Konferensi ilmiah ke luar negeri? Pikirkan kembali!

NOTE: Saya sangat mengapresiasi berbagai tanggapan dan komentar yang diberikan terkait tulisan ini. Cukup terkejut juga ketika tulisan yang sudah lama “dilupakan” ini muncul kembali. Tulisan ini saya buat 2011 silam dan konteksnya dibuat mengikuti trend dan kondisi pada waktu itu sehingga bisa saja tidak lagi up to date dengan kondisi dan trend di masa sekarang. Tapi setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan alternatif. Mohon diingat, tulisan ini dan juga sebagian besar tulisan lain di blog ini sifatnya sangat subyektif karena berdasarkan dari sudut pandang dan pengalaman saya pribadi (kecuali tulisan-tulisan yang sifatnya adaptasi dari orang lain), sehingga harapannya perbedaan dalam penilaian isi / pesan tulisan dapat disampaikan dengan tetap mengedepankan kesopanan dan kesantunan dalam berkomunikasi. Silakan diambil manfaatnya jika dirasa ada gunanya.

Beberapa waktu terakhir saya jadi cukup sering mendapatkan email dari mahasiswa di tanah air yang intinya adalah meminta saran atau bantuan kepada saya mengenai keinginannya untuk bisa ikut konferensi internasional di luar negeri khususnya: Jepang. Kendala yang mereka hadapi adalah sama: GAK ADA DANA untuk berangkat. Well… tulisan kali ini saya akan sedikit membahas mengenai fenomena: Bisa ikut konferensi di luar negeri itu keren… benarkah demikian?

Mungkin nantinya akan ada pro atau kontra terhadap tulisan saya ini. Bagaimanapun itu sekiranya menanggapinya dengan kepala dingin dan bijaksana, karena tulisan ini juga hanyalah buah pemikiran saya pribadi yang sejak dari dulu ingin saya sampaikan.

 So… mari kita mulai… Bissmillah…

 Apa yang tercetus dalam benak Anda (khususnya mahasiswa S1 di tanah air, apalagi yang aktif di organisasi keilmiahan di kampusnya), ketika membaca sebuah poster atau informasi dengan judul: CALL FOR PAPER ? Atau “undangan” untuk menghadiri dan mempresentasikan tulisan di konferensi ilmiah di LUAR NEGERI?

 Bagaimana perasaan Anda ketika tulisan abstraksi yang Anda kirimkan diterima sebagai salah satu peserta konferensi tersebut? Bahagia itu sangatlah wajar tentunya.  Tapi tahukah Anda, untuk bisa diterima sebagai presenter di sebuah konferensi ilmiah itu sebenarnya cukup “mudah”.

 Sayangnya, banyak mahasiswa S1 di tanah air yang seringkali salah kaprah dan selalu menanggapi sebuah “undangan konferensi ilmiah” misalnya poster Call for Papers sebagai sebuah ajang kompetisi perlombaan layaknya Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), PIMNAS, Mawapres, dan lainnya… padahal pada kenyataannya tidak selalu! Alhasil, banyak yang ketika tulisannya “diterima” oleh panitia sebagai salah satu presenternya, mereka berpikir bahwa mereka adalah orang-orang special yang terpilih… para juara atau pemenang… padahal bisa saja tidak demikian.

 Secara garis besar, saya membagi jenis ajang konferensi ilmiah menjadi dua. Yang pertama, konferensi ilmiah yang sifatnya memang untuk kompetisi dan perlombaan. Yang nantinya akan jelas ada pemenang atau juaranya. Misalnya PKM pada ajang PIMNAS, LKTM, atau ajang penulisan ilmiahnya.

 Yang kedua, ajang konferensi ilmiah yang tujuannya adalah murni sebuah seminar atau “kuliah” dari masing-masing pesertanya yang bertujuan untuk saling berbagi informasi atau melaporkan kemajuan tentang bidang yang tengah ia teliti dan tekuni. Tak ada pemenang atau juara di sini, karena memang sifatnya bukanlah sebuah kompetisi. Jikapun ada “kompetisi” maka sifatnya adalah kompetisi dalam hal kemajuan hasil penilitian, bukan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Nah, konferensi ilmiah jenis kedua inilah yang paling sering diadakan di dalam dan luar negeri, dan sering salah kaprah dimengerti oleh mahasiswa sebagai ajang perlombaan.

Apa yang membedakan keduanya? Berdasarkan pengalaman saya, perbedaan utama adalah mengenai proses seleksi tulisan yang nantinya bisa ikut atau tidak dalam masing-masing ajang tersebut. Pada konferensi ilmiah jenis kompetisi, tidak semua calon peserta yang mengirimkan tulisannya akan diterima sebagai peserta konferensi. Ada mekanisme seleksi dari panitia, karena memang tujuannya adalah untuk menentukan yang terbaik sebagai pemenangnya. Biasanya konferensi yang sifatnya kompetisi seperti inilah yang dulu sering saya cari… selain bisa untuk “menantang” dan mengukur kemampuan diri dan belajar dari para competitor lainnya … juga karena transport dan akomodasinya akan ditanggung oleh panitia.

