Kisah inspirasi alumni Mawapres 2007: dr. Hafiidhaturrahmah…

Kata pengantar:

Bissmillahirrahmanirrahim…

Beberapa waktu silam, saya mengirimkan email kepada rekan-rekan alumni Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Nasional 2007… sekedar ingin menyapa dan tahu kabar selama 5 tahun ini apa saja yang telah mereka lalui dan kira-kira apa saja kisah menarik penuh hikmah yang telah dijalani…

Dan Subhanallah… kisah-kisah perjalanan hidup rekan-rekan saya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini sungguh menawan dan penuh hikmah untuk diikuti. Berikut adalah salah satu email balasan dari rekan saya dr. Hafiidhaturrahmah yang akrab dipanggil dengan Avis, alumni fakultas kedokteran Universitas Jendral Soedirman (UNSOED). Beliau menceritakan pengalamannya menjadi dokter di pelosok tanah air. Semoga kisah beliau menjadi motivasi bagi rekan-rekan lainnya, terutama generasi muda Indonesia…

Beliau bisa ditemui juga di:

http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/21/unsoed-tunjukkan-prestasi-di-mahasiswa-berprestasi-nasional/

Atau melalui Facebook beliau: Avis Unsoed🙂

Arigatou Mbak Avis atas share-nya yang penuh inspirasi dan motivasi hebat. Insya Allah kami akan menyusul segera🙂

Note: Foto-foto di tulisan ini diperoleh dari Mbak Avis langsung.

Selamat membaca

DAP

***

Selamat Malam Sahabat Mapresnas

Saya masih ingat bahwa saat itu saya ingin sekali menjadi dokter spesialis kandungan namun ternyata lima tahun belum cukup untuk menguatkan mimpi saya. Menjalani perkuliahan di kedokteran tidak tepat waktu membuat saya belajar banyak hal. Bahwa pengalaman yang mendewasakan diri ternyata mahal harganya.

Satu tahun saya menunda koas dan belajar HIV hingga ke Swedia membuat saya mengenal banyak sahabat yang hidup dengan HIV. Hingga akhirnya selama tiga tahun saya belajar mengenai virus ini terutama belajar keikhlasan menerima HIV. Terkadang hingga saat ini saya masih tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan satu fase hidup yang unik terkait HIV ini. Saya merasa gembira bersahabat dengan mereka namun akhirnya saya jatuh dalam tangis dalam ketika mereka meninggal dunia. Yang mungkin saya mengerti, Tuhan ingin saya belajar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kematian itu bukan saja karena HIV tetapi apapun sebabnya, dia akan datang ketika waktunya memang tiba.

Tepat di saat saya resmi menyandang gelar dokter malah jam pembelajaran saya akan arti persahabatan bersama para ODHA berakhir. Saya memutuskan untuk mengabdikan diri ke pelosok Sumba, Nusa Tenggara Timur untuk melihat bagian dari masyarakat Indonesia. Mengapa harus Sumba? Ini seperti oase bagi saya. Enam bulan menjalani karir dokter di Jakarta dengan berpindah satu klinik ke klinik lain, satu RS ke RS lain membuat pikiran saya lelah. Menghadapi pasien kota besar ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Wejangan mama agar saya selalu senyum dan melayani pasien dari hati kapan pun juga ternyata sulit dipertahankan jika tetap di Jakarta. Saya harus berjuang dengan idealisme diri sendiri ketika mendapatkan pasien yang mengetuk pintu klinik jam 3 dini hari hanya karena batuk pilek ringan yang seharusnya sejak sore datang berobat. Parahnya, ada yang hanya karena butuh vitamin cadangan saja dia membuat emosi saya tidak karuan.

Dokter juga manusia, walau bertugas menjaga pasien 24 jam namun ada jam tidur biologis. Saya pribadi tidak marah jika dibangunkan tengah malam buta tapi memang karena kegawatdaruratan pasien. Bukan sekadar pasien yang “ngerjain” dokter atau malah hanya “minta surat sakit” saja.

Rindu mengabdikan ke pedalaman itulah yang membuat saya memutuskan untuk menjadi peneliti muda malaria di Sumba Barat Daya, tepatnya di Desa Umbu Ngedo bersama Eijkman’s Institute for Molecular Biology. Setahun berada di pelosok itu ternyata saya masih belum menemukan pelayanan kesehatan yang tepat. Jika di kota masyarakat akan cenderung “sesuka hati” berobat dengan dokter siapa pun yang mereka suka, di desa pun permasalahan mentalitas pasiennya tidak jauh beda. Tanpa kecukupan uang, masyarakat cenderung hanya datang ketika sudah parah penyakitnya. Tiga kali balita datang ke tempat saya dengan kejang parah yang ternyata penyebabnya malaria. Lagi-lagi keluarganya terlambat membawa anaknya sehingga tidak tertolong lagi.

