda dengan pose model perempuan di bermacam foto-foto fashion yang juga tak saya sukai karena lebih banyak mengumbar aurat dengan dalih estetika dan seni itu.

Sosok kelima gadis itu tampak begitu mengiris hati. Berdiri dalam balutan pakaian sehari-hari di atas sandal jepit mereka dengan wajah tertunduk, sebagian tertutup rambutnya yang panjang, kedua tangan berpegangan satu sama lain, menunjukkan kegelisahan, namun semuanya menyiratkan satu ekspresi… takut, menyesal, dan sedih. Jelas tergambar dari raut muka yang sembab oleh air matanya. Namun tulisan di atas tempelan itu yang membuat saya tersentak kaget…

“PENGUTIL BARANG!!! INGATLAH WAJAH MEREKA!!!”.

Masya Allah. Astaghfirullah…

Ada perasaan sedih dan juga kaget ketika melihat deretan foto yang berjumlah 3-4 lembar dicetak dalam ukuran cukup besar itu. Tampaknya foto itu juga diambil di tempat kejadian perkara oleh petugas swalayan yang menangkap mereka, lengkap dengan salah satu foto yang menunjukkan beberapa barang yang disita dari mereka, kotak-kotak kecil yang tak tahu saya apa isinya.

Yang membuat saya kaget adalah peristiwa itu dilakukan oleh anak-anak kecil, perempuan lagi. Masya Allah. Apa motifnya? Apakah alasan klasik, karena masalah ekonomi? Atau lainnya.

Namun yang jauh membuat saya kaget adalah keputusan petugas swalayan “meng-Upload” foto-foto itu di tempat umum. Mungkin memang benar, tujuannya adalah membuat si pelaku jera dan secara tak langsung memberikan ultimatum peringatan untuk tidak melakukan hal yang sama. Namun apakah si petugas tak juga memikirkan dampak psikologis lebih jauh pada si pelaku yang notabene masih anak-anak itu?

Bisa saja setelah foto itu dipampang jelas-jelas di swalayan itu, ditambah dengan penekanan pada tulisan “…INGATLAH WAJAH MEREKA!!!”, akan memicu memori otak setiap orang untuk mengingat wajah 5 gadis itu dan menanamkan benih “kebencian” pada mereka hingga waktu yang lama.

Siapa yang bisa tidur nyenyak ketika wajahnya nongol di tempat umum yang ramai karena terlibat suatu masalah? Oke… taruhlah juga kelima anak itu mungkin akan melupakannya seiring dengan waktu… tapi bagaimana dengan orang tuanya? Bagaimana mereka di tengah masyarakat yang melihat putri mereka melakukan hal seperti itu. Bukan tidak mungkin kemudian akan muncul anggapan, bahwa orang tua mereka tak mampu mendidik anak-anaknya. Meski belum tentu juga peristiwa yang terjadi pada 5 anak itu timbul karena ketidakmampuan orang tua mendidik mereka. Bisa jadi faktor lainnya. Atau bagaimana 5 anak itu akan menghadapi teman-teman di sekolahnya?

Namun yang jelas… saya hingga saat ini mengecam tindakan penempelan foto itu. Mereka itu masih terlalu muda, menurut saya, untuk diberi hukuman seperti itu. Tak ubahnya penempelan foto mereka itu seperti buronan pelaku bom saja. Tidak adakah cara yang lebih mendidik untuk menegur kesalahan 5 anak perempuan itu? Di Jepang saja, pelaku kejahatan sekejam apapun ia pasti dilindungi hak-hak privasinya, termasuk tampilan wajahnya di media umum. Maka jangan harap mendapat foto jelas pelaku kriminal dalam siaran berita di Jepang. Kecuali fotografer jurnalistik berhasil memotretnya secara candid.

Mengapa juga yang dipajang di tempat umum bukan wajah-wajah penjahat kelas atas yang berdasi dan berpakaian rapi yang sudah membuat negara ini dirundung masalah bobrok yang sudah menjadi borok berkelanjutan??? Mengapa orang-orang kecil yang harus lagi-lagi dibuat besar-besar masalanya???! (pertanyaan klasik ya?)

