WASPADA sebelum memilih kuliah di luar negeri…

Bissmillah…


Artikel ini melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang persiapan yang dibutuhkan untuk melanjutkan kuliah ke Jepang.

Kuliah ke luar negeri masih menjadi salah satu impian besar banyak orang di Indonesia. Selain karena alasan gengsi dan jalan-jalan yang pasti seru, banyak yang berpandangan kuliah keluar negeri dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan diri. Namun, ternyata kuliah keluar negeripun harus disertai dengan banyak persiapan, perencanaan, dan pertimbangan yang matang. Karena tanpa ketiganya, hasil kuliah di luar negeri nantinya bisa saja menjadi “nonsense” ketika pulang ke tanah air.

Kok bisa? Bisa saja dan sepertinya dibisa-bisakan saja di negeri bernama Indonesia.
Beberapa hari ini saya iseng-iseng browsing tentang pengakuan dan penyetaraan ijazah lulusan universitas di luar negeri oleh kementrian pendidikan nasional Indonesia. Ternyata prosedurnya cukup ribet dan sepertinya membuat pusing banyak orang, khususnya mereka yang tengah berada di negeri asing untuk menuntut ilmu.

Mengapa demikian? Ternyata, seorang lulusan dari luar negeri (dari universitas terkemuka yang masuk rangking atas universitas duniapun) tidak dapat serta merta diakui ijazahnya di Indonesia tanpa melalui proses penyetaraan ijazah di Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI). Tak peduli apakah ia lulusan S1, S2, atau S3 sekalipun, tanpa proses penyetaraan ijazah di DIKTI… maka ijazah yang diperoleh dengan susah payah di negeri seberang bisa jadi tak berguna sedikitpun untuk melanjutkan karir di negeri sendiri.

Yang cukup menyakitkan adalah… ternyata beberapa ijazah S1 dari luar negeri setelah disetarakan di Indonesia hanya diakui sebagai ijazah yang setara D3 dan D4 saja. Bahkan ada yang telah selesai S3 dengan gelar Ph.D sekalipun ijazahnya hanya diakui sebagai ijazah lulusan S2. Bahkan kemungkinan besar ijazah jenjang apapun dari suatu universitas di luar negeri sana tidak dapat disetarakan / lama proses penyetaraannya di DIKTI karena universitas tersebut tidak masuk dalam daftar universitas yang diakui oleh DIKTI. Masya Allah…

Mungkin maksud dari pemerintah Indonesia adalah baik, yaitu agar tidak terjadi pemalsuan ijazah belajar seperti yang pernah marak terjadi bertahun-tahun silam, dimana ada orang yang mengaku memiliki ijazah S1 dari sebuah perguruan tinggi, tetapi setelah dikonfirmasi perguruan tinggi itu ternyata fiktif belaka. Atau memang begini sistem di Indonesia yang melihat orang dari “surat-surat”nya dan bukan pada apa yang ia kuasai dalam keahliannya. Wallahualam…

Maka dari itu, kepada rekan-rekan yang berkeinginan melanjutkan kuliah ke luar negeri, hendaknya merencanakan dengan baik, jurusan/universitas mana yang akan dituju nantinya dan apakah ijazah lulusannya dapat diproses di DIKTI untuk penyetaraan atau tidak. Tentu Anda tidak mau sudah bersusah payah selama 2-5 tahun di negeri seberang untuk menuntut ilmu tapi akhirnya ijazahnya gak diakui di Indonesia bukan?!

So… rencanakan dengan matang dan baik. Jangan sampai pula karena hanya ingin kuliah ke luar negeri, semuanya dilakukan tanpa pertimbangan dan perencanaan yang baik, karena bagaimanpun tidak menjadi jaminan kuliah di luar negeri lebih baik daripada kuliah di negeri sendiri.

Sebagai rujukan awal, rekan-rekan bisa mengunjungi situs DIKTI dan mencari halaman yang mencantumkan mengenai penyetaraan ijazah / daftar jurusan/universitas di luar negeri yang sudah diakui oleh DIKTI.