Nah, untuk jenis konferensi ilmiah yang tujuannya adalah murni untuk “melaporkan” kemajuan hasil penelitiannya, hampir seluruh calon peserta yang mengirimkan abstraksi tulisannya akan diterima sebagai pesertanya, selama memang sesuai dengan tema konferensi yang diberikan panitia. Karena tidak ada dan tidak perlu untuk menentukan siapa pemenang dalam ajang tersebut. Anda tidak percaya? Silakan Anda mencoba mengirimkan berbagai tulisan abstraksi Anda yang sesuai dengan tema konferensi kepada panitia yang menyebarkan “undangan”: Call For Papers… insya Allah… kemungkinan besar Anda akan diterima sebagai pesertanya… paling tidak demikian yang pernah sering saya coba…

Masing-masing peserta diberikan haknya untuk melaporkan kemajuan hasil penelitiannya dan bertanggungjawab penuh terhadap hal tersebut selama presentasinya. Atau dalam hal ini… baik atau kurang baiknya hasil penelitiannya ditentukan oleh peserta lain yang hadir dalam presentasinya. Dengan kata lain… jika tulisan Anda hanyalah tulisan yang berbasis studi pustaka atau menggunakan data sekunder dan bukan murni hasil penelitian Anda… hmm… siap-siap saja untuk “tidak mendapat tanggapan dari orang lain” atau lebih parah… Anda akan “dibantai” habis-habisan di sebuah forum ilmiah internasional tersebut…

 So, penting sekali untuk bisa membedakan kedua jenis konferensi yang saya maksud di atas… dan bukan sekedar ingin berpartisipasi di dalamnya karena alasan klasik “sekedar mencoba dan cari pengalaman”… semuanya perlu disiapkan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pengalaman terbaik pula.

 Perbedaan yang kedua adalah mengenai “transportasi dan akomodasi”-nya. Untuk konferensi yang bersifat kompetisi, biasanya panitia akan menyiapkan sebagian atau seluruh transportasi dan akomodasi selama berlangsungnya acara. Jadi peserta yang lolos hanya perlu menanggung sebagian biaya atau bahkan tidak perlu sama sekali membayar apapun untuk ajang konferensi. Hal ini wajar karena pesertanya adalah mereka yang terpilih dan biasanya jumlahnya tidak terlalu besar sehingga panitia masih bisa menanggung transportasi dan akomodasinya.

 Sementara konferensi ilmiah yang sifatnya adalah seminar dan pesertanya terbuka untuk semua orang tanpa seleksi yang seketat kegiatan kompetisi, biasanya transportasi dan akomodasinya ditanggung oleh peserta sendiri. Hanya kadang panitia membantu mencarikan info mengenai transport dan akomodasi. Hal ini wajar, karena yang perlu untuk “melaporkan” hasil penelitiannya adalah peserta itu sendiri. Panitia hanya memfasilitasi untuk keperluan pelaporan hasil kemajuan penelitian tersebut. Bagi seorang ilmuwan, konferensi ilmiah seperti ini memang diperlukan agar ia mendapatkan masukan dan info terbaru tentang berbagai penelitian yang berkaitan dengan bidangnya. Sehingga mengeluarkan uang dari sakunya sendiri bukanlah suatu kendala.

 Namun, seringkali transportasi dan akomodasi inilah yang kemudian menjadi “masalah” bagi peserta yang sebelumnya sudah salah kaprah dalam euphoria karena beranggapan bahwa dirinya sebentar lagi akan bisa ke luar negeri untuk mewakili universitas atau Indonesia dan berpartisipasi dalam ajang konferensi internasional. Gengsi… itulah awal dari timbulnya masalah!

 Akhirnya… ia sendiri kebingungan mau cari uang kemana? Ngajuin proposal ke sana-kemari… atau bahkan sedikit ngotot “minta atau nagih bantuan” padahal tak jarang justru waktu kuliahnya terabaikan untuk mengatasi masalah ini. Untuk mereka yang bertanya kepada saya, bagaimana mencari sponsor untuk ikut sebuah konferensi… jujur saya tidak tahu caranya, karena saya sendiri belum pernah mengajukan proposal untuk keperluan konferensi. Biasanya saya mengandalkan dana dari kampus atau panitia… sekiranya tak ada dana untuk berangkat… saya tak akan berangkat. Mungkin saya termasuk orang yang “MALAS” mencari dana melalui proposal ke sana kemari… tapi ya begitulah saya🙂

 Jika uang bukanlah masalah… tentu hal seperti ini tak akan jadi masalah besar bagi Anda. Salahkah jika kemudian berusaha mencari DANA untuk ikut dalam konferensi ilmiah? Well, saya tidak bisa menyalahkan atau membenarkan karena… ada yang menganggapnya: “Namanya juga usaha, Mas…” semuanya dikembalikan pada masing-masing individu.

 Tahukah Anda, konferensi ilmiah yang diadakan di luar negeri itu bisa saja sebenarnya levelnya sama dengan konferensi atau seminar ilmiah yang banyak diadakan oleh BEM atau berbagai kelembagaan di kampus-kampus di Indonesia… hanya kebetulan saja konferensi yang di luar negeri itu menang di: “LUAR NEGERI”-nya… “PUBLIKASI BAHASA INGGRIS”-nya… atau menang karena ada nama-nama  “ASING” sebagai undangan atau keynote speakernya…

 Well… di akhir tulisan ini saya hanya ingin kembali menegaskan, bahwa sifat tulisan ini hanyalah masukan alternatif yang saya ambil dari sudut pandang lain, Anda boleh saja berbeda pikiran dengan saya, tak ada salahnya. Yang jelas pikirkan kembali urgensi perlunya Anda ikut sebuah konferensi ilmiah di “luar negeri”… Jika uang bukanlah kendala, misal karena Anda punya tabungan yang cukup atau kampus Anda yang membiayai, maka tentu tak terlalu perlu Anda merasa risau… namun sekiranya  kemudian Anda harus pontang-panting mencari dana untuk transport dan akomodasi… pikirkan kembali apakah usaha itu akan sesuai dengan hasil yang Anda dapatkan nantinya atau tidak… 

 Pikirkan pula… apakah materi yang akan Anda presentasikan nantinya memang layak dipresentasikan… dalam artian misalnya: Materi presentasinya memang merupakan data asli (primer) dari hasil penelitian yang Anda lakukan sendiri… Jangan sampai di sana nantinya justru “malu-maluin” karena materi presentasi kita yang tak sesuai dengan level yang diharapkan panitia…

