Building the road to reach the dreams: Mahasiswa Berprestasi Nasional (Mawapres)

Bissmillahirrahmannirrahim…

Tulisan ini terwujud dari akumulasi pertanyaan yang saya terima melalui dunia maya yang bertanya bagaimana caranya ikut seleksi mahasiswa berprestasi (Mawapres) nasional dan apa saja kiat-kiatnya. Penuturan dalam tulisan ini saya dasarkan atas pengalaman pribadi ketika mengikuti ajang kompetisi ini pada tahun 2007 silam ketika masih duduk di bangku S1 Institut Pertanian Bogor (IPB). Bisa saja info yang saya berikan di sini masih berlaku untuk seleksi mawapres setelahnya, namun mungkin saja sudah out-dated (kadaluarsa) karena peraturan dan mekanisme seleksinya sudah diperbaharui setelah tahun 2007 itu. Anda bisa mencari berita updatenya di universitas Anda ataupun berkunjung ke website DIKTI dan lainnya. Apapun itu, setidaknya semoga sedikit banyak tulisan ini dapat menjadi gambaran dasar yang bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Namun pesan yang menurut saya penting untuk saya sampaikan adalah: “Mawapres itu hanyalah satu dari sekian banyak kompetisi mahasiswa yang bisa Anda ikuti. Tidaklah menjamin seseorang yang menjadi mahasiswa berprestasi tingkat nasional sekalipun masa depannya akan terjamin 100% cerah dan sukses tanpa hambatan. Dan tidak menjamin pula bahwa siapa saja yang terpilih menjadi mahasiswa berprestasi nasional predikatnya lebih baik dari mahasiswa lainnya. Predikat seseorang tidaklah ditentukan semata dari sebuah kompetisi seperti ini, namun ada banyak faktor lainnya yang turut mempengaruhi. Bagi yang tidak terpilih, tidak perlu berlebihan dalam kesedihan atau kekecewaan, bagi yang terpilih sesungguhnya itu adalah awal dari pembuktian dan tanggung jawab kepada “dunia” apakah Anda memang layak terpilih sebagai mawapres setelah seleksinya. Tak sedikit yang menjadi mawapres, namun kemudian “hilang” tak terdengar seletelahnya. Anda dilihat bukan saja saat “menang”, namun bagaimana Anda mampu menjadi “mawapres” yang bisa bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain setelahnya :) … Namun jangan pula beranggapan bahwa harus jadi mawapres dulu baru bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain… jangan tunggu jadi mawapres untuk dapat memberikan motivasi dan inspirasi… tapi mulailah dari sekarang dengan apapun predikat yang Anda miliki untuk menginspirasi dan memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang :) Insya Allah…

Well, mari kita mulai…

Penjelasan teknis mengenai persyaratan Seleksi Mahasiswa Berprestasi dari DIKTI dapat Anda download di sini sebagai pedoman umum:

CLICK HERE!

Di dokumen itu sangat jelas sekali persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa ikut dalam seleksi mawapres. Silakan dibaca secara teliti apakah syarat-syarat tersebut Anda miliki atau belum. Sekiranya belum, upayakan untuk dapat memenuhi syaratnya. Jangan tanya ke saya bagaimana jika ada syarat yang tak dimiliki, karena jawaban saya akan sama: “Penuhi semua syaratnya tanpa kecuali, apapun alasannya”.

Saya akan menjelaskan dari sudut pandang saya pribadi berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan.

Mahasiswa Berprestasi Nasional merupakan kompetisi tahunan yang biasanya diselenggarakan dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional ataupun hari kemerdekaan RI. Tujuan dari kompetisi ini adalah menyeleksi 1 mahasiswa terbaik di tanah air (Ranking 1-3 dari 15 finalis terbaik) berdasarkan berbagai penilaian dan pertimbangan, baik itu prestasi akademik (intra dan ekstra kampus), prestasi ekstrakurikuler (intra dan ekstra kampus), penilaian psikologis dan kemampuan diri (soft skill/hard skill), dan penilaian berdasarkan penulisan dan presentasi karya tulis. Disamping penilaian tersebut juga terdapat pertimbangan-pertimbangan dewan juri yang sifatnya melengkapi penilaian utama. Seleksi dilakukan secara bertingkat dengan pemenang terbaik (juara 1) saja yang akan lanjut pada tahap selanjutnya.

