World Press Photo 2011 1st Winner in my thought…

Bissmillah…


Saya teringat akan tulisan lama di awal saya membuat blog ini tahun 2008 silam berjudul: “Gadis bermata hijau itu… masya Allah…” yang menceritakan pengalaman awal saya menaruh minat dengan dunia fotografi.

Mungkin sebagian besar dari pembaca sudah pernah melihat foto gadis Afghanistan dengan tatapan mata yang tajam ini, karena foto ini pernah menjadi sampul majalah National Geographic edisi April 1985 (saya bahkan belum genap 1 tahun umurnya kala itu hehehe). Fotonya memang “epics”… terkesan istimewa dengan berjuta makna yang ingin disampaikan baik oleh sang fotografer maupun sang gadis bermata hijau itu. Lebih jauh tentang kisah gadis bermata hijau bersama Tim National Geographic bisa rekan-rekan baca di sini:


***

Beberapa waktu lalu ketika melihat pengumuman salah satu lomba foto paling prestisius di dunia: World Press Photo 2011… saya kembali “tersentak” dengan foto pemenangnya yang menyuguhkan kembali nuansa yang saya rasakan ketika pertama kali melihat foto gadis Afghanistan bermata hijau di atas. Kali ini pemenang World Press Photo 2011 juga menampilkan sosok perempuan Afghanistan sebagai objek utamanya, namun dengan “kisah” kesedihan yang berbeda… 

Perempuan berusia 18 tahun itu bernama Bibi Aisha. Ia mencoba kabur dari rumah suaminya untuk kembali ke rumah keluarganya. Hingga suatu malam sekelompok Taliban meminta keluarganya untuk menyerahkan Bibi Aisha untuk diadili atas perbuatannya itu. Setelah komandan Taliban membacakan hukumannya, sang suami menyayat telinga dan memotong hidung Bibi Aisha dan menelantarkannya begitu saja.

Petugas bantuan kemanusiaan dan militer AS yang menemukannya kemudian membawanya ke kamp pengungsi di Kabul untuk pemulihan kondisi. Beberapa saat setelah itu mereka membawanya ke Amerika untuk pemulihan psikologis dan operasi rekonstruksi wajah. Sejak saat itu Bibi Aisha, tinggal di Amerika Serikat.


Foto di atas diambil oleh fotografer Jodi Bieber (ada hubungan keluarga ga ya dengan Justin Bieber…???), asal Afrika Selatan yang bekerja untuk majalah Time. Bersama foto itu juga diumumkan pemenang kategori lainnya yang beberapa objeknya berasal dari Indonesia, meski fotografernya sepertinya bukan dari Indonesia.


Untuk foto-foto pemenang World Press Photo 2011 bisa dilihat di sini: 


***

Terlepas dari kompetisi World Press Photo 2011 tersebut dan apa alasan juri memilih foto tentang Bibi Aisha sebagai pemenang… ada satu hal yang membuat saya berpikir cukup lama.

Pertama, mengapa pemenang kompetisi foto internasional tentang kemanusiaan biasanya adalah foto-foto tentang korban perang, bencana alam, atau kekerasan dan kesedihan? Apakah manusia lebih tertarik dengan “dramatisasi” kehidupan yang penuh kesedihan, kemarahan, dan kegelapan?

Hingga saya teringat seorang fotojurnalis pernah berkata:
“Foto saya akan dihargai tinggi dan dicari jika saya memotret seorang bocah dengan wajah sedih atau marah… tapi foto saya tidak berharga dan tidak akan dilirik sedikitpun oleh editor dan redaksi kalau isinya adalah tentang anak-anak berwajah ceria penuh canda bahagia… It’s all about money first…”

Kedua, saya melihat dengan ditampilkannya foto ini, maka pencintraan Taliban dan mungkin juga Islam jadi kurang baik. Mungkin orang jadi akan bertanya:
“Oh… jadi begitu ya Taliban? Jadi begitu ya Islam menghukum perempuan yg kabur dari rumahnya?” Pertanyaan yang sudah terkesan merujuk pada tuduhan dan pemakluman.

Dan bukannya bertanya:
“Benarkah Islam demikian? Benarkah Taliban demikian?” Sebuah pertanyaan yang memang bertujuan untuk mendapatkan jawaban dan konfirmasi akan kebenaran.

Kalau saya melihat dari pandangan pribadi foto tersebut bisa mengarahkan opini publik tentang sebuah “isu” yang memang sangat hangat di dunia sejak beberapa kurun waktu terakhir: ISLAM, Taliban, Afghanistan, Teror, Kekerasan dll…

Hal ini bisa dilihat dari beberapa komentar yang disampaikan pengunjung Web yang menampilkan foto Bibi Aisha sebagai pemenang World Press Photo 2011, semisal:

“…Muslim brutality, how can a man could do that to his wife…” yang kena adalah “MUSLIM”-nya…

Bukankah (kalo boleh saya bertanya dengan dugaan…) foto dan cerita dibalik foto itu kemudian terkesan memberikan gambaran positif bahwa keberadaan tentara Amerika dan sekutunya di Afghanistan adalah sebuah kebenaran… bahwa keberadaan mereka di sana adalah untuk menciptakan kedamaian dan membawa keamananan bagi rakyat Afghanistan dan dunia ? 

Terlebih lagi ketika menjadi sampul depan majalah TIME, dengan judul: “What Happen if We Leave Afghanistan?” yang mencoba menggiring opini publik bahwa keberadaan tentara koalisi Amerika di sana memang diperlukan, dan akibat buruknya jika mereka pergi dari Afghanistan sekarang.


Mengapa jarang sekali atau bahkan tidak pernah sebuah lomba foto kemanusiaan yang jadi pemenangnya adalah mereka yang menampilkan kekejaman tentara Amerika dan sekutunya di Irak? di Afghanistan? atau tentara Israel dengan warga Palestina? Atau bagaimana dengan relawan Marvi Marmara yang tewas tertembak? Padahal hal-hal itu nyata adanya dan benar-benar terjadi… dan tentu tak kalah dramatisnya…

Ah entahlah… saya hanya penikmat foto biasa…  yang seringkali lebih pandai berkomentar dibandingkan memotret momen terbaik dengan kamera. Ini hanyalah pendapat pribadi semata… anyway…

Saya jadi kembali teringat sebuah ungkapan:… “a photograph can tell thousands of words”

Okinawa-Negeri Taifun

8 thoughts on “World Press Photo 2011 1st Winner in my thought…

  1. foto yg paling atas baru saja saxa lihat di majalah NG di tobe (toko buku bekas) pas liat itu saya inget pernah liat. eh ternyata waktu itu pernah sy liat di salah satu postingan mas danang yg lama. wew dan skarang terlihat lg. what a coincidence. tp jd serem liat perempuan itu

  2. sama, saya juga kek gitu…. penikmat foto saja
    hmm tapi yang jelas suatu foto itu ada untuk menceritakan dan dihargai dengan apresiasi yang tepat, bukan hanya demi penghargaan semata

  3. photo itu bagian dari berita…
    berita itu tergantung opini apa yg akan diharapkan dalam pemberitaan itu…
    so photo yang dianggap baik jg tergantung dari siapa penyelenggara… dan pesan apa yg diharapkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s