 Jangan sampai Anda berangkat ke sebuah konferensi ilmiah di luar negeri dari dana orang lain dan dengan ekspektasi yang terlampau “tinggi” namun sekembalinya ke tanah air… Anda jadi semakin terbebani dengan bagaimana bertanggung jawab terhadap dana yang Anda dapatkan itu… apalagi jika sampai bermasalah dengan administrasi kuliah Anda sendiri… (Pengalaman pribadi soalnya hehe)

So, sebelum kegirangan dan jingkrak-jingkrak karena nama kita ada di daftar peserta konferensi ilmiah dan menganggapnya sebagai sesuatu yang terlampau wah (padahal bisa saja itu hal yang biasa saja) ada baiknya melihat dan mempertimbangkan berbagai hal yang berkaitan dengan konferensi ilmiah tersebut.

Saya tidak bermaksud secara sengaja membuat down mereka yang sudah larut dalam euforia dan semangat, karena semangat untuk melakukan sesuatu yang baru dan menantang diri itu memang diperlukan. Saya pula tak menentang mereka yang berusaha mati-matian mencari sponsor untuk ikut sebuah konferensi ilmiah, itu terserah pada masing-masing individunya… hanya saja… jika sampai salah kaprahnya kebablasan… jadinya kadang saya ikut geregetan. Karena pada akhirnya jika semua jerih payah itu hanya untuk menambah panjang daftar CV semata… sungguh rasanya kok ya kurang sepadan… wallahualam…

Pertimbangkan dan rencanakan dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan hasil yang terbaik🙂

 Sekiranya ada kata-kata yang kurang berkenang, saya mohon maaf sebelumnya… Semoga bermanfaat.

 Ganbarou!!!

 

57 thoughts on “Konferensi ilmiah ke luar negeri? Pikirkan kembali!

  1. Sebenarnya tulisan di atas saya tulis sebagai sebuah “kritik” dan masukan bagi mereka yang sering salah kaprah menganggap konferensi ilmiah sebagai sebuah ajang “kompetisi” dan seringkali “berlebihan” menanggapinya sebagai sebuah “prestasi wah” ketika abstract tulisan kita diterima di sana, padahal bisa saja tulisan kita baru dibuat beberapa hari sebelumnya, sementara peserta lainnya adalah para ilmuwan yang sudah bekerja lama dengan penelitiannya.

    Saya sendiri belum pernah mengajukan proposal travel grant untuk keikutsertaan dalam konferensi ilmiah, biasanya dulu ketika masih S1 saya hanya mencari panitia konferensi yang bisa menyediakan sebagian atau seluruh transport dan akomodasi, meski dengan itu seleksinya bakal ketat. Jadi saya sendiri kurang tahu “kemana” harus mencari travel grant, yang terpikirkan adalah: Ajukan ke Universitas, saya rasa setiap universitas punya dana untuk mendukung aktivitas mahasiswanya!

    Selama S2 di Jepang, Lab saya memiliki dana riset yang di dalamnya juga termasuk travel grant. Jadi jika ingin ikut konferensi sudah jauh2 hari saya daftarkan rencana saya untuk ikut serta dalam konferensi ilmiah, dengan catatan saya harus memulai riset minimal 3 bulan sebelumnya, dan itu juga harus melalui tahap screening dari Professor apakah riset saya bagus atau tidak. Tapi bagi mahasiswa S2 di sini, ikut konferensi ilmiah adalah suatu kewajiban… mau ga mau jadinya harus serius dengan penelitiannya.

  2. Gotcha! Akhirnya saya nemuin juga tulisan dngn tema ini… Hehe… Awalnya terbesit juga pengen nulis ttg pandangan ikut konfrensi ilmiah setelah beberapa waktu lalu anak-anak di kampus heboh banget perilah kelolosannya di suatu konfrnesi yg diadakan di jepang. Kira2 smpe 40 orang. Dan kalo dipikir-pikir pastilah kampus tidak akan beri dana untuk semua yg lolos, akhirnya satu persatu perserta mengurungkan niat untuk ikut konfrensinya. Dan yg tetep ingin ikut sebagian besar menggunakan tabungan pribadinya.

    Terkait dengan pengalaman pribadi juga. Pernah merasakan hal yg sama, lolos seleksi abstrak, dan memang euforianya luar biasa, kemudian, cari dana ke sponsor dan jujur, walau sudah rajin mencari tetep gak dapet juga… Haha… Alhasil dengan kebaikan kampus yg membantu kami ditambah harus merelakan uang tabungan juga, kami pun berangkat. dan tahukah, saat disana, sungguh sangat merasa malu, walau sebenarnya paper yg saya kirimkan hasil penelitian, tetapi tetap saja merasa masih cupu hehe, apalagi yg berani brngkt hanya dngn paper hsil studi pustaka🙂. Tak menyiakan kesempatan, saya brusaha ambil ilmu sebanyak2nya, agar tidak merasa sia-sia dtng ksana…

    Intinya sih, yg berkesmpatan untuk pergi, jngn sia-sia kan pengalaman itu untuk mendapat ilmua sebanyak-banyaknya, dan juga bs mempertanggungjwabkan kontibusi stalah pulang drisana, krn saya merasa perjalanan itu sama dengan plesiran atau studi banding pejabat-pejabat yang menggunakan uang rakyat🙂 (kalo dapet dana dari sponsor)
    Dan kalau belum berkesempatan, maka jangan kecil hati, karna masih buanyaak, event lain yg lebih worth it, dan gak perlu keluarin duit banyak-banyak🙂

  3. jadi inget saat pertama kali kirim abstrak ke luar dan diterima, emang bener sih kak, rasanya seneng banget, tapi akhirnya blingsatan cari duit bareng temen, haha. Kalo sejenis Youth forum itu gimana? itu kan seleksi juga kak, tapi transportasi kan ditanggung kita.. bahkan ada yg juga harus bayar semuanya dari mulai transport sampe selama acara..