Hidup satu tahun di Sumba tanpa kecukupan listrik, sinyal apalagi air membuat saya belajar bahwa tidak semua hal akan senikmat yang kita bayangkan. Namun tidak semua hal juga terlihat sangat buruk seolah-olah kita orang paling malang di dunia. Hanya berbekal lampu matahari yang dalam dua jam sudah padam, lalu bulan berikutnya digantikan genset sekadar untuk menyalakan peralatan elektronik selama dua jam, ternyata saya tetap hidup. Bahkan saya makin rajin menulis. Januari 2012 saya ditantang untuk menulis novel dalam sebulan sebanyak 50.000 kata dan entah angin apa, saya mulai menulis di kertas dengan ditemani lilin. FYI, selama di Sumba saya mengalami insomnia akut dimana selalu tidur di atas jam 12 dan saya butuh lilin berpak-pak setiap bulannya. Novel itu ternyata jadi dengan judul “Frey dan 7 Kurcaci Sumba”. Beberapa kisah di dalamnya adalah kisah nyata saya menjalani hari-hari di Sumba.

Saya beruntung bertemu tujuh kurcaci, para anak SD yang setiap sore berkumpul di depan klinik hanya untuk melihat ibu dokternya. Rambut mereka yang pirang dengan warna kulit lebih cokelat juga suara mereka yang cempreng membuat saya menjadikan mereka kenangan yang tidak terlupakan dari Sumba. Bersama merekalah saya menikmati Pantai Ratenggaro yang indah, menikmati taburan ribuan bintang juga bulan purnama luar biasa, bahkan menikmati dinginnya malam di bawah rumah alang yang memang beratap rumput. Yah…saya sadar bahwa satu tahun bagian hidup saya di Sumba tidak akan tergantikan dengan apapun. Keluarga besar yang saya dapatkan disana sungguh luar biasa.

Saya masih merekam dengan jelas bagaimana puluhan Inya (sebutan untuk Ibu), bapak, juga anak-anak meneteskan air mata dan terus melambaikan tangan tanpa henti ketika saya masuk ke mobil untuk terakhir kalinya. Bahkan para kurcaci cilik itu mengejar mobil saya dan dengan berat hati saya membuka kaca jendela. Saya tidak bisa menahan air mata untuk tidak jatuh dan saya tahu saya bohong untuk terkahir kalinya.

“Kalian harus tetap sekolah ye…Ibu dokter sudah simpan nomer bapak kepala sekolah dan kalau kalian tidak sekolah nanti ibu minta bapak kasih marah ke kalian. Harus sekolah ye…harus jadi sepeti ibu dokter juga ye…” dan saya tahu gelombang bah air mata para kurcaci tidak juga dapat dibendung. Perlahan…saya mencoba untuk bernapas dan kaca pun tertutup. Saya kembali ke tanah Jawa setelah satu tahun Sumba memberikan kehidupan luar biasa menyenangkan untuk saya. Suatu hari nanti, saya akan kembali ke sana untuk melihat para kurcaci saya tumbuh dengan baik dan mereka tetap mempraktekkan bahasa Inggris yang pernah saya ajarkan.

Dan ternyata…ikatan jiwa itu benar-benar ada. Sesampainya di tanah Jawa saya masih merasa hati saya di Sumba. Para kurcaci yang kesulitan sinyal bahkan pulsa masih mencoba mengirimkan pesan dan setelahnya saya telepon mereka untuk mendengar suara cempreng itu.

“Aih…kami kangen ibu dokter. Kami toh…di sekolah kami menangis jika ingat ibu dokter. Kapan koh ibu pulang kembali kemari?” bahkan setelah hampir setengah tahun berlalu, suara cempreng itu masih saja berhasil membuat air mata saya berlinang. Ah…para kurcaci itu masih berhak untuk sehat dan mendapatkan pendidikan hingga setinggi-tingginya. Mereka butuh guru-guru pembaharu dan saya berharap suatu saat nanti para Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar bisa hadir disana menggantikan saya.

