A Road to Dreams: Pedoman Melanjutkan Studi S2 ke Jepang (Bagian 2)

Bissmillahirrahmanirrahim…

Kita lanjutkan bahasan sebelumnya…
Why we have to be sure!
Merupakan hal penting mengerucutkan tujuan pencarian beasiswa yang kita inginkan. Sebaiknya disertai dengan alasan-alasan yang logis dan kuat. Saya akan jelaskan mengapa saya memiliki 2 batasan pencarian beasiswa seperti pada tulisan bagian 1.
1. Mengapa saya memilih Jerman? Sebenarnya sederhana, karena pengalaman masa kecil. Sebagian masa SD saya habiskan di Jerman ketika Bapak saya mendapatkan beasiswa S2 dan S3-nya dari DAAD di sana. Sedikit banyak saya menguasai bahasa Jerman dan juga mengetahui kultur orang Jerman. Itu sudah sangat cukup untuk menjadi dasar saya memilih Jerman sebagai negara tujuan. 
Saya mengetahui bahwa pemerintah Jerman memberikan beasiswa melalui DAAD (Deutsche Akademische Austausch Dienst atau lembaga Jerman yang mengurusi pertukaran akademik) atau bisa juga melalui Erasmus Mundus seperti yang telah dicoba oleh beberapa teman saya.
2. Dan mengapa saya memilih Jepang? Sama juga, karena berkaitan dengan pengalaman saya tinggal di sana selama 1 tahun dalam program student exchange. Sebenarnya Jepang lebih terasa berkesannya, mungkin karena masih fresh ingatannya. Tujuan pertama saya adalah almamater saya di Utsunomiya University (U-Dai) atau mencari universitas lainnya  yang sesuai dengan S1 saya.
Sebenarnya ada banyak beasiswa ke Jepang, namun yang paling terkenal adalah beasiswa dari pemerintah Jepang (Monbukagakusho).
WAIT… mengapa tidak di Indonesia? Apakah Indonesia gak bagus?
Well… pertanyaan ini wajar muncul. Dan saya jawabnya juga dengan wajar…:
“Ilmu itu milik Allah, dimanapun kita mencarinya, asalkan dengan sungguh-sungguh dan niat terbaik karena Allah, pasti akan didapatkan. Mengapa tidak di Indonesia? Karena saya ingin merasakan sensasi out of the box… menantang kemampuan maksimal diri sendiri di dunia sepertinya sungguh asyik… ibaratnya budaya minangkabau…”Merantau…” dan ungkapan mahsyur dalam Islam: “Tuntutlah ilmu meski sampai negeri China…”
Indonesia bukannya tidak bagus, oh tidak… Indonesia bahkan telah menunjukkan bahwa bangsa ini adalah salah satu sumber juara-juara dunia… hanya saja, bangsa ini masih perlu banyak belajar menghargai ilmu dan ilmuwannya untuk bisa bangkit… and wish me the best in my journey… so that I can return someday,  to serve my beloved country, Indonesia…” (Backsong… Indonesia Raya)
Lebay, ya? Ah biarlah… asal gak alay :p
Kita lanjutkan…
Setelah mantab dengan kedua batasan itu… saya mulai mencari.
Waktu itu saya mulai dengan mencari kesempatan beasiswa S2 ke Jerman, mulai buka situs DAAD dan Erasmus Mundus. Membaca dengan teliti setiap bagiannya (dan memang sangat banyak). Belum termasuk Erasmus Mundus yang memiliki website sendiri untuk masing-masing programnya.
Kesan yang saya tangkap dari penjelasan di situs DAAD adalah beasiswa ini termasuk sangat kompetitif dan “tertutup”… mudahnya… sulit bagi saya (namun bisa jadi mudah bagi yang lainnya). Istilah tertutup saya gunakan karena saya tidak melihat banyak publikasi untuk mendapatkan kesempatan beasiswa itu, selain itu rata-rata yang mendapat beasiswa DAAD adalah mereka yang bekerja di instansi atau lembaga yang memiliki afiliasi kerjasama dengan pemerintah Jerman, misal Dosen, peneliti, dll. (Koreksi saya ya bila salah…). Sehingga untuk fresh graduate yang gak punya afiliasi dimana-mana… akan sangat sulit bersaing di sana.
Untuk Erasmus Mundus… info lebih detailnya mungkin bisa dibaca di google dari para peraih beassiwa itu beserta tips-tipsnya. Saya hanya akan menceritakan pengalaman saya saja. Terus terang, daftar Erasmus Mundus, relatif lebih mudah dibanding DAAD, namun yang sulit itu… memenuhi syarat-syaratnya… fiuuhhh. Syarat2 yang diajukan oleh Erasmus Mundus bisa bervariasi antara satu program dengan program lainnya.
Salah satu yang paling sulit adalah mendapatkan TOEFL resmi minimal dengan Score 550. Dan itu sungguh bagi saya kesannya gak mudah… (soalnya belum pernah tes TOEFL sungguh-sungguh… biasanya ikutan yang prediction seharga 50-100 rebuan doang hehehe… meski dapat sertifikat… tapi itu gak bisa digunakan untuk daftar di Erasmus Mundus). Alhasil, syarat ini belum saya penuhi… soalnya saya belum pernah ikut tes resmi yang harganya Rp. 300 ribu itu. Kalau tes TOEFL “abal-abal” mah dulu sering hehehe… murah meriah.
Selain itu, pihak Erasmus Mundus juga minta minimal ada 2 pemberi rekomendasi yang diminta menuliskan rekomendasinya untuk kita langsung ke panitia baik melalui surat atau email. Kemudian nanti panitia akan melakukan cross check untuk menjamin keaslian dokumen-dokumen itu. Sementara kondisi saya waktu itu adalah mahasiswa tk akhir yang kelewat waktu gak lulus-lus, cari perekomendasi lumayan sulit dengan kriteria itu… dan belum juga nemuin waktu untuk ikutan tes TOEFL resmi.
