Antri euuuy…

Ada hal yang membuat saya benar-benar geleng-geleng kepala pada suatu pagi beberapa hari yang lalu. Setelah semalaman membereskan form aplikasi untuk Bayer Eco-Minds dan Ajinomoto Scholarship dan baru tidur sejenak setelah subuh, pagi itu saya bergegas ke tempat fotokopi untuk menjilid berkas-berkas yang ingin saya kirimkan siang harinya. Ketika baru ingin menyerahkan berkas untuk dijilid ke tukang fotokopi tiba-tiba seorang mahasiswi datang sambil berlari dan menyerobot:

“Maaf mas saya buru-buru nih, tolong fotokopi berkas seminar saya 10 rangkap ya mas. Saya tunggu…”

Dengan muka kecut saya memandang ke arahnya. Apa gak pernah belajar antri dan menghargai orang lain nih orang? pikir saya. Eh tiba-tiba mahasiswi itu berkata:

“Ada apa mas? Ada yang salahkah?” Buseet cuek banget!

Gubraakkk… sok merasa gak bersalah lagi. Ya sudahlah mengalah saja daripada masalah yang seharusnya gak perlu ada jadi ada. Sabar-sabar… Saya menunggu sekitar 10 menit ketika berkas saya kemudian selesai di jilid.

Sekitar jam 10 pagi hari yang sama saya bergegas ke kantor pos pusat di kota Bogor untuk mengirimkan berkas. Sekalian beli bahan-bahan kimia untuk penelitian. Dan sekali lagi saya harus bersabar dengan yang namanya budaya antri di Indonesia…
Ketika saya mengantri di loket express mail bersama seorang ibu-ibu di depan saya, tiba-tiba dari belakang muncul dua orang sosok berpakaian batik dan rapi menyerobot antrian.

“Maaf… urusan penting dari instansi pemerintah…buka jalan”
“Eh, Pak, semua orang di sini harus ngantri tak terkecuali petugas pemerintah seperti bapak…” ujar ibu-ibu di depan saya.
“Wah Bu, ini surat penting yang harus segera dikirim hari ini… jadi ibu sabar dikit lah”

Si Ibu masih ngedumel sementara saya menarik nafas panjang… “Pegawai pemerintah dari mana ini kok kayak gini…?” Sabar-sabar… Padahal kalau dipikir-pikir semua surat yang dikirimkan melalui loket express mail itu sama saja waktu keberangkatannya dari kantor pos… ya hari yang sama juga dengan surat-surat lainnya. Dasar saja, gak tau budaya antri…

Siang sekitar jam 14.00… kembali saya melihat bagaimana budaya antri di negeri ini harus benar-benar dibudayakan dengan baik. Sepulang dari kantor Pos saya berjalan ke sebuah warteg langganan. Setelah menyelesaikan makanan saya berdiri menuju kasir untuk membayar. Ketika hendak mengambil dompet, tiba-tiba segerombolan mahasiswi dengan baju yang begitu modis dan ketawa cekikian centil (na’udzubillah…) menyerobot saya tanpa merasa bersalah bahkan seolah mengabaikan keberadaan saya yang sudah berdiri di depan kasir sebelum mereka.

“Assalamualaikum… maaf… mbak-mbak ini jurusan apa ya di IPB” tanya saya tiba-tiba memecah canda tawa mereka.

“Ehmm… Jurusan “tiiiit” ” jawab salah satu dari mereka yang diikuti pandangan mereka ke arah saya.

“Wah jurusan yang terkenal top itu ya? Wah keren banget ya bisa masuk jurusan seperti itu” sambung saya sambil manggut-manggut…

“Hehehe ya begitulah Pak…” timpal mereka bangga.

Waduh… ini sudah kelewatan… sudah menyerobot, manggil saya pakai “Pak” lagi… memangnya tampang saya sudah kayak bapak-bapak? (hehehe… kalau akan jadi calon bapak iya… suatu saat).

“Tapi kok aneh ya… jurusan se-Top itu gak ngajarin mahasiswanya tentang “antri-mengantri” dan menghargai orang lain… Kalau gitu gak pantas kalian bangga jadi mahasiswa di jurusan itu ” serobot saya dengan nada tajam dan sedikit menyindir…

Mungkin mereka (baru) sadar bahwa mereka telah menyerobot saya… atau memang sengaja menyerobot saya sejak awal… wat epa deh… saya dah muntab semuntab-muntabnya… yang saya sadari muka mereka berubah tegang dan memerah… istilah ladies first gak berlaku di sini kalau mereka antri saja gak mau…

Tanpa berlama-lama, saya langsung membayar ke tukang kasir yang tersenyum melihat kejadian tadi. Kemudian bergegas keluar dari warteg menuju kos-kosan saya yang tak jauh dari situ…

Masya Allah… ampuni ya Allah kalau kata-kata saya mungkin menyakiti mereka. Tapi itu harus dikatakan dan dilakukan…

Kapan ya bangsaku ini bisa teratur… paling tidak ketika antri saja. Saya jadi teringat beberapa bulan lalu ketika saya mengantri di sebuah convinient store di Utsunomiya, Jepang untuk membeli makanan ringan setelah selesai penelitian di lab. Kebetulan ada seorang nenek-nenek tua yang jalannya saja beliau dibantu oleh semacam penopang besi beroda yang berdiri di belakang saya.

Dengan maksud baik, saya mempersilahkan beliau untuk duluan ketika giliran saya membayar di kasir selesai. Tapi beliau menolak dengan alasan bahwa saya duluan antri dan aturan itu harus dijalankan. Tak masalah kalau hanya menunggu 10 menitan saja hingga gilirannya tiba membayar di kasir… masya Allah… tak heran juga bangsa Jepang begitu disiplin.