Melarikan diri dari Sumba karena kontrak saya yang habis ternyata tidak mudah. Saya kembali menapakkan kaki di Jakarta dan ternyata saya kembali berteriak “Kenapa sudah setahun tidak ada yang berubah dengan Jakarta?”. Akhirnya seperti disuruh merantau ke pulau lain, saya diminta kerja di suatu klinik pertambangan di Kalimantan Timur. Saya ambil namun saya hanya betah satu bulan saja. Gajinya bagus namun suasana kerja rodi disana berhasil membuat berat badan saya turun lima kilo tanpa diet apapun. Itu artinya parah sekali karena memang tidur dalam sehari dapat dihitung dengan tiga jari. Kalau mau menguji seberapa kuat bekerja sendirian, di sini lah tempatnya.

Bagian hidup saya di Kalimantan walau hanya satu bulan tapi penuh dengan rangkaian hikmah. Saya sadar ternyata hal terpenting adalah restu orang tua yang mengiringi segala langkah kita. Jika orang tua tidak merestui maka Tuhanpun murka dan itu terbukti dengan hanya bertahan sebulan saja di Kalimantan. Beruntung ketika itu muncul pendaftaran Pencerah Nusantara via website dan saya mendaftar. Awalnya hanya iseng karena saya ingin menanyakan apakah Kalimantan pulau yang baik untuk saya? Ternyata tidak. Saya lolos seleksi tahap dua dan artinya saya harus kembali ke Jakarta.

Dari semua perjalanan saya, ini pertama kalinya saya merasa sangat bahagia menapakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Saya seperti terbebas dari jeratan Kalimantan. Dan seleksi Pencerah Nusantara pun saya jalani selama 10 hari. Berat sudah pasti karena diuji juga kompetensi skill medis saya dalam bidang ilmu kandungan, anak, juga komunitas. Rentang waktu pengumuman seleksi 3 minggu namun rasanya lama sekali karena saat itu hanya ada 11 dokter umum yang lolos seleksi dan kita tidak tahu berapa yang akan diambil oleh Tim Pusat. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke dunia klinis memeriksa pasien sembari menunggu pengumuman.

Akhirnya, hanya 8 dokter umum yang diambil. Rasanya sedih karena ada tiga sejawat yang tidak bergabung bersama kami. Hanya selisih sebulan setelah pengumuman kita harus sudah siap memasuki masa karantina. Yah Pencerah Nusantara ternyata tidak main-main. Prof. Nila Moeloek, SpM selaku penggagas sekaligus Utusan Khusus Presiden RI untuk MDG sangat serius memberikan beragam materi pelatihan selama masa karantina.

Sebanyak 32 tenaga kesehatan diterima dengan kriteria usianya kurang dari 30 tahun, kurang dari 5 tahun dari masa lulus, berpengalaman organisasi baik dan juga IPK lebih dari 3,00. Delapan dokter, 6 bidan, 7 perawat dan 11 pemerhati kesehatan dari 1043 pendaftar di seluruh penjuru Indonesia bergabung dalam Pencerah Nusantara. Selama nyaris 7 minggu kami dilatih. Sebulan pertama di Jakarta tepatnya di FK UI, kami dilatih di empat departemen yaitu Kandungan, Anak, IKK, dan juga Kegawatdaruratan (anestesi). Rasanya tidak tergambarkan karena setiap jam 5 pagi kami harus sudah berada di bus yang membawa kami keluar dari Bapelkes Cilandak menuju RSCM demi menghindari kemacetan parah Jakarta.

Saya berhasil melewati itu dan mendapat julukan “EMAK”. Sisanya kita dilatih di Bandung. Tiga hari pertama berlatih “SURVIVAL” di gunung bersama Tim WANADRI. Gunung Koesambi menjadi saksi bahwa kami para tenaga kesehatan harus menjelajahi dan menurunkan ego demi menyatukan visi misi. Setelahnya selama 3 minggu kami berada di Wisma Telkom Geger Kalong untuk belajar ilmu kepemimpinan, komunikasi, media, gender harmoni, advokasi, sistem kapitasi kesehatan, dan banyak hal lain. Bertemu banyak tokoh hebat dalam bidangnya membuat kami berlatih dengan serius. Puncaknya, sebelum kami kembali ke Jakarta, berjumpa lagi 4 hari dengan WANADRI. Kali ini ujiannya meningkat dibandingkan survival pertama. Kami tidak lagi diberikan tenda plastik atau makanan instan melainkan kami harus membangun sendiri tenda dari bahan alami.

