A long and winding road to Postdoc (1)

Rangkaian tulisan ini bertujuan untuk merangkum “perjalanan panjang” saya melamar posisi Postdoctoral Fellow di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) dari Jepang. Semoga memberikan manfaat bagi sesiapa saja yang membutuhkan info ini.

Website resmi KAUST: http://www.kaust.edu.sa/

Note: Karena fitur auto correct bahasa Inggris di laptop saya, ada beberapa kata yang sepertinya terkoreksi tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Alhamdulillah, bulan September 2015 silam saya resmi menyelesaikan program studi S3 saya di University of the Ryukyus, sebuah universitas negeri di pulau Okinawa, di selatan Jepang. Seperti layaknya wisudawan pada umumnya, hal yang terbersit dalam benak menjelang dan selepas lulus S3 adalah: “Kemana selanjutnya akan melangkah?”

Yang tergambar dalam pikiran saya kala itu hanya dua:

  • Mencari pekerjaan tetap, semisal dosen, peneliti ataupun kerja di industry
  • Melanjutkan program postdoctoral

Setelah lama menimbang dan diskusi dengan istri, akhirnya saya menjatuhkan kepada pilihan yang kedua: melanjutkan ke program postdoctoral.

Bagi sebagian yang masih awam tentang program postdoctoral, program ini merupakan jenjang yang boleh dan bisa ditempuh bagi lulusan S3 untuk mengasah kemampuan saintifiknya, memperdalam kemampuan analisisnya dan memperbaiki Curriculum vitae akademiknya. Ini semacam program magang atau kontrak di lembaga riset atau universitas namun tentunya tanpa gelar. Durasi lamanya postdoc ini berkisar antara beberapa bulan hingga maksimal 5 tahun (jika beruntung hehe). Intinya, seorang postdoc akan dikontrak untuk melakukan penelitian atau proyek dengan imbalan “gaji” yang jumlahnya disepakati di awal kontrak. Di Indonesia, sepertinya belum ada lembaga riset atau universitas yang menerapkan program postdoctoral, namun di luar negeri, semisal Jepang, Malaysia, Brunei, Korea Selatan, negara-negara di Eropa dan Amerika banyak posisi postdoc yang ditawarkan.

Besarnya gaji? Tentunya atau harusnya sangat memadai hehe. Di Jepang misalnya, “gaji” seorang postdoc lebih dari 30-40 juta rupiah sebulannya, tentu masih dipotong pajak dan lainnnya. Besaran gaji sebenarnya sangat relative, tergantung dari besarnya dana proyek penelitian ataupun kebijakan “principal investigator” atau pembimbing. Bisa besar bisa kecil, yang pasti semakin bagus skill dan pengetahuan yang kita miliki, semakin baik juga “pendapatan” yang akan diterima.

Mengingat banyaknya lulusan S3 di luar negeri setiap tahunnya, tentunya semakin kompetitif juga untuk mendapatkan posisi postdoc. Ditambah lagi, tentu tidak sembarangan orang yang ingin mempekerjakan orang menjadi postdoc untuk menjalankan proyek penelitian di sebuah lembaga riset atau universitas. Calon professor atau pemberi dana penelitian akan melakukan seleksi yang sangat ketat terhadap pelamar, terutama dalam hal publikasi, kemampuan meneliti dan juga ide atau proposal riset.

Dari sekian banyak universitas di dunia yang memberikan kesempatan postdoc, KAUST merupakan satu-satunya universitas di dunia yang memberikan fasilitas “super wah”, termasuk gaji terbesar di dunia bagi seorang postdoc, belum lagi fasilitas rumah mewah gratis, dan tentunya kesempatan buat Umrah dan Haji dengan lebih mudah (lebih lengkap silakan merujuk ke www.kaustina.org). Dari beberapa info inilah kemudian saya memutuskan untuk mencoba peruntungan melamar postdoc di KAUST.

Namun perjalanan saya ternyata tidak semudah angan-angan. Sepertinya sudah sunnatullah, apabila kita menginginkan sesuatu yang “besar” maka usahanya pun harus sebanding.