  4. Tergantung juga Youth Forum yang mana… misal Bayer Ecomind Youth Forum 2009 silam, selain melalui seleksi… biaya seluruhnya ditanggung oleh panitia. Seperti yang saya juga sebutkan… niat dan tujuan adalah hal pertama dan utama dalam menentukan apakah ingin ikut atau tidak. Sekiranya sangat penting sekali… dan Anda punya dananya tentu ga masalah🙂

  5. Kenapa dengan Perguruan Tinggi Kedinasan mbak? Soalnya saya sendiri kurang familiar dengan PTK yang sepertinya punya sistem manajemen sendiri dan berbeda dengan perguruan tinggi non kedinasan.

  6. Setuju dengan tulisan ini. Kebetulan saya sudah pernah ke Jepang dan Thailand karena konfrensi internasional. Memang benar kalau waktu banyak tersita karena mengajukan proposal kemana-mana. Tapi satu hal yang saya dapat adalah pengalaman keluar negeri, berbagi ilmu dengan orang2 yang lebih berilmu dan menjadi lebih tau perkembangan teknologi di luar indonesia. Contohnya saja ketika saya di Jepang saya membawa topik mengenai Nanopartikel dengan berbagai metodologi dan pengujian yang dianggap valid di Indonesia namun ketika saya presentasikan di Jepang beberapa peserta memberitahukan saya bahwa metodologi yang saya digunakan ternyata sudah jadul dan sudah tidak dipakai lagi di Jepang. Saya juga menjadi lebih tau metodologi serta alat-alat barru yang ada di Jepang yang memang tidak ada di Indonesia. Contohnya saja jenis mikroskop yang dipakai, spektro dll.
    Saya sarankan cari konfrensi yang diadakan oleh Universitas karena biasanya akan diajak keliling lab, ada study tour jadi akan menambah pengetahuan kalau diadakan oleh pihak yang bukan universitas mah tidak terlalu menambah ilmu malah uang pendaftarannya gede banget.
    Saya pribadi sangat tertarik mengikuti konfrensi bukan karena gengsi tapi target saya sih selama kuliah tidak mau stuck di kampus dan Indonesia saja hehehehe
    Paling tidak selama saya keluar negeri saya sudah mendapatkan beberapa informasi serta kontak dosen dibeberapa universitas luar negeri khususnya di Jepang sehingga kalau nantinya mau melanjut S2 keluar negeri sudah punya calon advisor🙂

  7. Insightful article.

    Bermanfaat sekali untuk yang sedang berburu pengalaman untuk bisa keluar negeri, agar bisa memilih-milih kesempatan pergi ke LN yang paling banyak manfaat vs usahanya.

  8. Konferensi itu…. ada yang abal-abal… ada yang beneran bergengsi…
    Yang abal-abal… biasanya dipakai buat ajang jalan2 professor dan mahasiswa bimbingannya. Dan bukan pakai duit pribadi tentunya.

    Yang bergengsi tentu beda level lah.

    Nah, kalau “terlalu” nafsu buat itu, ya monggo :))

    Tulisan yang bagus.

  9. Memang benar sih apa yang ada di artikel. Saya mengalaminya. tetapi tergantung juga, Alhamdulillah saya selama keluar negeri di biayai Perusahaan sponsor, terkadang dari Pemda saya. nah, Prinsip saya adalah Kalau ada uang berangkat tapi kalau tidak ada uang jangan coba-coba berangkat. Alhamdulillah beberapa negara sudah di arungi dan orangtua hanya membantu membeli jas saja. sedangkan ongkos akomodasi dan lainnya dapat dana sponsor. sekarang saya hanya Hunting program full scholarship untuk short-term dan lebih asik kalau dapat full biaya dari penyelenggara hal ini telah saya rasakan. jika teman-teman ingin ingin keluar negeri gak masalah tetapi jangan semua program harus di ikuti. selektif dan banyak memberikan kontribusi besar untuk diri sendiri dan kampus.

  10. setujuuu😀 pengalaman pribadi juga soalnya. pertama ikut conference, jauh dan hasilnya pulang kecewa karena acaranya tidak seperti yang saya bayangkan. tapi selanjutnya jadi ngerti bagaimana caranya supaya bisa selektif dalam memilih conference. nice share (y)

  11. Tulisan yang menarik😀

    Anw, tempo hari saya sempat membaca tulisan di blog seseorang tentang anggapan sebagian banyak orang indonesia bahwa pergi ke keluar negeri (entah itu bekerja, sekolah, dll) dapat mengubah nasib seseorang dari sebelumnya bukan siapa2 menjadi lebih apa-apa. Beliau beranggapan bahwa itu salah kaprah. Pergi keluar negeri itu hanya instrument saja. Selebihnya bergantung pada usaha kita disana. Dan hukum usaha itu sama saja mau di luar negeri atau di dalem negeri, siapa yang bekerja keras dia bakal sukses. Bahkan menurut saya pada beberapa kasus, bekerja di luar negeri lebih membutuhkan usaha lebih keras karena parameter persaingannya lebih banyak lagi, misal bahasa, budaya, dll. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa, pergi keluar negeri tidak membuat saya hebat, hanya membuat terlihat hebat. Yang tahu beneran hebat atau tidaknya itu bukti di lapangan nanti.

