Dari APPF 2011, Korea Selatan: Belajar hikmah keimanan dari Mikroalga :)

Subhanallah… demikian ungkap saya dalam hati sambil bergetar tangan memegang pena selepas mendengarkan kuliah umum dari salah satu pembicara…

Pagi itu adalah hari ketiga saya berada di Yeosu, Korsel dalam rangka APPF 2011 (silakan baca 2 post sebelumnya tentang APPF 2011 ini). Dan hari itu merupakan hari pertama pembukaan konferensi mikroalga asia pasifik. Acara dibuka secara singkat dengan pidato dari ketua panitia dan ketua perhimpunan mikroalga asia pasifik di ruangan mewah Yeosu Ocean Resort, Korsel. Namun yang sungguh menarik adalah plennary session (semacam kuliah umum) dari pembicara pertama, ilmuwan kelas dunia asal Rutgers University, Amerika Serikat namun keturunan India, Professor Debashish Bhattacharya (http://dblab.rutgers.edu/home/index.php). Banyak hasil riset tentang mikroorganisme yang dimuat di jurnal-jurnal terkemuka internasional, dan hari itu beliau memberikan sebuah materi yang sungguh amat mempesona… tema umumnya: endosimbiosis dan efeknya terhadap perkembangan karakteristik mikroorganisme dalam kehidupan.

“You are what you eat!”

Demikian beliau menyimpulkan secara sederhana paparan panjang tentang kuliah umumnya yang berlangsung selama 1,5 jam itu. Mengapa menarik? Karena di sanalah saya menemukan tentang keajaiban ilmu pengetahuan yang memperkuat landasan keislaman dan keimanan saya kepada Allah SWT. Saya akan coba share dengan bahasa yang paling sederhana.

Pertama, Anda tahu tentang mikroalga? Secara sederhana… mikroalga adalah “tumbuhan” tingkat rendah berukuran mikro yang dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, jenis, karakter dan hampir bisa ditemukan di seluruh tempat di bumi.

Kedua… endosimbiosis… apa pula itu?

Endosimbiosis, secara sederhana adalah gagasan yang diajukan oleh ilmuwan untuk menjelaskan bagaimana sel/mikroorganisme dapat memiliki karakter yang berbeda-beda. Proses endosimbiosis diawali dengan proses dimana satu mikroorganisme “memakan”  mikroorganisme lainnya. Selanjutnya, ada dua proses yang akan berlangsung, yaitu: mikroorganisme yang dimakan tersebut akan dicerna secara keseluruhan sebagai nutrisi, namun dalam kasus kedua sebagian/seluruh bagian mikroorganisme yang dimakan tersebut dipertahankan oleh si pemakan dan selanjutnya berkembang menjadi “organ” tambahan baru yang memiliki fungsi tertentu.

Perkembangan selanjutnya, “organ” baru yang ada di dalam mikroorganisme tersebut menjadikan dirinya memiliki karakter / sifat yang berbeda dari mikroorganisme yang mulanya satu jenis. Proses ini disebut dengan primary endosymbiosis… atau mudahnya: mendapatkan “organ” baru secara langsung dari makanan yang kemudian dapat memunculkan sifat baru dan tetap dalam tubuh mikroorganisme. Sifat / karakteristik ini nantinya dapat diwariskan dalam sel keturunannya yang baru (sel anak). Nah di sini penting kita garis bawahi… sifat baru dan tetap yang muncul di dalam tubuh karena makanan dan dapat diturunkan!

Selanjutnya… ada istilah secondary endosymbiosis… waduh apa pula itu?

Mudahnya… adalah proses memakan mikroorganisme yang sudah melalui primary endosymbiosis, yang kemudian menjadikan mikroorganisme itu jauh lebih berkembang dengan organ-organ barunya dibandingkan dengan mikroorganisme lainnya. Dan seperti primary endosymbiosis… karakter yang muncul dari proses secondary endosimbiosis ini pun bisa diwariskan ke pada keturunannya, tanpa harus melalui proses endosimbiosis. Di sini kita kembali perlu menggaris bawahi: Sifat baru yang diperoleh dapat diturunkan secara langsung kepada sel anak!

