Minggu berdarah di Akihabara: Sebuah Reportase tak langsung…

“Maka Nikmat Tuhanmu yang Mana Lagi yang Akan Engkau Dustakan?”

(Ar Rahman: 33).

Mungkin makna ayat Al Qur’an di atas menjadi semakin kuat saya rasakan setelah mendengar berita mengejutkan di salah satu stasiun televisi Jepang, Minggu, 8 Juni 2008 yang lalu. Bagaimana nikmat memiliki Iman dan Islam adalah kekuatan terbesar bagi setiap muslim di dunia untuk tetap berjuang dengan arahan hidup yang tepat dan sempurna.

Berita tersebut menayangkan insiden pembunuhan masal dan sadis yang dilakukan oleh seorang pria berkebangsaan Jepang, Tomohiro Kato, 25. Dengan mengemudikan truk yang ia sewa dari wilayah Shizuoka, ia menerobos, atau lebih tepatnya menerjang kerumunan orang-orang yang tengah lalu lalang di jalanan Akihabara, pusat elektronika terbesar di Jepang.

Tak hanya itu, setelah truk berhenti tak jauh dari situ, ia melompat turun kemudian menghunus pisau dan menusuk para korban yang sebelumnya telah terkapar oleh tabrakan truknya, dan melanjutkan aksinya menusuk orang-orang di dekatnya.

Dari 10 korban yang terkena imbas aksi tak beradab itu 7 orang dinyatakan tewas oleh luka-luka tusukan berkali-kali.

Aksi brutal itu akhirnya berhasil dihentikan setelah seorang polisi yang mengancam akan menembaknya ketika sang pelaku tengah terpojok. Dan tanpa perlawanan akhirnya pelaku diringkus kemudian dibawa oleh polisi setempat untuk proses hukum, yang tentunya akan dijalani dengan berat.

Pihak polisi dan petugas medis segera membantu para korban yang berjatuhan langsung di lokasi. Bahkan beberapa pejalan kaki pun juga ikut membantu evakuasi. Darah tampak berceceran di beberapa tempat.

Tayangan tersebut kemudian menghiasai berita utama di stasiun-stasiun televisi Jepang sepanjang hari terkadang diselingi oleh tayangan video amatir dari HP yang menunjukkan orang-orang berlarian menghindar.

Yang membuat saya terkejut adalah insiden tersebut terjadi berselang 1 hari setelah saya hunting foto di wilayah Akihabara yang nota bene tak jauh dari salah satu tempat saya berdiri untuk mengambil foto di sana.  Alhamdulillah Allah menyelamatkan saya dari situasi itu, padahal rencana semula saya berniat menginap di Masjid Otsuka untuk melanjutkan hunting foto di kemudian harinya, meski akhirnya saya batalkan karena kelelahan seharian berjalan.

Saya sudah bosan dengan hidup ini. Saya datang ke Akihabara untuk membunuh. Siapapun itu tak masalah.” kurang lebih demikian penuturan sang pelaku yang saya kutip dari Tokyo News. Sangat mengerikan. Penuturan yang menyiratkan bagaimana si pelaku tak memiliki arahan dan pegangan hidup. Dan jangan pula mengira wajahnya bertampang kriminal, dari foto terakhirnya yang ditayangkan di TV itu terlihat bagaimana si pelaku terlihat begitu kalem, bahkan jika saya bertemu wajah itu pertama kalinya tentu tak akan terbersit bahwa sosok itu akan punya nyali membunuh orang karena kebosanannya.

Jepang dikenal sebagai negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah. Meski kejadian ini menambah sejarah kelam pembunuhan masal yang terakhir terjadi tahun 2001 lalu ketika seorang pria menerobos kelas di suatu sekolah dasar dan tanpa pikir panjang menghujamkan pisau ke beberapa murid hingga tewas. Dan sebelumnya pula terjadi aksi penusukan yang sama dengan motif yang hampir sama.

“Kebosanan dalam menghadapi hidup”

Maka beruntunglah kita yang memiliki pandangan dan jalan hidup yang telah secara sempurna ditunjukkan oleh Allah. Sayang sekali jika kita memili hal tersebut namun tak juga mengambil hikmah yang besar bagi kebaikan kita.

Tampaknya mode pelampiasan stress berlebihan di Jepang sudah bergeser. Jika dahulu sering kali orang Jepang yang tertekan dirinya melakukan Jisatsu (bunuh diri), maka kini beralih pada aksi membunuh orang lain. Seperti kejadian pendorongan antrian orang yang menunggu kereta listrik di subway. Ketika kereta listrik hampir sampai di depan antrian seorang pelaku yang didiagnosis mengalami tekanan mental yang berat, mendorong antrian hingga mengakibatkan beberapa orang tewas terlindas kereta. Dan masih banyak lagi kasus aneh-aneh yang umumnya disebabkan oleh minimnya atau bahkan tidak adanya pegangan hidup dalam diri mereka.