    Ngomong2 soal konferensi di luar negeri. Kalau untuk keluar negeri harus dengan konferensi yg sangat kompetitif, pasti butuh waktu penelitian yang lama, butuh mikir yang ribet-ribet dan seterusnya. “Yah kalau gitu kapan keluar negerinya dong?”, “padahal kalau ada cara keluar negeri dengan cara yang lebih mudah kenapa nggak pakai cara itu aja?” “yaa modal duit sama malu lebih aja”. Seperti itu kali ya pikiran2 yang muncul dari conference hunter selama ini. Kenapa bisa seperti itu? Menurut saya itu konsekuensi dari besarnya keinginan seseorang untuk keluar negeri. Itu saja. Dan itu sah2 saja selama tidak mengorbankan hal lain yang sifatnya lebih penting. Misal, mengorbankan waktu Tugas Akhir demi cari2 dana kesana kemari (self talk, haha). Ya begitulah, pada akhirnya kita yang tahu suatu kegiatan pantas diikuti atau tidak.

  12. Haha, awesome blogpost, senyum-senyum sendiri bacanya, karena kebanyakan yg comment para conference hunter yg gag mau disinggung demikian, Well, memang pahit bacanya, tapi bukankah semua obat itu pahit ?
    Memang hal-hal seperti ini yg mesti lebih dipromosikan, kesadaran untuk “menghargai” diri sendiri lebih tinggi, kesadaran untuk tidak mengejar sesuatu demi gengsi belaka, dan kesadaran untuk sabar, keluar negeri bakal gampang kok.
    1. Kesadaran untuk menghargai diri sendiri, waktu kita berharga, diri kita berharga, kecerdasan kita berharga, kalau mereka memang mau menghargai, mereka pasti mau bayarin full dong.
    2. Kesadaran untuk tidak mengejar sesuatu demi gengsi, kalau mahasiswa udah keluar negeri hebat dong, keren dong, pintar dong, kuereeennnnnnn buanggetttt dong, gengsi dong, maka gakpapa dong kalau mengeluarkan uang jutaan minta sana sini (termasuk ortu dan kuras tabungan) demi gengsi itu tadi. Sama aja kayak ABG alay yang beli Iphone demi gengsi ama temen2nya aja dong, padahal cuma dipake buat Angrybird-an, sama WA-an, BBM-an, Line-an ama temen yg itu2 aja.
    3. Kesadaran untuk sabar, kalau masih S1 sabar, belajar yang tekun, praktek nyata, penelitian, bikin usaha, bikin karya, bikin sesuatu yang bermanfaat, kembangkan skill, bangun networking kuat, ada waktunya nanti kalau udah S2, atau kerja dengan professional bakal buanyakk bgt kesempatan buat keluar negeri, kemana-mana dibayarin, ditanggung transportnya, dikasih uang jajan, dan banyak hal menyenangkan lainnya, asal sabar, hehe.

    But, buat para Conference Hunter sekalian jangan khawatir, kalian tetap hebat kok, serius deh, karena sudah jalan-jalan kesana kemari, yang CV-nya udah ada nama berbagai negara, yang kenalan di Facebooknya dari berbagai macam negara, yg sering buat status bahasa asingnya udah sampe 7 bahasa. Secara pencitraan, kalian luar biasa, secara real, hmm, well, let’s we see later🙂

    Regards
    Just another fool mind

  13. Tulisan yang bagus mas, tetapi berdasarkan pengalaman saya mengikuti conference luar negri, untuk mencari sponsor/bantuan dana bukanlah perkara sulit, tinggal memberikan proposal, follow up by phone/e-mail (tidak membuang waktu perkuliahan), dilihat dari sisi positifnya bisa nambah pengalaman keluar negri make duit sendiri udah gitu ga ngabisin duit orang tua malah pulang-pulang duit bisa lebih dari sponsor. jadi gaada salahnya mau ikut conference yang kyk gimana pun, karena yg namanya pengalaman mahal harganya

    • Seperti yang saya sampaikan di tulisan di atas, semuanya dikembalikan kepada pribadi masing2. Pastinya setiap orang lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Tulisan ini bertujuan memberikan alternatif sudut pandang yang berbeda tentang konferensi di luar negeri. Bukan untuk justifikasi mana yang benar dan mana yang salah. Pada kondisi Mas Danang W., mungkin saja tidak sulit mencari sponsor, tapi bisa jadi bagi sebagian yang lain kondisinya berbeda.

      Mungkin perlu saya sampaikan latar belakang tulisan ini dibuat. Antara tahun 2010-2011, ada sekitar 50-an orang yang mengirim email kepada saya dan meminta bantuan mencarikan dana konferensi. Tidak sedikit yang meminta dana itu langsung dari saya, dengan dasar: saya alumni kampus yang sama dengan mereka atau sedang studi di negera tempat konferensi itu berlangsung atau mereka ngotot bahwa ini adalah kesempatan yang sayang dilewatkan untuk bisa keluar negeri sehingga “HARUS” pergi dengan cara apapun (alasannya gak relevan). Ditambah lagi pada masa itu (mungkin juga sekarang), masih banyak yang menganggap konferensi ke luar negeri adalah ajang “kompetisi” atau “perlombaan” (padahal kenyataannya tidak selalu demikian). Tentu saja saya juga bingung kalau harus menyediakan dana yang mereka butuhkan, karena memang ya gak punya alokasi dana untuk hal seperti itu. Biasanya, kemudian saya sarankan mencari sponsor lewat perusahaan atau lembaga. Namun saya sendiri juga tidak punya pengalaman mencari dana lewat sponsor sehingga tidak tahu bagaimana kiat2nya. Saran yang saya berikan selanjutnya adalah bertanya kepada mereka yang “mudah” dan sudah pernah mencari sponsor untuk kegiatan konferensi. Karena terus menerus menerima E-Mail serupa, akhirnya tulisan ini saya buat agar rekan-rekan yang lain bisa membaca dan mendapat pencerahan.

