Renungan Iedul Fitri: Sampah dimana-mana…

Hal yang masih saja terlihat selepas sholat Ied di tanah air adalah: lembaran-lembaran koran yang bertebaran menjadi sampah di lapangan atau jalan-jalan.

Mungkin saja ada petugas kebersihan atau panitia yang bertugas untuk membersihkannya… tapi secara etika kok kelihatannya gak bagus bagi seorang muslim untuk membiarkan lembaran koran-koran itu berserakan dan mengandalkan orang lain untuk membersihkannya. Apalagi kalau kemudian diliput atau muncul dalam tayangan televisi atau media… apa ya kita ndak malu?! Mungkin malu… tapi karena teman-teman atau saudara-saudara kita juga ikutan gak beresin koran-koran yang menjadi alas sholat di lapangan… kita jadi ikut-ikutan… atau mungkin karena kita gak make alas koran… jadinya beralasan kalo itu sampah bekas orang dan lepaslah tanggung jawab tuk menjaga kebersihan…

Mungkin juga sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, sehingga kepekaan untuk menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman sudah tumpul. Padahal kalau kita lihat bersama, apa gak ironis ya… kita sudah berpuasa dan beribadah satu bulan lamanya, tapi selepas sholat Iedul Fitri kita seolah lupa… apa yang kita pelajari dan teladani selama Ramadhan. Kebiasaan buruk yang bahkan sampai kebawa-bawa di negeri rantau, semisal Jepang.

***

Selepas sholat Iedul Fitri lalu, halaman masjid Okinawa yang menjadi lokasi sholat Ied terlihat kotor. Sisa makanan, piring dan gelas kertas tampak terserak di atas meja. Sementara sebagian besar jamaah setelah sholat Ied ataupun selepas menyantap makanan dan minuman bubar satu-persatu. Ada yang kembali ke tempat kerja, ada yang kembali ke lab dan sebagainya. Memang, di Jepang sholat Iedul Fitri bertepatan dengan hari Senin, hari masuk kerja. Tak ada libur khusus, kecuali mengajukan cuti atau izin tidak masuk kerja/kuliah atau kebetulan memang bisa “bolos”. Sah-sah saja dan bisa dimaklumi.

Namun, saya pribadi malu melihat Yamazato-san, mualaf kelahiran Okinawa, Jepang yang menikah dengan muslimah asal Malaysia keturunan Indonesia puluhan tahun silam dan biasa kami panggil “Uncle” ini termasuk segelintir muslim yang paling terakhir meninggalkan tempat sholat Ied untuk membersihkan dan membereskan meja, alas sholat bahkan memungut sampah yang terserak. Padahal beliau ini seorang arsitek kenamaan dan pemimpin sebuah perusahaan yang bergerak pada jasa desain bangunan. Tak banyak yang tahu kalau beliau ini juga yang mendesain beberapa bangunan dan tugu yang ada di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan beberapa universitas lainnya di Indonesia puluhan tahun silam. Dalam kapasitasnya, pasti semua orang bisa memaklumi jika ia pulang duluan. Tapi ternyata tidak.

Di bawah terik panas matahari musim panas Okinawa yang menyengat bersama 2-3 muslim yang masih tersisa, kami membereskan semuanya. Alas-alas kardus kami lipat rapi dan kumpulkan menjadi satu tumpuk, untuk dibuang di tempat sampah khusus daur ulang, dipisahkan dengan sampah yang bisa dibakar maupun jenis sampah lainnya.

Jika ingin mencari alasan tentu sangat mudah dan berasalan bagi beliau, karena beliau juga harus masuk kerja. Tapi saya selalu memperhatikan bahwa beliau selalu menjadi orang yang paling terakhir meninggalkan tempat acara, memastikan bahwa semuanya sudah bersih dan seperti sedia kala. Tak hanya beliau, saya melihat banyak orang Jepang yang demikian… mungkin sudah menjadi karakter orang Jepang untuk berlaku demikian. Menjaga kebersihan, disiplin, taat aturan dan lebih banyak kerjanya dibanding ngobrol-ngobrolnya.

Saya gak kebayang apa yang ada dibenak beliau atau orang Jepang jika melihat karakter muslim masih kurang peduli kebersihan seperti ini. Beliau bisa saja marah. Atau jangan-jangan beliau sudah memaklumi kalau karakter muslim ya kebanyakannya seperti ini… Yang pasti ya saya malu. Sisi positifnya, sampah yang terserak tak sebanyak yang ada di foto di atas.

Di Jepang sini, sebagian kita mungkin akan heran kalau kita seringkali sulit menemukan tempat sampah di taman-taman besar, jikapun ada biasanya tempat sampahnya sudah dikhususkan untuk jenis sampah apa yang harus dibuang. Bukan untuk menyulitkan… tapi untuk menanamkan kesadaran bahwa sampah itu pada dasarnya adalah kita yang menghasilkan, maka jika kita mengadakan piknik, pesta barbeque ataupun sekedar bersantai menikmati taman… jika ada sampah yang kita hasilkan… maka harus dibawa pulang dan dibuang di tempat sampah di kompleks perumahan kita sesuai dengan peruntukkannya. Maka jangan heran jika orang-orang yang usai pesta barbeque akan pulang sambil membawa sekantung sampah tanpa ada rasa malu.