Kompetisinya dimulai dari bagian terkecil dari Universitas yaitu Program Studi/Departemen/Jurusan. Di sini mekanisme seleksinya diserahkan kepada masing-masing jurusan, sehingga perbedaan sistem seleksi antar jurusan bisa saja terjadi. Misal tahun 2007 silam, tak ada yang mendaftarkan diri dalam seleksi mawapres jurusan selain saya sendiri, sehingga tanpa seleksipun saya sudah lolos ke tahap fakultas. Namun di jurusan lain, kompetisinya sudah berlangsung cukup ketat dengan mekanisme yang yang sangat detail (karya tulis dan presentasi, wawancara bahasa inggris, seleksi dokumen, dan lainnya), hanya rangking 1 saja yang kemudian akan maju ke seleksi tingkat fakultas. So, kenali bagaimana mekanisme seleksi di jurusan Anda untuk bisa lolos ke tahap selanjutnya. Bertanya ke orang yang tepat di jurusan Anda adalah langkah yang baik untuk mendapatkan kiat-kiatnya sekaligus gambaran seleksinya. Selama Anda masih berumur dibawah 25 tahun, Anda bisa ikut kompetisi ini.

Selepas seleksi di jurusan, juara 1-nya akan berkompetisi di tingkat fakultas. Di sini Anda akan bertemu dengan mahasiswa terbaik di setiap jurusan dalam fakultas Anda. Biasanya kompetisi di tingkat ini sudah lebih ketat persaingannya. Namun mekanismenya pun diserahkan ke dewan juri yang dibentuk dalam masing-masing fakultas. Perbedaan mekanisme seleksi masih dapat ditemukan di sini. Namun sebaiknya, panitia seleksi fakultas sudah bisa menerapkan mekanisme seleksi dan penilaian berdasarkan petunjuk dari DIKTI atau setidaknya menggunakan metode penilaian yang sama seperti yang digunakan di tingkat nasional. Tujuannya adalah agar nantinya mahasiswa yang lolos ke tingkat nasional dari fakultas tersebut sudah terbiasa dengan mekanisme penilaian yang ada. Sayangnya beberapa kampus masih menggunakan mekanisme seleksi yang sebenarnya kurang relevan untuk menentukan mawapresnya. Sorry to say, masih ada yang ngandalin “jaringan” orang dekat… nepotisme… ataupun memakai penilaian yang sebenarnya bukan penilaian utama dalam mawapres, misalnya si calon adalah anggota massa organisasi yang “berkuasa” di kampus, dia adalah ketua BEM, ketua kelembagaan dan lainnya. Padahal sangat jelas sekali yang menjadi penilaian terbesar adalah: Karya Tulis (dan presentasinya), Prestasinya, dan Kemampuan Bahasa Inggris. Alhasil, mawapres-mawapres yang lolos seleksi melalui mekanisme yang kurang baik… akan langsung tak berkutik ketika berhadapan dengan mawapres yang diseleksi berdasarkan mekanisme yang sesuai standar seleksi mawapres nasional.

Pengalaman saya ketika seleksi fakultas, penilaian yang akan terlihat secara kentara oleh dewan juri dan audiens yang menyaksikan adalah: Karya Tulis dan Presentasinya. Akan bisa dengan cukup mudah melihat apakah calon mawapres fakultas memiliki qualitas penulisan dan presentasi yang baik atau tidak hanya dengan melihat tulisan dan gaya presentasinya. Di sini jelas, mereka yang sudah terlatih dalam ajang kompetisi penulisan semacam LKTM, PIMNAS, dan lainnya akan terlihat sekali pengalamannya. Maka dari itu biasanya para calon mawapres yang ikut seleksi adalah mereka yang sudah punya banyak pengalaman di kampus selama 2-3 tahun, dalam kata lainnya mereka yang berada di tingkat 3 atau 4 masa kuliahnya.