Mungkin ini salah satu sumber yang bagus: 


atau


Insya Allah persiapan terbaik dimulai sejak jauh-jauh hari. So… good luck for your dreams🙂

35 thoughts on “WASPADA sebelum memilih kuliah di luar negeri…

  1. Kata guru sejarah di SMP saya dulu:
    “Hakikatnya menuntut ilmu itu bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan cara yang berbagai macam, tiada batasannya… hanya kemudian manusia sendirilah yang membuatnya terbatasi… dengan pikirannya, dengan sistemnya, dengan ijazahnya, dan lainnya. Hingga kemudian manusia pun jadi sering lupa akan hakikat paling utama dari menuntut ilmu itu… yaitu seberapa besar ia mampu beramal dengan ilmu yang ia miliki :)…” Ganbare🙂

  2. Iya, banyak yang mengalami hal demikian. Mungkin itu salah satu hal yang menjadi alasan banyak generasi-generasi terbaik bangsa lebih memilih berkarier di luar negeri yang lebih menghargai potensinya dibandingkan di Indonesia yang birokrasinya begitu rumit🙂 Wallahualam…

  3. assalammualaykum,mau tanya mas,,klo yg gak tercantum berarti gak bisa disetarakan atau gimana mas.

    contohnya leiden university jurusan computer science tidak ada di daftar

    makasih mas,,

  4. Waalaikumussalam…

    Kabar terakhir yang saya tahu, sebenarnya penyetaraan dan pengakuan ijazah luar negeri bisa dilakukan dengan memenuhi syarat2 yang diminta oleh Dikti (mungkin di situs Dikti ada syarat2 yg dimaksud). Tidak adanya jurusan univ di luar negeri yang terdaftar di dikti, bukan berarti jurusan itu tidak diakui, namun bisa jadi karena belum ada lulusan Indonesia dr sana yang mendaftarkan ijazahnya ke Dikti untuk diakui/disetarakan.

    Proses pendaftarannya saya kurang tahu berapa lama jika sudah sampai di Dikti. Coba tanyakan ke Dikti aja ya🙂

  5. Terimakasih Infonya, hehehe, pingin ke University of Melbourne, di akui ndak ya? ranknya 50 besar padahal. Semoga bisa masuk ke sana amin🙂
    Makasih Pak Informasinya ya

    • Sebenarnya pengakuan suatu perguruan di luar negeri itu bukan berdasarkan peringkat universitas tersebut. Tapi sepertinya lebih kepada ada tidaknya lulusan dari Indonesia dari universitas tersebut. Pengakuan universitas di luar negeri dapat dilakukan dengan mengajukan permohonan kepada DIKTI dengan menyertakan dokumen yang dibutuhkan. Jadi tidak perlu khawatir jika sudah lulus dari universitas di luar negeri yang belum terdaftar di DIKTI, karena yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan verifikasi untuk penyetaraan Ijazah.

  6. Bagaimana jika suatu universitas belum terdaftar di Rekapitulasi Data Universitas Per Negara oleh dikti pada tahun ini, dan dari indonesiapun belum ada lulusan dari universitas tersebut… diperkirakan baru ada 1 lulusan dari universitas tersebut (belum terdaftar di dikti) pada 2018 mendatang..
    Apakah jika sudah ada lulusan dari universitas tsb, maka barulah universitas tersebut diakui oleh dikti?
    Atau tetap belum bisa diakui oleh dikti?
    Atau bagaimana penjelasan yang lain mengenai hal tersebut

    Terimakasih

    • Detail mekanismenya saya kurang tahu. Namun sepertinya pengakuan universitas atau penyetaraan ijazah luar negeri dilakukan jika ada lulusan luar negeri yang mengajukan permohonan penyetaraan ijazahnya. Jika di DIKTI universitas pemohon belum terdaftar sbg perguruan tinggi yang diakui oleh DIKTI, maka akan ada proses verifikasi yang dilakukan oleh DIKTI. Saat ini pemohon harus mengajukan dokumen-dokumen yang dibutuhkan oleh DIKTI.