Bukan saya bermaksud menjelek-jelekkan bangsa sendiri… dan saya yakin ada juga orang Indonesia yang sangat berbudaya antri dengan baik… hanya saja… kejadian sehari itu benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala (bahkan goyangan kepala orang India saja pasti kalah hehehe).

Sooo… mari budayakan antri dan menghargai orang lain… bersabar pasti giliran itu tiba.
Untuk Indonesia yang lebih baik…

Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang…

33 thoughts on “Antri euuuy…

  1. Sabar, Akhi.
    Kan di Bara banyak foto copi-an.
    Harusnya antum bilang bahwa, antum datang duluan. Jadi, antri.
    Kalau antum diam, maka itu mendiamkan kemunkaran kan?
    'Afwan.
    Sehingga ga beri tarhib ke si Mba yg ga bisa antri itu.

  2. Bagus-bagus banget… emang kudu diberi pelajaran dikit. Inget dulu waktu mo bayar belanjaan di suatu departemen store di depok pernah diserobot orang. Untung kasirnya wong adil, ditolaklah orang itu dan mempersilahkan orang tadi untuk ngantri dari belakang. *suka pengen jitak kalau ada tukang serobot*

  3. Hal yang sama yg pernah aku alami juga. Wajar kalau kita mengingatkan jika tindakan tsb salah. Toh ini dilakukan untuk kebaikan bersama, menuju Indonesia yg lebih baik *hehe kayak kampanye* :p

  4. Hore ada temannya!!!
    Sabar mas…, kalau ngadepinnya dengan marah2 terus, bisa cepat tua dua kali lebih cepat lho…
    Saya juga termasuk yang suka galak kalau ketemu penyerobot antrian.
    Sempat pingin nyerah, ikutan anarkis, menyeruak antrian..
    tapi kok malu ya rasanya…
    jadi ya, sekarang ngajarin anak2 kecil buat antri
    paling nggak biar beberapa tahun ke depan, kondisi antrian lebih baiik…
    hehehehe…
    hidup ngantri!!!

  5. Yah pengennya sih bilang begitu… tapi karena hari itu saya sebenarnya agak letih setelah semalaman bergadang, jadi rada males negur… bisa jadi malah tambah panjang… yo wes lah… lagian kalo dizolimi… do'anya dikabulin…
    *Uhmm… saya do'a apa ya waktu itu???*

  6. baca cerita ka danang,,,
    jadi kesel sambil ketawa2 sendiri+ jadi tambah pengen ke jepang,,,hehe,,,

    kenapa ya,,,
    kita yang notabenenya seorang muslim malah tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti mengantri,ontime,dll, padahal harusnya itu menjadi akhlak seorang muslim,,

    atau mungkin banyak yang sudah beranggapan ” yah,,, dia aja kek gitu,,, masa saya harus cape2 ngantri/Ontime segala?”” haduh,,haduh,,,gaswat,,niy,, (sambil geleng2 juga deh,,,)

  7. MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH, kalo sudah berbicara akhlak maka tidak ada jalan yang paling ampuh untuk mengubahnya yaitu memberi keteladan. Kita tidak dapat merubah orang lain kalo kita tidak merubah diri sendir… ana yakin antum sudah memberikan teladan….semoga yang lain mengikuti ( sehingga menjadi budaya komunal )…Belajar antri, artinya belajar sabar dan belajar menghormati hak orang lain..insyallah…saya kira memang tidak perlu pembinaan yang ndaki'-ndaki' tapi CONTOH dan kesadaran sosial

  8. Bener tuh!!!!! orang sabar pahalanya banyak qo..
    Insyaallah..
    Kalo saya di pesantren c..
    budaya antri tuh,, udah pasti dan otomatis dan kudu dan harus dan WAJIB.. kalo g mau kena semprot omelan santri yang laen..
    apalagi kakak kelas..
    tapi kebetulan sekarang saya yang paling tua tuh..
    angkatan paling atas gitu deh..
    jadinya kalo mau nyerobot,, serobot aja….^^
    (ha..ha..kidding…)
    Secara,,,sebagai kakak yang paling gede..harus ngasih contoh yang baik..
    ya g'??!?!

  9. Hmmm… sepertinya tidak perlu mencari siapa yang salah dan benar… Langsung saja seperti kata Aa' Gym…

    3M… Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang (untuk membudayakan antri dan menghargai orang lain)

  10. kalo menurut ichi sih,,,memang ada keslahan,,,yaitu pada sistem yang sudah terlanjur membumi di bumi Indonesia….jadi,,solusinya,,ya seperti yang k2 bilang…ikuti kata Aa' Gym saja…

    SETUJU!!

  11. Dipanggil Bapak belum tentu sudah tua kok. Kalau di tempat saya (kota Batu), kami biasa memanggil kakak kelas dengan sebutan “Bapak” karena kami menghormati mereka.

    Tapi…
    Memang dipanggil Bapak bisa juga karena “boros”… (tidak serius)

  12. Jadi teringat masa awal kemerdekaan Indonesia…
    Ingat kan?

    Saat itu masyarakat Indonesia antri dengan sangat teratur ketika menyumbangkan uang dan harta yang mereka miliki untuk membantu negara Indonesia yang sedang dalam masa krisis karena baru saja merdeka dan mendapat boikot dari beberapa negara tetangga. (Kalau tidak salah…)

    Kapan ya masa itu datang lagi???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s