Astaghfirullah… semoga Allah melindungi kita dari sifat dan dampak kejahatan, baik yang tampak maupun yang tak tampak.

Catt:

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan orang Jepang, hanya sebagai contoh bagaimana pentingnya memiliki keimanan dan ketakwaan dalam hidup kita. Sebagai pegangan dan juga arahan hidup.

Akihabara merupakan wilayah sentra elektronika, video game, dan produk teknologi terbesar di seantero Jepang. Bahkan ada pepatah yang mengatakan, “Jika apa yang engkau cari tak kau temukan di Akihabara, maka engkau tak akan menemukannya di wilayah lain di Jepang”. Salah satu wilayah di kawasan Tokyo yang sangat ramai dikunjungi khususnya di akhir pekan. Jalanan umum yang biasanya dilalui oleh kendaraan akan menjadi jalanan manusia yang berlalu lalang di pertokoan di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan.

Seluruh foto di tulisan blog ini, saya ambil dari berbagai situs internet dan masing-masing merupakan hak pemiliknya. Informasi lanjutnya silakan ke http://search.japantimes.co.jp/cgi-bin/nn20080610a1.html dan lain2nya

21 thoughts on “Minggu berdarah di Akihabara: Sebuah Reportase tak langsung…

  1. Ya mbak… tapi ada juga sedikit naluri jurnalist (halah hehehe)… buat berada di sana memotret kejadian itu…
    Tapi ya… apapun yang terjadi padaku adalah yang terbaik bagiku… Alhamdulillah

  2. Iya,pas pertama kali lihat liputannya langsung bersyukur,betapa beruntungnya kita yang masih diberi nikmat iman sbg pegangan…
    gara2 dari kemarin nonton itu,malah jadi kepikiran,”Gila tuh orang!Jangan2,tetangga sebelah kamar apato-ku,juga berpotensi kayak gitu yah?”
    Sereeem…

  3. Wah… iya juga. Cuma setelah lihat di kamera amatirnya gimana orang itu turun dari truk kemudian nusuk2 kesana-kemari… serem juga.
    Kalo dibekali baju anti peluru mah tak apa2 hehehe

  4. di Indonesia orang bosan hidup karena frustasi ekonomi yang tak menentu dengan bunuh diri. Sedangkan di Jepang disana (mungkin) tidak kenal susah hidup karena negaranya sudah menyejahterakan rakyatnya kok bosan hidupnya malah ngebunuh? orang yang aneh!

  5. Iya akh. Ane juga heran lho. Di sini juga ada kok yang homeless, tapi itu konon karena mereka gak mau kerja keras saja. Cuma mereka tetap bertahan hidup kok. Yang aneh yang seperti ini. Malah ada kasus karena Rombu (skripsi/tesis)-nya gak diterima… langsung loncat dari gedung… aneh2!

  6. Iya mbak Alhamdulillah.
    Meski juga pengen ngeliput langsung… hehehe. Sayang mau balik lagi ke sana tiket keretanya mahal euy. Bisa buat makan 2 minggu. (maklum anak rantau mbak) hihihi

  7. Astaghfirullah, ngeri banget!!!
    Begini kali ya salah satu potret negeri penghasil Battle Royale??
    Semoga Allah menghindarkanku dari kondisi seperti itu….

    *udah speechless gak bisa komen lagi*

  8. Wah “Mbak penerima Panasonic Scholarship” hihihi…
    Tahun depan kalo ke Jepang sempatin mampir ke Akihabara, Harajuku, dan wilayah lainnya di tokyo ya…
    … kalo Battle Royale masih bisa ketawa saya… kalo yang ini… mau mencet tombol shutter kamera aja pasti gak bisa kalo saat itu ada di sana

  9. Aaamiiin.
    Yang penting lolos JLPT level 3 dulu nih T__T
    Biar tahun depan beneran bisa jalan-jalan ke tempat-tempat itu…..
    Memang pingin dapet di Tokyo sih. Doain ya!

  10. Hmm… JLPT Level 3 ya? Semangat!
    Sebenarnya nanti juga bisa kok ikutan intensive course lagi semester 1. Itu kalo Monbuka Gakusho.
    Tokyo? Todai atuh. Perlu diperhatikan juga mbak ttg biaya hidup lho di wilayah tokyo. Ganbatte ne!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s