Dua hal itulah yang menjadi kesulitan bagi saya, sehingga akhirnya Erasmus Mundus saya pun gagal disubmit, meskipun lainnya dah terisi lengkap syaratnya. No Problem masih banyak kesempatan.
Cara lain yang saya gunakan adalah mencoba menghubungi Professor di berbagai universitas Jerman untuk mendapatkan rekomendasi. Cara ini biasa ditempuh jika ingin lanjut kuliah ke Jepang, dimana Professor memiliki “kekuatan” untuk merekomendasikan calon mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang. Biasanya kalau Professor sudah memberikan rekomendasi, 80% kita pasti akan mendapat beasiswa dari Jepang.
Namun… ternyata cara ini kurang berhasil kalo diterapkan di Eropa. Setiap E-Mail yang saya kirimkan, rata2 dibalas oleh para Professor itu. Mereka bisa memberikan rekomendasi, namun tidak menjamin rekomendasi itu akan meloloskan kita ke Jerman. Kita harus tetap mendaftar melalui jalur yang ada dan ikut seleksi. Ini yang saya alami. Mungkin saja berbeda dengan yang lainnya. Bisa ditambahkan nantinya.
Maka saya pun beralih ke alternatif kedua yaitu… Back to Japan! Nihon ni kaeru!
Saya memutuskan untuk mengkontak kembali Sensei daya di U-Dai. Lama sekali saya menunggu balasan E-Mailnya. Namun baru saya dapatkan setelah 2 bulan kemudian balasannya. Saya mendapatkan kabar bahwa, Sensei saya yang dulu (Yanagisawa Sensei) telah pensiun dari pekerjaannya sebagai dosen, peneliti, dan juga pimpinan laboratorium Applied Bioorganic Chemistry. Beliau menyarankan saya untuk menghubungi Associate Professor yang juga sempat membimbing saya di Jepang dulu, sayangnya, beliau tidak bisa menjamin saya bisa mendapat beasiswa di U-Dai kembali karena posisinya  bukan sebagai penentu. Namun beliau tetap menyemangati saya untuk mencoba Monbukagakusho melalui kedutaan Jepang Indonesia.
Beberapa kali kontak E-Mail dengan beliau saya masih bisa menjalin komunikasi. Namun setelah sekitar 10 E-Mail, beliau tidak membalas lagi E-Mailnya. Saya rasa karena kesibukannya di Lab, seperti yang dijelaskan pada E-Mail terakhirnya.
Sedih? Ya tentu… Namun saya berhuznudzon bahwa Allah pasti menyiapkan yang terbaik untuk saya. Bisa jadi Applied Bio-Organic Chemistry bukanlah bidang yang tepat bagi saya…, ya, saya masih punya banyak kesempatan. Salah satunya sewaktu ada pengumuman seleksi beasiswa Ajinomoto Indonesia ke University of Tokyo, meskipun akhirnya gagal di final, saya mendapat banyak pengalaman baru di sana. (Insya Allah, sebagian kisah tentang ini ada di Buku perdana saya: :PEMIMPI LUAR BIDAHSYAT yang sedang proses akhir di percetakan… insya Allah awal Agustus 2010 sudah bisa terbit… cerita lainnya… insya Allah, di lain waktu akan saya bahas tentang ini…).
Maka alternatif satu-satu yang tersisa di benak saya waktu itu adalah mencoba mencari Professor dan universitas lainnya. Saya mulai memfokuskan diri untuk bisa mencari Professor dan Universitas yang memiliki kompetisi unggulan di bidang yang sama dengan bidang keahlian S1 saya di IPB, yaitu biologi laut dengan spesifikasi mikroalga.
Langkah yang saya ambil adalah sebagai berikut:
1. Saya mengambil peta Jepang yang dulu saya dapatkan di Narita Airport.
2. Saya cermati wilayah-wilayah Jepang yang berada di pesisir laut dan mencari kota-kota yang dekat dengan laut. Saya catat nama kota-kota itu dengan harapan saya akan menemukan di internet universitas yang terletak di wilayah pesisir itu dan memiliki kompetensi baik di bidang biologi laut. Hasilnya…. GEDOMBRANG… banyak banget nama kotanya… meski kemudian memang saya cari melalui Google… gak praktis banget kan? hehehe tapi itulah perjuangan saya.
3. Saya mulai ngobrol-ngobrol dengan beberapa kenalan yang dulu ketemu di Jepang, akhirnya dari sana saya menemukan ada beberapa nama besar universitas di Jepang yang memiliki bidang spesifikasi di Biologi Laut, diantaranya: Hokkaido University, University of Tokyo, University of The Ryukyus, dll…
Berbekal info-info itu saya mulai mencari kontak Professor melalui situs Laboratorium yang ter-link di situs Universitasnya. Banyak yang saya kirimkan mungkin lebih dari 500-an E-Mail, namun sedikit yang membalasnya. Wajar, namanya juga usaha, gak selalu berhasil di percobaan ke 500-an :p
Sebagian membalas:
… I’m so sorry, there are already several candidates who wish to apply to my lab…”
atau
“… my research field is completely different from your interest…” (ini jelas soalnya saya coba kirim ke Professor bidang robotika…hahaha… biologi laut mau belajar S2 robot… :P)
dan
“…you should try to make better research studies before applying to my Lab...” Fiiuuuhhh… taihen da ne.
Never giving my self up to what I face🙂
Hampir 1 tahun saya melakukan hal yang sama, hampir tiap hari. Cari Professor, kirim E-Mail, dan cek E-Mail. Kadang hampir frustasi juga. Hehehe…
Hingga suatu hari, ketika membuka Facebook, saya membaca sebuah Link yang baru saja di Post oleh seorang kakak kelas yang tengah menempuh master di Saga University, Jepang.

