A long and winding road to Postdoc (2)

Melanjutkan bagian pertama: A long and winding road to postdoc (1)

Singkat cerita… komunikasi saya dengan calon professor berlangsung sekitar 3 bulan lamanya melalui email. Pada berapa kasus postdoc yang melamar ke KAUST, professor akan mengontak calon postdoc melalui skype dan berinteraksi langsung pelamar. Kebetulan (atau keberuntungan bagi saya hehe) calon professor saya ini  sepertinya lebih nyaman berkomunikasi menggunakan email.

Ada banyak hal yang didiskusikan, semisal penelitian apa saja yang bisa saya kerjakan selama di KAUST dan apa saja penelitian yang kiranya tidak terlalu menarik untuk dimasukkan dalam proyek. Intinya, kelihaian dalam berkomunikasi dan pengalaman riset kita memang sangat membantu untuk meyakinkan professor bahwa kita adalah calon yang tepat dan prospektif untuk menempati posisi postdoc di grup beliau. Oleh karenanya penting sekali menyiapkan CV yang baik dan lengkap agar calon professor dapat memiliki gambaran yang lengkap tentang diri kita.

Pada tahap ini sangat penting untuk membuat jelas tentang minat, bidang penelitian, keterlibatan dalam proyek dan juga kontrak kerja sebagai postdoc. Agar di kemudian hari tidak timbul masalah. Jika ada yang kiranya kurang berkenan dihati sampaikan saja dan diskusikan untuk mencari solusinya. Pada kasus saya, proposal riset saya (yang saya anggap sudah sangat baik dan cukup sulit untuk dikerjakan) ternyata dianggap masih kurang ambisius dan harus lebih di-improve.

Awalnya sempat senewen juga ide penilitian dianggap kurang ambisius, padahal selama S3 ide penelitian itu ngerjainnya sudah “setengah mati”. Tapi setelah kita diskusikan sebenarnya masalahnya terletak pada perbedaan latar belakang keilmuwan dan bidang profesi yang ditekuni. Calon professor melihat bidang ilmunya dalam skala besar, sementara saya melihat dalam skala kecil, maka untuk menemukan jalan keluar perbedaan ini, diskusi yang panjang dan intens sangat diperlukan.

Ada satu hal yang saya rasa perlu saya share dalam hal komunikasi dengan calon Professor, yaitu: “jangan kelamaan menunggu”. Terkadang calon professor memiliki kesibukan beragam yang membuatnya lupa untuk membalas email kita. Maka, kita perlu pro-aktif dalam “menjemput bola”. Tapi tentunya dengan tatakrama dan sopan-santun yang baik. Misal paling tidak sebelum meminta kejelasan tentang status lamaran kita, ada baiknya menunggu 2-3 minggu sebelum mengirim email susulan. Jangan terlalu ngotot, karena semua orang tidak suka jika dikejar-kejar hehehe.

Hal lain yang perlu dilakukan untuk mencari info tentang calon tempat kerja adalah mengontak orang-orang Indonesia di tempat tersebut dan bertanya info yang dirasa perlu untuk diketahui. Untuk KAUST, ada komunitas Indonesia bernama KAUST-INA dan memiliki website: www.kaustina.org yang menghimpun berbagai informasi penting dan berguna, baik yang ingin melanjutkan studi S2, S3, magang (internship) ataupun postdoc dan bekerja.

Bulan Desember 2015, setelah diskusi lama dengan calon professor, beliau akhirnya menyetujui proposal penelitian saya dan menawarkan posisi postdoc di grupnya. Mashaa Allah… betapa gembiranya saya dan istri waktu itu… meski beberapa hari kemudian saya baru menyadari bahwa tawaran diterima sebagai postdoc di KAUST itu bukanlah jaminan bahwa saya bisa bekerja di KAUST!

Bagaimana bisa? Berbeda dengan Jepang yang pada kebanyakan kasus, tawaran professor sudah bisa dianggap sebagai “karcis” kepastian melanjutkan studi atau postdoc di labnya. Berbeda dengan KAUST yang ada banyak sekali administrasi yang harus dilewati dengan sukses untuk bisa mulai studi dan bekerja di sana.

Seminggu setelah saya menerima tawaran dari Professor, saya mendapat email untuk wawancara dengan manager Human Resources (HR) melalui skype. Berhubung saya tidak punya banyak pengalaman tentang wawancara, saya meminta waktu 3 hari untuk mempersiapkan diri.

Materi latihan wawancara saya kebanyakan berasal dari Youtube, hahaha. Dari sana saya mendapat banyak informasi dan pelajaran menarik tentang interview, bagaimana bersikap, bagaimana berpakaian dan bagaimana menjawab pertanyaan. Saya merangkum hal-hal penting dalam beberapa lembar, termasuk kira-kira pertanyaan dan jawaban apa yang akan saya berikan. Pokoknya saya sudah siap dengan wawancara dengan manager HR KAUST.

Di waktu yang telah ditentukan, manager HR memulai wawancaranya melalui Skype dengan sedikit pembukaan dan langsung mengajukan pertanyaan pertamanya:

“Tell me about yourself”

 Aha! Ini pertanyaan umum yang pasti akan ditanyakan dalam sesi wawancara. Maka saya membuka kembali catatan yang telah saya siapkan semalaman dan mulai menjawab:

My name is Danang… bla-bla-bla” dan seterusnya… Saya sebenarnya menyiapkan jawaban yang cukup panjang dan bagus… tapi tiba-tiba.

Okay-okay, it`s enough!” ujar si manager.

Saya shock! Diberhentikan tiba-tiba tentu membuat kepala jadi buyar. Apa saya salah kata? Waduh… habis sudah, pikir saya dalam hati.

Actually, I have read your CV and know everything…” sambung beliau. “Well, congratulation passing this interview and good luck with your next step…

Gedubrak!… Jadi???

That`s all for this interview???” tanya saya.

Yes…” jawab si manager sambal terkekeh… “Are you married? Have you been to Saudi Arabia before?” sambungnya.

Benar-benar pertanyaan wawancaranya tidak seperti yang saya takutkan hehe.

Wawancara hari itu diakhiri dengan obrolan singkat tak lebih dari 5 menit, saya terhenyak di depan laptop.

“Ya Allah…” dimikian pikir saya sembari menghela nafas panjang “padahal persiapan saya sudah matang sebelumnya, pakai kemeja, dasi, dan nyiapin catatan wawancara. Ternyata wawancaranya sebentar banget. Kayaknya persiapan saya terlalu matang hehe”.

Tapi, alhamdulillah di sisi lain saya bersyukur atas kemudahan tahapan wawancara ini. Istri saya ketika mengetahui wawancara bahwa saya ternyata sangat singkat hanya tergelak saja mengingat persiapan yang sudah super “heboh” semalam sebelumnya.

Di kemudian hari saya baru mengetahui bahwa wawancara dengan manager HR KAUST memang singkat dan mungkin sifatnya formalitas saja.

Bersambung…

Tautan luar: http://www.kaustina.org

2 thoughts on “A long and winding road to Postdoc (2)

  1. Pingback: A long and winding road to Postdoc (1) | Walking the Earth - Diving the Oceans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s