Bulan September 2015, saya memulai proses aplikasi postdoc ke KAUST dan juga ke beberapa instansi penelitian di luar Jepang. Saya memutuskan untuk tetap berada di Jepang selama proses ini dengan pertimbangan Jepang dapat memberikan lingkungan dan layanan yang efektif dan efisien bagi saya, ketimbang saya pulang ke tanah air dan mencoba untuk mencari posisi postdoc dari Indonesia. Meski, waktu itu saya dan istri harus benar-benar bertahan dengan uang tabungan seadanya, sambil berharap semoga Allah memberikan jalan keluar secepatnya. Selama proses mencari kerja ini saya meminta izin ke pembimbing S3 saya untuk tetap bisa melakukan penelitian di lab, Alhamdulillah beliau mengizinkan, meski status saya hanyalah voluntary postdoctotal fellow, alias tidak menerima gaji hehehe. Tapi, paling tidak dengan status ini saya masih bisa mendapat akses ke lab dan kampus untuk sesekali melanjutkan penelitian atau update bacaan jurnal.

Dari beberapa instansi yang saya kirimkan lamaran, ternyata semuanya menolak saya, termasuk KAUST. Sempat putus harapan juga awalnya, namun istri terus menyemangati untuk tetap mencoba.

Awal bulan Oktober 2015, saya mengirimkan kembali beberapa lamaran, kali ini dengan menghubungi langsung Professor dengan harapan jika proposal riset saya langsung dibaca maka, peluang untuk diterima lebih besar, demikian pikir saya waktu itu. Beberapa institusi penelitian yang saya kirim lamaran postdoc saya diantaranya: JAMSTEC, OIST, KAUST dan Hokkaido University. Rerata Prof. yang membalas juga menolak saya dengan halus dengan alasan tidak memiliki dana riset. Kegagalan demi kegagalan ini mengingatkan akan proses saya melamar beasiswa S2 ke Jepang saat S1 dulu.

Saya mengevaluasi diri, kira-kira apa yang bisa diperbaiki dari lamaran postdoc saya ini, evaluasi CV, evalusai proposal dan evaluasi cara menulis email pengantar… browsing-browsing, baca-baca, coba-coba… inilah proses yang saya tempuh. Termasuk juga evalusasi diri dengan mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki ibadah, minta do`a kepada orang tua dan orang-orang salih dan sebagainya, karena saya percaya bahwa kesuksesan saya dalam meraih impian tak akan lepas dari keridhoan Allah dan dukungan orang-orang di sekitar saya.

Istri pun turut sibuk mencari informasi postdoc dari internet yang kemudian saya pilah lagi mana yang sesuai dan mana yang tidak. Kebanyakan posisi yang dibuka saat itu memang tidak berkaitan dengan bidang saya: Taksonomi, sistematik dan filogenetik molekuler mikroalga. Sempat merasa “down” dan berpikir untuk mencoba terjun ke dunia industri… meski secara pribadi saya masih berat untuk ke sana.

Dalam kondisi terpuruk tanpa kejelasan pekerjaan seperti itu, pada suatu sore sepulang dari lab, ketika badan masih letih dan pikiran penat akan berbagai pikiran, tetiba HP saya bergetar menandakan ada email masuk.

“… I am really interested in your research proposal and would like to discuss more about this…

demikian bunyi kalimat dalam email tersebut… dan kali ini dari salah satu Professor di KAUST. Mashaa Allah…

Letih dan putus asa yang saya rasakan beberapa hari sebelumnya seolah menguap begitu saja, berganti dengan luapan bahagia dan syukur tiada terkira. Padahal ini baru email balasan saja, belum ada kabar positif saya diterima atau tidak… tapi saya dan istri begitu girangnya malam itu, tak berputus-putus kesyukuran kami ucapkan pada Allah… karena setelah banyaknya penolakan yang saya dapatkan, ada secercah harapan yang muncul.

Fa inna ma`al `usrii yusroo

Inna ma`al `usrii yusroo

Karena sesugguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan

Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan

Klik di sini untuk membaca bagian kedua!

5 thoughts on “A long and winding road to Postdoc (1)

  1. ternyata yang namanya penolakan itu memang “wajar terjadi” ya. Hahaha… Sempet down setelah tiga kali ditolak aplikasi S3 di Jerman, saatnya bangkit dan berikhtiar lagi dengan mental “siap ditolak” lagi.

    Allah Maha Mengetahui yang Terbaik.

    Karena sesugguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

  2. Pingback: A long and winding road to Postdoc (2) | Walking the Earth - Diving the Oceans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s