      Mungkin Mas Danang W. yang punya pengalaman mencari sponsor untuk konferensi di luar negeri dengan mudah bisa membuat tulisan panduan bagaimana caranya mendapatkan sponsornya, sehingga rekan2 yang membutuhkan bisa belajar dari kiat-kiat yang Mas Danang W. tempuh. Ataupun jika bisa, Mas Danang W. sendiri memberikan sponsor kepada mereka yang membutuhkan🙂

      Anyway… saya tidak menyalahkan pilihan ikut konferensi ke luar negeri karena setiap orang pasti punya alasan dan tujuan masing2. Ini hanyalah pendapat pribadi saya… bisa benar… bisa juga salah🙂

    • iya mas, tpi menurut pengalaman cari dana dari sponsor buar conference itu susah banget apalagi rata2 waktunya yang mepet

  14. Meskipun sifatnya subyektif, tulisan ini sangat menarik. Perlu dibaca oleh para conference hunter yang masih aktif sebagai mahasiswa (terutama S1) untuk lebih selektif memilih konferensi agar mereka tidak menyia2kan waktu kuliahnya. Mendapat pengalaman di luar negeri memang berharga, namun membekali diri dengan pemahaman mendasar akan bidang ilmunya (yg didapat di kelas kuliah) itu penting.
    Notes: komentar saya ini juga sifatnya subyektif

  15. Pingback: My Blog activity of 2013 in review… | Walking the Earth

  16. kebanyakan sih yang masih kuliah pada semester awal2 itu…pada hunting cari konferensi ilmiah,rebutan malahan.. dan ternyata memang tidak selektif, imbasnya ya, para hunter tersebut dinilai sebagai orang spesial..
    Dan saya sedikit mengalami “konferensi ilmiah” tersebut
    terakhir kawasan SAHEL, Afrika..
    itupun dari dosen saya yag melihat “paper penelitian” saya tentang Mitigasi bencana Desertifikasi di Sahel yang akhirnya di teruskan ke UNDP (United Nation Development Program).
    melihat dari tulisan mas, disini saya menangkap bahwa kurangnya selektifitas dr para pencari tsb.
    alangkah baiknya dari pengalaman saya, sebelum mencari lebih bagusnya adalah dengan menguji penelitian kita.perkuat dasarnya dan cari tahu sedetailnya tentang konferensi tsb

  17. Saya setuju sekali dengan tulisan ini, dan sudah pernah membuktikan sendiri betapa gampangnya menjadi pesera sebuah konferensi Internasional dengan mengirim abstrak tulisan saya.
    Dulu saya juga sempat berpikir kalau konferensi di luar negeri itu sangat bergengsi dan apabila kita bisa menjadi pesertanya maka kita juga bisa dibilang keren. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kita bayar loh dan biaya registrasinya pun cukup mahal untuk kantong mahasiswa yang biasa saja seperti saya apalagi melihat bahwa mereka bahkan tidak menyediakan akomodasi untuk kita tinggal. Dulu sempat juga saya sampai ingin memaksakan ikut dengan membuat proposal, tapi agaknya cape juga toh juga cuma presentasi ga ada reward lebih tapi kok kita yang repot. (kita yang ngerjain itu paper, kita yang nyari duit, kita yang presentasi, cape ga siiihh)
    Jadi akhirnya perjuangan buat pergi ke konferensi itu dibatalkan. Nah sejak saat itu saya punya mindset kalo konferensi itu ga sekeren itu. Ditambah lagi ketika saya flashback pernah ikut konferensi yang bersifat kompetisi dimana itu gratis, akomodasi ditanggung, treatment oke, dan ada reward juga, itu makin bikin mikir kalo ga worthy kalo kita udah cape-cape ngider-ngider proposal, cape bikin paper, bayar banyak cuma buat sekedar presentasi.

    TAPI, saya agak bete gitu sama anak-anak dikampus yang sepertinya kaya ada komunitas conference thirst (conference hunter) yang begitu bangganya ketika mereka keterima abstraknya, itu agak bikin risih dan semoga sih mereka bisa sadar kalo conference di luar negeri itu ga sekeren itu.

    Maaf juga mas, ini boleh minta ijin reblog atau tidak ya?🙂
    Terimakasih🙂

    Sangat senang sekali bisa membaca tulisan yang satu pikiran!

    • Sebenarnya… yang namanya usaha pastinya butuh perjuangan dan pengorbanan untuk meraihnya, termasuk ikut konferensi baik di dalam maupun luar negeri. Tulisan saya di atas sebenarnya tidak ingin menjustifikasi mana yang benar dan mana yang salah. Tapi lebih kepada memberikan pencerahan dari sudut pandang yang berbeda.

      Monggo jika ingin di-reblog.

  18. Seru, Mas Danang.
    Saya masih cukup buta dengan konferensi internasional. Dan, setelah saya baca tulisan ini, saya sepakat. Memang pada esensinya, konferensi di luar negeri atau dalam negeri sama saja. Di luar negeri, punya kelebihan, bisa ketemu sama orang2 seluruh penjuru dunia. Bertukar pikiran dengan gaya pikiran bangsa lain. Walaupun demikian, gak berarti yang ikut konferensi nasional di Indonesia gak jago2. Kalau sudah di konferensi/seminar nasional universitas atau kementerian, isinya juga berbobot. Saya pribadi sudah mengikuti beberapa konferensi, presentasi beberapa judul, daaan… ‘dibantai’ menjadi sebuah kewajaran. Apresiasi atas kerja yang baik pun juga sering disampaikan. So, sama saja (saya juga pernah presentasi di luar negeri).

    Btw. Tulisan bagus mas. Boleh saya tautkan tulisan ini dalam postingan saya di blog pribadi saya? Saya jadi ingin membahas bagian ini, tentu dari sudut pandang berbeda.

    Terimakasih mas.