Titik survival di Ranca Upas Ciwidey itu membuat saya berlatih banyak hal. Menebang kayu, mencari kayu bakar, membangun tenda alam, memakan dedaunan pahit, mencari cacing-burung puyuh-juga ikan dan mengolah di atas api unggun bahkan hingga berlatih untuk buang air besar juga kecil di alam. Kami bahkan mau berjalan selama 5,5 jam melintasi pegunungan 10 km. Dalam hati jujur saya berpikir “Betapa sulitnya menjadi Pencerah Nusantara juga mencari uang”. Tapi hingga saya mengetikkan ini, saya tidak pernah tahu berapa gaji yang nantinya akan saya dapatkan. Pencerah Nusantara benar-benar mencari orang yang mau mengabdi.

Dan inilah saya sekarang. Memilih jalan mengabdi untuk masyarakat dulu melalui Pencerah Nusantara. Beruntung saya ditempatkan di Pasuruan bersama 4 adik-adik perempuan dengan beragam latar belakang yaitu bidan, perawat, psikolog, juga apoteker. Desa Tosari tepat di bawah kaki Gunung Bromo akan menjadi tempat perjuangan saya setahun ke depan. Bagaimana caranya menekankan pentingnya kesehatan di daerah pegunungan yang terkendala jarak. Bagaimana meramaikan Puskesmas Tosari yang mana pasien kesehariannya tidak sampai 10 orang dan rawat inapnya juga tidak lebih dari 5 jari perbulan. Sudah pasti dokter yang berada di sini akan mudah stress namun saya datang dengan riang gembira. Saya ingin menemukan para Kurcaci Bromo sama seperti saya menemukan Kurcaci Sumba.

Dan saya sudah lima hari berada di Pasuruan, mondar mandir naik turun gunung ke Desa Tosari. Rasanya luar biasa. Saya seperti mendapat semangat baru ketika melihat para ibu yang berpotensi luar biasa untuk meningkatkan kesehatan keluarganya. Bahkan saya sudah sempat menjamah desa terpencil yang ada di puncak bukit. Ternyata di tanah Jawa masih ada hal mengenaskan seperti itu. Daerah berbukit yang membuat mereka terlambat membawa ibu hamil karena harus ditandu berjam-jam sampai menemukan jalan beraspal.

Saya tidak muluk-muluk ingin menurunkan angka kematian ibu atau bayi. Saya berada di Desa Tosari ini lebih untuk sama-sama belajar bagaimana cara memberdayakan masyarakat untuk sadar bahwa SEHAT itu lebih baik daripada SAKIT. Bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

Satu tahun ini pun akan menjadi titik penting dalam diri saya dimana nantinya saya harus sudah memutuskan tetap ingin menjadi klinisi (jalur spesialis) atau berpindah ke public health. Saya mendadak menorehkan mimpi lain seperti John Hopkins dan Erasmus. Bahkan saya menorehkan mimpi besar bahwa 20 tahun dari sekarang saya harus jadi Menteri Kesehatan RI. Dan saya tahu untuk kesana butuh perjuangan luar biasa. Dan entah kenapa….berbagi mimpi bersama kalian seperti mewujudkan mimpi itu bersama-sama. Mari masuki era lima tahun kedua kita. Lima tahun ke depan pasti sudah ada yang menggondol PhD di bidang tertentu. Dan tentunya anak-anak kalian sudah besar dan siap masuk TK atau SD. Harapannya juga, saya dan yang lain menyusul hidup berkeluarga dan punya anak.

Luar biasa ya kawan. Bahkan jika tidak berhenti menulis, ini bisa bersambung jadi novel. Saya akan terus jadi korek api. Menyalakan lilin-lilin kecil di Desa Tosari karena sungguh banyak sekali masyarakat disini yang sebenarnya sudah mencerahkan orang lain tanpa mereka sadari.

Doa saya menyertai seluruh langkah kebaikan kalian semua kawan.
TERUSLAH BERMIMPI DAN WUJUDKAN MIMPIMU

Salam Semangat
dr. Hafiidhaturrahmah
Pencerah Nusantara Angkatan I
Bertugas di Puskesmas Tosari-Pasuruan

14 thoughts on “Kisah inspirasi alumni Mawapres 2007: dr. Hafiidhaturrahmah…

  1. Pingback: dhienaspryt

  2. menginspirasi banget.. membuat saya jadi sangat ingin diterima menjadi salah satu pencerah nusantara. Tapi sepertinya pencerah nusantara hanya untuk orang yang banyak prestasi dan organisasinya TOP. Nggak bisakah orang yang cuma punya tekat, semangat dan niat yang tulus ikut membantu.. huhu *efek pengen banget keterima*

  3. subhanallah..sampe nangis bacanya :’) semoga saya juga bisa menjadi dokter yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa terutama bagi kaum yang membutuhkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s