Mudahnya bisa kita lihat pada skema endosimbiosis berikut:


Lalu apa yang menarik? Well… Sungguh sangat menarik, jika kita pikirkan secara seksama. Namun sebelumnya saya akan melanjutkan paparan Professor Bhattacharya…

Endosimbiosis mulanya hanyalah teori yang diajukan oleh ilmuwan sebagai salah satu alternatif daripada teori evolusi. Namun penelitian yang dilakukan oleh beliau (juga ilmuwan lainnya) menunjukkan, bahwa gagasan mengenai “pembentukan karakter dari makanan” ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah.

Beliau menunjukkan beberapa hasil analisis molekular terhadap organel-organel berbagai mikroorganisme kemudian membandingkannya dengan materi genetik yang ada pada mikroorganisme lain yang jauh lebih sederhana. Hasilnya? Organel tersebut menunjukkan kesamaan kode genetik dengan mikroorganisme sederhana yang menjadi pembanding tersebut. Secara sederhana: Organel yang ada dalam mikroorganise yang diuji berasal dari mikroorganisme lainnya yang “dimakan”-nya… endosimbiosis terbukti! Dan hasil riset ini tidak diambil dari 10-20 kali uji dengan berbagai jenis mikroorganisme… tapi dari ratusan sampel uji yang dilakukan selama lebih dari 20-30 tahun…

Nah… mari saya arahkan kepada hikmah Islam apa yang bisa kita peroleh dari endosimbiosis dan pembentukan karakter dalam mikroorganisme ini…

Mari kita kutip terjemahan ayat Al Qur’an dalam surat Al Baqarah: 168, berikut:

“Wahai manusia, makanlah apa-apa yang ada diatas muka bumi yang halal lagi baik dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.”

Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda:

 Setiap daging tumbuh yang diperoleh dari kejahatan (jalan haram), maka neraka lebih layak baginya.” (HR Imam Ahmad)

Seorang lelaki bermusafir sehingga rambutnya menjadi kusut dan mukanya dipenuhi debu. Dia menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Allah, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan mulutnya disuap dengan sesuatu yang haram. Bagaimana akan diperkenankan permohonannya?”(HR Muslim, Ahmad, dan Tarmidzi)

Apa kesamaan dari semua landasan Islam di atas dengan kuliah umum yang diberikan oleh Prof. Bhattacharya tentang endosimbiosis? Makanan!

Prof. Bhattacharya menyimpulkan: “You’re what you eat! (Jati dirimu dibentuk dari apa yang kamu makan)

Seekor mikroorganisme bisa berubah karakteristiknya karena memakan sesuatu yang kemudian menjadi bagian yang integral dari dirinya. Dan sifat itu dapat terus diwariskan kepada keturunannya. Demikian jelasnya.

Dan demikianlah Allah SWT dan Rasulnya mengajarkan betapa pentingnya menjaga dan memilih makanan, karena makanan akan menjadi berproses “daging” selama pertumbuhan, dan makanan akan menentukan karakter seorang hamba di hadapan Allah SWT. Ajaran ini sudah ada jauh sebelum manusia mengenal ilmu biologi molekuler dan mencetuskan gagasan endosimbiosis. Bagi orang-orang yang mau berpikir dan mengambil hikmah keimanan… maka temuan ilmiah yang dipaparkan oleh Prof. Bhattacharya di atas pasti akan semakin menambah keimanan.

Tentu kita masih ingat pelajaran SMP atau bahkan SD tentang sel… sekumpulan sel menyusun jaringan, sekumpulan jaringan menyusun organ, dan sekumpulan organ akan menyusun organisme… demikian sederhananya…

Bayangkan… tubuh manusia terdiri atas milayaran sel yang memiliki fungsi dan karakteristik tertentu dan menjadi pondasi paling mendasar dalam struktur biologis makhluk hidup. Sel-sel tersebut memiliki kemampuan untuk “memakan” bahkan mungkin saja melakukan proses endosimbiosis terhadap materi-materi yang kita dapatkan dari makanan yang kita makan sehari-harinya. Bukankah kemudian… struktur biologis terkecil dalam tubuh kita itu bisa saja kemudian berubah menjadi sel dengan karakteristik yang baru? Jika benar demikian adanya… sel-sel dengan sifat “baru” akan membentuk jaringan-jaringan dengan sifat yang “baru”… jaringan “baru” tersebut selanjutnya membentuk organ-organ dengan sifat yang “baru” …dan selanjutnya menjadikan organismenya memiliki sifat dan karakter yang “baru” pula?