  19. Reblogged this on Wirdatul Aini and commented:
    It opened my eyes a lot. To be honest I would like to go abroad for some seminar or conferences. 😀 After reading this article, I realize that the important thing is impact of your research.🙂

  20. cukup tertarik dengan tulisan ini. karena saya juga beberapa kali ikut kegiatan serupa. memang ada sisi positif dan negatifnya. tapi dari pengalaman yang saya dapat, konferensi ilmiah di luar negeri memang terasa ‘sangat berbeda’, bukan berarti lebih baik. baik dari segi ilmu yang disampaikan dan confidence yang dimiliki peserta lain. kalau yang kita cari adalah pengalaman berkompetisi di bidang ilmu kita, saya lebih prefer untuk aktif dengan kegiatan keilmiahan dalam negeri. tapi sesekali mencoba melebarkan sayap ke luar negeri juga tidak ada salahnya.

    saya setuu dengan pendapat mas danang kalau tidak semua ‘call for papers’ itu mencari pemenang. makanya bagi seluruh mahasiswa Indonesia, harus pintar-pintar memilih kompetisi mana yang ingin diikuti. kalau kita bisa memilih wadah yang tepat, insyaAllah ilmu dan pengalaman yang didapat juga banyak.

    untuk cara mendapatkan dana, memang benar, tetap kembali kepada pribadi kita masing-masing. kalau benar ingin berangkat, harusnya juga diimbangi dengan usaha yang keras. setau saya, setiap keterlibatan mahasiswa pada kegiatan keilmiahan internasional bisa memberikan kredit untuk peringkat universitasnya. dan dari pengalaman saya, kalau mahasiswanya mau ‘ngotot’ mengajukan proposal ke universitas, tambahan dana (walaupun tidak full) itu bukan hal yang mustahil. no pain no gain lah

  21. Tulisan yang sangat bagus, melihat dari sisi yang berbeda. Saya punya beberapa pengalaman tentang international conference juga, tapi semuanya di Indonesia. Saya pernah mengajukan ke supervisor untuk submit paper ke international conference di luar negeri, tapi kemudian supervisor saya menanyakan detail ttg conference terkait, sampai ke panitia siapa. Kebetulan waktu itu conferencenya di Jepang. selidik punya selidik, ternyata panitianya adalah PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang. Setelah tahu itu, supervisor saya tidak mengizinkan, dengan alasan dengan level yang sama, atau bahkan lebih, kita bisa mendapatkannya di Indonesia, jadi untuk apa jauh-jauh ke luar negeri. Beberapa int. conf. yg saya ikuti pun akhirnya cm di dlm negeri saja, dengan biaya full dari supervisor saya. Setelah saya membaca tulisan di atas pun akhirnya saya mengerti baru dengan sepenuhnya maksud dari supervisor saya.
    Jadi yang paling esensi adalah kualitas dari int. conf. yg mau kita ikuti, ditambah dengan kualitas paper kita sendiri. Masalah tempat tdk mengurangi atau menambah esensi. Tapi ya memang int. conf. di luar negeri bisa menambah pengalaman kita “menjelajah luar negeri”.. apalagi kalau gratis. Tapi kalau tidak,, ya lebih baik memang dipertimbangkan dulu masak-masak, jangan mengikuti ego pribadi saja.
    Izin reblog ya mas.

  22. Wah mas Danang, sebenarnya sayang sekali untuk menulis artikel semacam ini ya. Bagi seorang Machiavellian seperti saya, ini adalah rahasia besar yang perlu dijaga rapat-rapat padahal.
    Memang pada awalnya saya adalah kelompok orang yang dibicarakan di atas (ababil hehe) tapi setelah diamati lebih dalam, konferensi itu pun memang mempunyai fungsi laten yang lebih banyak daripada fungsi manifesnya.
    Konferensi menjadi ajang akademisi untuk berbagi dan memperbaharui pengetahuan yang terkini dan itulah fungsi manifes satu-satunya dari konferensi,
    namun fungsi latennya adalah bisa untuk wadah ambisi para akademisi ambisius dalam mengejar target penelitian, misal; untuk mengejar gelar.
    Bahkan fungsi latennya untuk…jalan-jalan ke luar negeri! Bagi golongan labil seperti saya.

    Pada hakekatnya, takkan pernah ada hal-hal enak tanpa usaha. Mau ke luar negeri dengan enak dan usaha minim? Jangan harap.

    Semua hanya beda pemusatan usaha.
    Ada yang harus kerja keras dengan pikirannya untuk menghasilkan karya ilmiah yang bermutu sehingga menang dalam konferensi bertema perlombaan.
    Ada yang harus kerja keras dengan usaha kesana-kemari seperti mengusahakan sponsor di konferensi bertema non-perlombaan.

    Ini hanya masalah Anda mau berusaha di bagian apa. Kalau tak mau lelah kesana-kemari ya peras kencang-kencang otak Anda agar karya Anda…super.
    Kalau tak mampu memeras otak, ya berlelah-lelah dengan “usaha.”

    Apapun niatan ada, mau itu gengsi, mau itu jalan-jalan, mau itu ambisi, tak ada yang peduli. Hanya cara memperolehnya saja yang akan dibahas dan mas Danang telah membahas cara yang dimaksud. +999. Namun -10 untuk membuka rahasia sebenarnya di balik prestise “jalan lain menuju Roma” (cara lain jalan-jalan ke luar negeri di masa muda) he he he.

    Betul, yang terpenting adalah mutu karya ilmiahnya. Bukan dimana karya itu dipresentasikan.

    Tetap saja sebagai manusia biasa, pasti ada fungsi laten yang menyertai dan apapun maksud dari niatan laten yang dituju, gunakan cara yang baik, benar, cepat, dan tepat, agar bisa didapat.