      Silakan coba ke website DIKTI saja ya, misal: http://ijazahln.dikti.go.id/

  7. Assalamuallaikum. Maaf mas, kayanya salah deh. Kalo untuk pengakuan itu tergantung kantornya. Emang kalo mau kerja harus bilang2 sama negara dulu ya? Setau saya kalo kita belajar di negri orang jelas lebih baik. Apa gunanya ada pribahasa ” kejarlah ilmu sampai ke negri china ”
    Kita hidup di negara berkembang. Dan kita menuntut ilmu di negara maju. Jelas sudah keliatan istimewanya. Hanya aja orang2 yang syirik mempersulit kesuksesan orang. Disitu letak kesalahannya. Kalo bingung tinggal di terjemahkan ijasahnya. Dan bisa di survei languang ke benarannya ke kedubes negara yang bersangkutan.

    • Waalaikumussalam. Ini sebenarnya artikel lama yg saya tulis beberapa tahun silam untuk merespon kondisi yang ada waktu itu, mungkin sudah tidak up to date. Dan pengakuan/penyetaraan ijazah ini juga sebenarnya tidak ada kaitannya dg kualitas pendidikan yg kita dapatkan selama studi di luar negeri atau karena ada faktor iri atau lainnya. Prosedur ini sifatnya lebih ke birokrasi dan urusan adminitrasi saja.

      Secara umum memang betul pengakuan ijazah luar negeri tergantung dari tempat melamar pekerjaan. Misal perusahaan swasta dan sejenisnya mungkin tidak butuh yg namanya pengakuan dan penyetaraan ijazah dr DIKTI/instansi pemerintah.

      Namun bagi pelamar pekerjaan yang nantinya akan berstatus PNS, misal ingin jd dosen atau peneliti atau jenis pekerjaan lainnya di instansi pemerintah atau sejenisnya maka pengakuan/penyetaraan ijazah diperlukan, karena aturan yg ada ya seperti itu.

      Atau misalnya bagi mereka yg mendapat beasiswa dari pemerintah RI atau tugas belajar dr instansinya, maka melapor kpd negara atau melakukan penyetaraan ijazah itu sangat perlu. Di kedutaan Indonesia di Jepang misalnya, mahasiswa Indonesia perlu melaporkan proses belajarnya secara berkala. Sehingga tidak cukup dg menterjemahkan ijazah yang dimiliki saja, tp harus melalui prosedur yg ada di DIKTI. Ini ibarat melegalisir ijazah utk keperluan administrasi kerja, kenaikan pangkat dll. Sepertinya hal ini diberlakukan agar Ijazah yang dimiliki dapat diverifikasi kebenarannya, mengingat pemalsuan ijazah masih ada yang melakukan untuk keperluan tertentu.

      Prosedurnya mudah dan cepat kok sebenarnya dan gratis krn saya sudah melakukannya utk ijazah S2 dr Jepang. Dulu sewaktu tulisan di atas saya buat kondisinya mmg belum sejelas sekarang. Tp sekarang DIKTI sudah memberikan info detail mengenai prosedurnya secara lengkap di websitenya. Tinggal di “Google” saja.

      Jika misalnya, ada yang lulus dari luar negeri namun perguruan tingginya belum terdaftar/diakui di DIKTI, maka yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan verifikasi agar ijazahnya diakui dan dapat disetarakan. Tinggal melengkapi persyaratan yang diminta DIKTI dan sifatnya gratis kok kalau berdasarkan websitenya. Jika kita memang benar-benar menempuh studi dan lulus dari universitas di luar negeri, tentu tak ada yg perlu dikhawatirkan, bukan?🙂

  8. Terimakasih untuk Bpk. Danang atas informasi dan tulisan artikel lamanya. Sangat berguna sekali. Sukses untuk Bapak dan semuanya.

  9. salam,

    saya mendapatkan tawaran lanjut kuliah loncat langsung ke S3,,apakah ada kerugian atau hambatan ijasah loncat S3 ini jika digunakan untuk melamar dosen dan atau instansi penelitan sperti lipi.

    terimakasih.
    al-amin.

    • Mungkin info yang akan saya berikan ini sudah tidak update… sebaiknya dicross check langsung ke lembaga atau orang yang memiliki wewenang dan pengetahuan tentang ini. Ada beberapa cerita teman yang mengatakan bahwa program “loncat” studi seperti ini masih belum bisa diterima dalam sistem jenjang karir peneliti/dosen di Indonesia. Jikapun diterima bekerja, sepertinya akan mengalami hambatan dalam kenaikan pangkat. Tapi mohon hal ini dikonfirm ulang ke pihak yang lebih memiliki pengetahuan utk hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s