Tentu, rekan-rekan pernah melihat atau mendengar sebuah kisah unik para supporter Jepang di Piala Dunia 2014 di Brasil. Selepas menonton pertandingan tim sepakbola Jepang… apapun hasilnya, menang atau kalah… supporter Jepang ini membersihkan area bangku tempat duduk mereka dari sampah-sampah. Sehingga kondisinya seperti sedia kala. Meskipun ada petugas kebersihan yang dibayar… namun mereka tetap melakukannya. Sementara kita masih ragu dengan pikiran: Perlu bersihkan atau enggak ya? Kan ada petugas kebersihan… Mereka mungkin sudah “terprogram otomatis” untuk melakukannya tanpa perlu mikir banyak. Menakjubkan… diluar negara mereka sekalipun, karakter seperti ini masih mereka tunjukkan. Dan inilah yang membuat supporter the Blue Samurai dihormati dan dikagumi.

Sila baca ini: http://www.dailymail.co.uk/sport/worldcup2014/article-2663634/Japan-fans-CLEAN-UP-stadium-following-goalless-World-Cup-draw-Greece.html

Tentunya pula, tidak semua orang Jepang juga baik, namanya juga manusia, sama seperti kita… tapi keteladanan bisa kita ambil juga dari mereka.

***

Tulisan ini tentu tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun, ini hanyalah lintasan pemikiran untuk mengetuk kesadaran yang tak jua muncul dalam benak kita. Kalaupun kesan tulisannya menyinggung maka tulisan ini saya tujukan paling pertama untuk menyinggung diri saya sendiri, mengingatkan diri saya sendiri, yang masih jauh dari karakter-karakter Islami yang dimiliki oleh saudara muslim saya asal Jepang ini.

Back to the topic… sampah koran selepas sholat Iedul Fitri.

Kisah Iedul Fitri di Okinawa di atas hanyalah contoh kisah kecil saja. Mungkin saya, Anda dan Kita semua harus kembali menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan. Pentingnya membuang sampah di tempat sampah, jika tak ada tempat sampah betapa pentingnya untuk menyimpan sampah hingga ketemu tempat sampah. Dan bukannya membiarkan berserakan. Meski ada petugas sampah yang ditugaskan untuk membersihkannya, ayolah kita bagi kebahagiaan bersamanya di hari yang penuh kegembiraan dengan meringankan pekerjaannya. Bisa saja ia tak bisa mudik karena memang harus bekerja… bisa saja ia harus mengumpulkan koran-koran itu untuk dijual sekedar untuk menambah uang… ayolah bro dan sis… kita turut terlibat dalam mewujudkan kebahagiaan dan meringankan orang lain meski itu sederhana🙂

Saya tak bermaksud menggeneralisasi bahwa orang Indonesia ataupun muslim semuanya kurang baik. Saya yakin ada panitia sholat Ied yang sudah memikirkan bagaimana solusi menghadapi masalah sampah koran seperti ini. Dan saya yakin ada juga orang yang melipat kembali koran bekas alas sholatnya dan membawanya pulang untuk dibuang di tempat sampah🙂. Ini hanyalah lintasan pemikiran saja untuk evaluasi diri.

Jangan tertegun atau tertohok jika suatu hari ada seorang Jepang bertanya pada Anda:

…in daily life activities I am better than you. I keep my promise to come on time, I clean the garbage. Whenever I saw one scattering on the street I throw it away in the bin. I am discipline and I obey the rules. I worked hard and talk less… and yet I don`t believe in God. So, what can you prove to me that you`re a believer of God and makes a you better person than me in daily life?…

Hidayah tentu adalah milik Allah… hak prerogatif Allah… tapi menjadi muslim dan mukmin yang berakhlak terbaik adalah tanggung jawab diri kita baik secara individu dan kolektif.

Mari mengambil hikmah dari setiap peristiwa… belajar darinya… dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Marilah menjaga kebersihan. Karena kebersihan itu adalah bagian dari iman.

Smile… Eid Mubarak.
🙂

2 thoughts on “Renungan Iedul Fitri: Sampah dimana-mana…

  1. Ya memang ane juga sering melihat sampah yang berserakan terutama setelah sholat ied, karena banyak orang yang mnempati jalanan dengan alas koran dsb kemudian setelah sholat mereka membiarkannya,

  2. Tidak hanya di dalam selepas Sholat Ied atau pertandingan sepak bola Mas Danang yang perlu di perhatikan, hal yang paling kecil adalah ketika kuliah, bagaimana bangku-bangku kuliah yang telah selesai di gunakan sangat berantakan ketika ditinggal begitusaja keluar kelas setelah selesai, jarang ada anak yang bersedia membersihkan maupun merapikan kembali, ini juga sebenarnya merupakan sindiran bagi saya, karena saya juga jarang membersihkan maupaun merapikan kembali ruang kuliah yang sudah dipakai, dalam hal ini mungkin ini menjadi cerminan bagaimana perilaku tersebut seharusnya bisa dimulai dari mana, dari hal yang paling kecil, dimulai ketika sekolah/kuliah.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s