    Ah ya, satu hal lagi. Mutu karya ilmiah di konferensi non-perlombaan akan telihat saat pengajuan sponsor, kok. Semakin bagus dan relevan dengan perusahaan yang dituju, pasti semakin besar kemungkinan diterima. Jadi jangan berkecil hati juga bagi pemburu konferensi dengan niatan laten jalan-jalan + prestise (seperti saya, sedikit…curhat yaa).

    Maaf saja saya agak kurang suka dan setuju dengan beberapa komentar yang bilang kalau capek usaha kesana-kemari untuk mencari sponsor hanya untuk konferensi ke luar negeri. Ingat saja ya, tak akan pernah mungkin ada keindahan kesenangan kebahagiaan menjelajah luar negeri tanpa usaha yang melelahkan dan memilukan. Semua itu usaha. Terserah apa niatan Anda, karena yang penting adalah hasil yang nyata dan cara yang tepat guna.

    Ya sekian mungkin. Tulisan mas Danang mungkin mengingatkan juga:

    Konferensi perlombaan di luar negeri mengejar target prestas + niatan lateni: peras otak 2x.
    Konferensi non-perlombaan di luar negeri mengejar niatan laten: peras otak 1/2 + peras tenaga 1/2.
    Jalan-jalan ke luar negeri tanpa konferensi: peras dompet 10x/ tunggu 5-10 tahun sambil peras tenaga 20x sambil tahan nafsu tahan dompet 50x.

    Tujuan: Roma. Jalan: banyak, beragam, dan berbeda. Tinggal pilih. Apa tujuan Anda pergi ke Roma? Urusan Anda, terserah.

    @HilmanRCSA

    • Terima kasih buat tanggapannya. Komentar ini bisa juga dijadikan rujukan alternatif bagi teman-teman yang lain.

      Saya rasa dalam tulisan saya tersebut, ada banyak “rambu-rambu” yang saya berikan terkait isinya, khususnya pada bagian awal Note. Tulisan ini sifatnya subjektif dan pastinya membuka peluang untuk berbeda pendapat dan tak ada yang salah dengan pendapat-pendapat yang ada🙂

      Mengenai “rahasia” yang terbeberkan… sooner or later someone has to blow the whistle🙂

  23. Wah ini yang terjadi pada saya sekarang. 2 Minggu lalu paper saya diterima untuk ikut kongres di UPM malaysia. Kami mereview jurnal terkait inovasi baru dibidang akuakultur. Saya juga telah berkonsultasi dengan dosen, tema yang kami angkat memang belum dikenal di dunia internasional. Kami berniat untuk memperkenalkan dan berdiskusi tentang tema tersebut di kongres internasional meskipun itu berasal dari beberapa review jurnal dan bukan dari penelitian kami sendiri.
    Yang saya takutkan yaitu kalau nanti level materinya terbilang terlalu rendah atau bahkan “malu-maluin” nama kampus karena terlalu dangkal materinya.
    Ada saran dari mas Danang atau teman2 lain yang sudah pernah keluar negeri?

  24. Dan hal ini terjadi ke saya, 1 minggu lalu abstract diterima dan diundang untuk mengikutu konferensi di Australia. Dan mulai kebingungan perihal pendanaan dan sponsor hehe.

  25. Keren banget mas. Kira-kira kalau mau nyari info tentang “LOMBA” ilmiah internasional yang ada pemenangnya gimana ya mas yang paling efisien? apakah ada forum tentang perlombaan yang demikian mas?

    • Forum yang secara khusus mengumpulkan info tentang lomba sepertinya belum ada. Biasanya dicari secara mandiri dengan sering browsing2 misal dengan kata kunci: student competition, youth competition, dll. Tapi info juga bisa diperoleh kalo misalnya follow mahasiswa yang sering aktif ikut lomba atau grup (misalnya di FB) yang aktif men-share kegiatan ilmiah.

  26. Koh, saya hanya ingin menanggapi. Saya cukup sering ikut kompetisi paper maupun konfernsi tingkat internasional baik di dalam maupun luar negri.

    Menanggapi argumen koko bahwa sangat mudah u/lolos abstrak dr konfrens. Menurut saya ini relatif, tergantung kualitas acara konfrens itu sendiri. Biasanya, dlm sebuah konfrens hanya dipilih maksimal 100 abstrak terbaik, yg reviewer nya dr kalangan akademisi & profesional yg ahli di bidangnya. U/paper comp. biasany dipilih 6-10 paper terbaik u/presentasi. U/tahu mutu gak nya konfrens, bs di cek di conferencealert.com

    Sekarang ini, bisa dibilang hampir TIDAK ADA konfrens internasional maupun paper competetion internasional di dalam/luar negri yg GRATIS (meskipun penyelenggaranya PPI). Jadi, konfrens yg BAYAR BLM TENTU BURUK, balik lagi ke siapa penyelenggaranya, siapa jurinya, siapa pesertanya, temanya apa & kegiatannya ngapain aja.

    So, u/teman2 mahasiswa jgn patah semangat yaaa…. mulailah menabung dr sekarang, belajar nulis proposal & paper serta ikut riset dosen/senior biar didanai.

    Masalah uang jgn jadi penghalang.

    If u want smthng all the universe conspire to help u to achieve it. God Bless U All….

    • Tulisan ini saya tulis bertahun2 silam dengan kondisi saat itu, copas dari blog lama saya yg di multiply yg sudah non aktif. Sehingga mungkin tidak update dengan kondisi kekinian. Saya tulisa NOTE di awal tulisan tersebut.

      Saya tidak bermaksud memutuskan harapan siapapun, hanya memberikan gambaran alternatif saja dari sisi yang berbeda. Bila ada yang berbeda pendapat, monggo saja, no probs. Dan bila sekarang kondisinya sudah lebih baik, saya sepakat, silakan ikuti konferensi yg sesuai dengan bidang dan kemampuan masing2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s