Saya juga jadi teringat dulu ketika saya kelas 6 SD, teman sepermainan saya kepergok mengambil sebuah permen di toko kelontong tak jauh dari pemukiman kami. Ketika saya dan teman-teman tahu kabar itu kami segera bergegas ke tempat itu dan melihat ia diikat oleh si pemilik toko kelontong di salah satu tiang kayu di depan toko. Maka dengan cepat kabar itu terdengar hingga ramailah orang sekompleks pemukiman berkerumun melihatnya. Beberapa warga mencoba membujuk sang pemilik toko kelontong melepaskannya. Namun si lelaki tua itu hanya berkata:

“Saya hanya akan melepaskannya jika Bapaknya yang meminta ke saya!!!”

Maka ketika bapak teman saya itu datang masih dengan pakaian lusuhnya sehabis mencari rumput, dengan raut muka merah padam dan nafas tersengal-sengal antara malu dilihat penduduk dan juga marah kepada anaknya yang terikat sambil menangis sesenggukan, jadilah anak itu bulan-bulanan si bapak. Kalau saja pak RT dan beberapa penduduk tak turun tangan melerai dan menenangkannya… masya Allah… batang bambu sebesar lengan itu tentunya telah menghantam bertubi-tubi kepala teman saya itu, hingga bisa saja hal terburuk akan terjadi. Namun alhamdulillah, Pak RT berhasil membujuk bapak teman saya itu untuk bersikap bijak… hingga teman saya itu akhirnya hanya dihukum oleh ayahnya tak boleh keluar rumah selama 1 bulan dan rambutnya dicukur habis.

Nah… bagaimana nasib 5 anak perempuan itu sesudahnya? Wallahualam. Semoga saja Allah berkenan memberi hidayahnya pada mereka dan mengampuni kesalahannya. Maka ketika teman saya masih juga bertanya pada saya setelah tiba di kosan:

“Udahlah Nang, itu kan biar mereka jera. Gak ngulangi perbuatan mereka! Ngapain juga kita meski pusing?”

Maka saya jawab sambil terbata-bata antara marah dan sedih:

“Fad… ente punya adik perempuan semata wayangkan di Sulawesi sana? Coba bayangkan kalau diantara foto 5 gadis itu… ternyata ente nemuin wajah adik ente di sana! Apa yang bakal ente rasakan???!!!”

Maka ia hanya diam sambil sejenak membayangkan. Tak ada jawaban balik meski saya menunggunya. Karena setiap kali saya mengingat foto di swalayan itu jadi teringat wajah dua adik perempuan saya yang berada nun jauh di sana. Baik-baik sajakah mereka?

Maka benarlah salah satu rangkaian do’a dalam Al Ma’tsurot…

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang”

Catt:

“Seperti halnya bagian kehidupan yang lain… bagi sesama penggemar fotografi… semoga setiap jepretan yang kita hasilkan akan dapat kita pertanggungjawabkan baik di dunia dan di akhirat kelak. Memotret atas niat yang benar demi kebenaran. Menjadi fotografer yang Bersih, Peduli, dan Profesional… hihihi jadi kampanye nih… kali ini cuek ah…”

16 thoughts on “Haruskah foto mereka ditampilkan? Tak adakah cara lainnya?

  1. bro soal foto yg mewakili 1000 bahasa mg bnr adanya…dan tentunya efek dari 1000 kata itu yang akan dicerna orang yang melihatnya. Misalnya foto seseorang yg menggambarkan pengemis dgn kondisi yang mengenaskan seharusnya…sekali lagi seharusnya mendorong untuk tergerak menolong org macam di foto tsb.

    Hanya masalahnya manusia punya kebiasaan untuk semakin lama semakin kebal akan sesuatu. Contohnya cerita Bro Danang di atas, sebenarnya yang terjadi adalah akibat terlalu seringnya kita “melihat”, tidak juga di foto tapi juga gambar2 di TV juga membaca deskripsi berita koran yang kian sadis membuat hati kita makin bebal.