Tentu… proses endosimbiosis berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama sekali… tapi bukan pula mustahil bisa berlangsung dalam proses yang singkat.

Hikmah yang ingin saya tekankan di sini… sekiranya kita makan atau minum sesuatu yang haram… hal itu tidak hanya masuk ke dalam perut kita saja… tapi… akan masuk ke setiap sel yang jumlahnya milyaran dalam tubuh kita… dan tidakkah kita ingat ayat Al Qur’an surat Al Zalzalah: 7-8:

Barangsiapa melakukan kebaikan seberat biji zarah, maka dia akan melihatnya. Dan barangsiapa melakukan keburukan seberat biji zarah, maka dia juga akan melihatnya

Zarah… menurut sebagian ulama adalah atom… yang jauh lebih kecil daripada sel… Masya Allah… seberat satu “biji” atom saja Allah akan pertanggung jawabkan… bagaimana jika itu 1 sel yang terdiri atas banyak atom… masya Allah… bagaimana jika itu seluruh sel yang ada dalam tubuh kita… berapa jumlah atom yang ada? Berapa yang “tumbuh” dari hasil makanan yang haram itu? Dan… semua itu akan dipertanggung jawabkan kelak… Astaghfirullah… sungguh tak terbayangkan…

Selayaknya gagasan endosimbiosis… dimana karakter baru yang terbentuk dapat diwariskan ke keturunan… tidakkah terpikirkan bahwa sifat2 sel-sel dalam tubuh kita juga akan diwariskan selanjutnya kepada keturunan kita… masya Allah… sekiranya makanan kita berasal dari sesuatu yang haram… pastilah ada “materi” yang akan terwariskan bersama keturunan kita… tentu kita tak ingin semuanya itu terjadi bukan?

Maka… marilah kita belajar dari makluk hidup super duper mikro… yang tak dapat kita lihat secara langsung dengan keterbatatasan pandangan… marilah kita belajar dari mikroalga dan mikroorganisme lainnya… bahwa dalam keterabaikannya mereka dalam kehidupan… sungguh mereka mengajarkan mengenai pentingnya menjaga dan memilih makanan yang baik dan halal… Insya Allah.

Masya Allah… panjang juga ya tulisan kali ini… hehe… namun semoga bermanfaat… mohon maaf jika ada salah kata di dalamnya…

NB: setelah saya pikir-pikir… “ngurusin” mikroalga yang sangat kecil aja… banyak sekali penelitian yang telah dihasilkan… bukan penelitian yang simple… tapi… sungguh penelitian yang mengandung hikmah dan pelajaran… Subhanallah…

 

14 thoughts on “Dari APPF 2011, Korea Selatan: Belajar hikmah keimanan dari Mikroalga :)

  1. setuju pak….jadi ingat kenapa babi diharamkan, salah satu yg bisa mematahkan teori daging babi yg sudah “steril” dan gk mengandung cacing apapun adalah babi punya sifat jahat manusia. dia rakus, arogan, dan sex bebas. melihat kehidupan babi di sumba ini bikin saya jadi merinding…semua sikap gk bagus manusia ada di babi jadi konon ada sel apanya gt yg sama antara manusai dan babi. tapi siapa tau jg ada alsan terungkap lainnya knp babi haram ya

  2. subhanallah. sungguh menarik materi tsb.
    Apabila ada seorang mualaf dlu pernah makan makanan haram seperti babi tetapi kemudian dia bertaubat dan masuk Islam, apakah sifat n karakter dari yang dimakannya itu juga akan berubah menjadi baik dengan sendirinya? (masih penasaran,hehe :p)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s