“…siapa tahu ada yang berminat… Okinawa International Marine Science Program (OIMAP) 2010 at University of the Ryukyus: Master Candidate Through MEXT 2010…”
Penasaran saya klik link yang diberikan di wall FB itu dan mulai mencermatinya isi di situs itu, dan…
Inilah yang saya cari! (Thanks to Mas Anton di Saga University atas linknya waktu itu)… Saya langsung cari daftar Professor dan bidang keahliannya… hingga kemudian saya menemukan satu Professor yang sangat cocok dengan bidang interest saya… Mikroalga Laut :)…
Alhamdulillah… tanpa pikir panjang saya langsung mengkontak Professor itu… dan Alhamdulillah beliau langsung membalasnya dengan sebuah kabar yang teramat gembira bagi saya hari itu…
What’s that? We will continue it next time🙂
Insya Allah akan saya sertakan tulisan E-Mail yang dulu saya kirimkan ke Professor itu di bagian 3 tulisan ini. Semoga yang bisa berguna bagi teman-teman yang bingung bagaimana menulis E-Mail perkenalan pertama dengan Profesor di Jepang… insya Allah… di tulisan selanjutnya ya…🙂
Tetap semangat tuk menggapai Impian dalam ridho Allah!
It is fun to do the impossible. If you can dream it, you can do it” (Walt Disney)

11 thoughts on “A Road to Dreams: Pedoman Melanjutkan Studi S2 ke Jepang (Bagian 2)

  1. caranya dapat kontak profesor gimana,Mas.?
    saya beberapa kali coba cari di beberapa univ top yg dapat cuma biro alumni nya dan kalaupun ada sering failed..

    kalau berkenan,bisa ke YM saya,Mas : rama_r _4ever

    arigatou gozaimasu.. ^^

  2. caranya dapat kontak profesor gimana,Mas.?
    saya beberapa kali coba cari di beberapa univ top yg dapat cuma biro alumni nya dan kalaupun ada sering failed..

  3. Di tulisan ini saya sedikit menyebutkan caranya. Yaitu, buka situs universitasnya, terus cari departemen / jurusan / laboratoriumnya, kemudian cari bagian profil staffnya.Nah ini kadang-kadang memang ribet, Soalnya ada yang mencantumkan E-Mailnya, kadang juga enggak. Kadang dalam bahasa Jepang kadang jg Inggris. Cari e-mail yang langsung ke Professor itu, jangan ke bagian biro atau semacamnya.

    Kalo misalnya di situsnya ga ada, alternatif lainnya adalah mengetikkan nama Professor yang kita tahu di Google dengan format sebagai berikut:

    “Nama Professor + contact + E-Mail” misal: “Watanabe Kenji+contact+E-Mail”… nah nanti akan ada beberapa situs yang akan menampilkan contact Prof itu jika memang dia punya record di internet.

    Kalo failed ada beberapa kemungkinan: bisa memang alamat E-Mailnya dah gak ada. bisa penulisan emailnya salah, dll. Waalahualam.

    Kalo gak ketemu juga… terus mencoba… 🙂, never give Up! Saya nulis > 500 an email kok dengan berbagai alamat yang saya temukan… semuanya hampir gagal total🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s