    Mungkin untuk bbrp org yang memiliki empati tinggi seperti Bro Danang akan miris melihat foto2 tsb walau tentunya si penempel foto tidak memiliki maksud lain selain mmg ingin membuat jera saja. Tapi buat yang lain agak sulit untuk mencerna “berita” di balik berita nya.

    Jadi memang kembali ke si pembuat berita (dalam hal di atas si fotografer dan si pembuat panflet) juga sih bagaimana seharusnya mengemas apa yang akan dilempar ke masrakayat….

    sorry, just my 2 cents :D……wah jadi bikin tulisan dalam tulisan org nih

  2. wah, pinter juga yang ngedisain batre yah… kok bisa-bisanya dia memasukkan filosofi hidup ke dalam sebuah batre??
    (hm..boleh kan ngomen komen orang :p)

    tentang tulisan utama,,

    *menerawang jauh*

    kurasa mimpi buat mewujudkan masyarakat dengan moral tinggi itu bisa mulai dibangun… dari generasi kita, dan generasi yang akan kita lahirkan, dengan kita sebagai pembinanya…

    (ini ngarahnya kemana ya??)

  3. Ah, kenapa ya kok banyak sekali orang yang suka berlaku semena-mena dan kasar dengan anak-anak…Padahalkan mereka makhluk yang lemah…mereka masih belum mengerti…sebenarnya mereka butuh arahan dan teguran tapi tidak dengan cara seperti itu…. tapi dengan cara kasih sayang, kelembutan dan cinta tentunya…Menurut psikologi anak bahwa ketika sang anak dimarahi atau dipukul atau dilakukan kekejaman tertentu maka pada saat itulah terjadi pemutusan pada urat syaraf mereka…Ah, masya Allah…Duhai Allah lindungi anak-anak kami, anak-anak negeri ini dari segala bentuk kekejaman…

  4. hmm,,klo sy pribadi si ga stujuh nempel poto gtu,,
    scara.. mreka msh ank2. bs ngaruh ke prkmbangan psikologisnya..
    klo dr awal dah di judge jd maling,,,bs2 dterusin nantinya,,,, ( terlanjur basah,,ya sudah ),,ironis

  5. Assalamualaikum, mas danang..
    numpang komen.
    kalo sudah seperti itu, berarti banyak dong yang harus dibenahi ya. orangtuanya yang harus punya kesadaran memberikan pendidikan, anak-anaknya yang harus dididik, orang-orang swalayan yang juga harus lebih bijak….
    repot deh kalo sudah berbicara sistem. dan sesuatu yang merupakan kekerasan (tidak harus selalu fisik) lama kelamaan dilanggengkan jadi kebiasaan yang membudaya dan mengakar.
    trus kita harus gimana dong? hehe, malah balik nanya….🙂

  6. Hmmm… mungkin kita harus memulainya dari diri sendiri, dari sekarang, dan tentunya dari yang kecil. Itu jalan paling mudah bukan?
    Selalu heran mas… kalo lihat di negara maju seperti Jepang. Meski kebanyakan orang Jepang Atheis… tapi akhlaknya bagus sekali…
    sepertinya memang benar… akhlak adalah salah satu cerminan kemajuan peradaban suatu bangsa…

  7. iya tu…harusnya dipermalukan aja tu koruptor2..bisanya cuma ama rakyat kecil aja…
    koruptor kelas kakap yang nilep harta rakyat ampe mil milan dilindungi setengah mati dan bisa tetep hidup dengan bangga tanpa rasa malu….

  8. Aku hanya berpikir bahwa mungkin bukan anak itu yang ingin mengutil, mngkin orang tua atau seseorang yg memintannya, karena harusnya seorang anak adalah anak yang polos. Mari yuk kita bangun negeri ini sehingga tidak ada lagi anak kecil yang harus dikorbankan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s