Tak ada larangan bagi mahasiswa tingkat 1 atau 2 untuk ikut seleksi, namun biasanya mereka akan sulit bersaing dalam hal pengalaman dan pencapaian prestasi dibandingkan mahasiswa tk 3 atau 4. Saran saya adalah, perbanyak pengetahuan mengenai penulisan karya tulis ilmiah dan latih kemampuan presentasinya. Ada banyak caranya: ikut klub sains atau organisasi ilmiah di kampus, ikut kompetisi, atau sekedar baca-baca karya tulis para pemenang kompetisi ilmiah, ataupun sekedar nonton presentasi kompetisi ilmiah untuk mendapatkan gambaran bagaimana presentasi yang baik dan benar.

Dari seleksi tingkat fakultas, hanya mawapres terbaik 1 fakultas saja yang akan melaju pada tahap selanjutnya yaitu tingkat universitas. Di tingkat ini kompetisi akan terasa sangat ketat sekali, terlebih lagi jika Anda berada di kampus yang cukup besar dan terkenal karena melahirkan banyak juara-juara dalam berbagai ajang kompetisi. Biasanya seleksi di tingkat universitas sudah menerapkan mekanisme standar nasional.

Hal penting dalam seleksi mawapres adalah mengenai manajemen waktu. Ketahui sejak awal kapan biasanya seleksi mawapres di kampus Anda dilaksanakan, sehingga Anda punya persiapan yang baik sejak jauh-jauh hari. Jika Anda berpikir bahwa Anda bisa menyiapkannya di tengah-tengah ajang seleksinya, itu bukanlah pilihan yang bijak, karena nantinya Anda sendiri akan kesulitan menghadapinya, karena bisa saja seleksi mawapres di kampus Anda bertepatan dengan ujian tengah semester atau akhir semester. Jangan sampai justru salah satunya membuat nilai Anda justru tidak baik. Persiapan terbaik adalah persiapan yang dilakukan secara matang sejak jauh-jauh hari.

Pengalaman saya di seleksi tingkat universitas, penilaian sudah dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari presentasi karya tulis, tes TOEFL/IELTS/TOEIC, wawancara, dan seleksi berkas. Hal penting selain karya tulis yang perlu Anda siapkan adalah curriculum vitae alias CV. CV yang baik adalah yang menggambarkan secara menyeluruh hal-hal atau pencapaian penting dalam “perjalanan” Anda selama di kampus. Baik itu prestasi dalam kampus semisal IPK (ini juga poin penting dalam mawapres), prestasi lokal, nasional, ataupun internasional, dan tentunya pencapaian lainnya misalnya keiikutsertaan dalam training, workshop, atau organisasi. Semua itu memiliki poin-poin tersendiri dalam berkas penilaian. Misal prestasi internasional punya nilai yang lebih tinggi dibandingkan prestasi nasional atau lokal. Jabatan dalam organisasi juga mendapat poin-poin berbeda berdasarkan tingkatannya, misal ketua organisasi mendapatkan poin paling tinggi dalam penilaian keaktifan berorganisasi dibandingkan jika statusnya hanya menjadi anggota. Oleh karenanya semua hal itu penting untuk disiapkan dan dicapai sejak awal masa kuliah Anda. Anda bisa melihat CV lama saya di sini:

CLICK HERE!

CV saya tersebut adalah format biasa yang dulu saya ajukan untuk seleksi ke Jepang. Formatnya mirip dengan CV yang saya ajukan di tingkat universitas. Namun perlu Anda ketahui, CV dengan prestasi melimpah dan pengalaman organisasi yang wah tentu akan terlihat biasa-biasa saja jika Anda menampilkannya seperti CV saya di atas. Maka Anda bisa meniru desain CV dari rekan saya yang juga mawapres IPB 2007, Mbak Nur Hasanah (contoh filenya bisa minta ke beliau hehe).

Yang menarik dari desain CV-nya adalah, beliau membuat CV-nya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti booklet atau majalah dengan sampul yang menarik. Kesannya lebih rapi dan profesional dan bagi dewan juri tentu itu bisa menjadi pertimbangan tersendiri, meski tidak masuk dalam penilaian. Tapi jangan juga terlalu berharap banyak jika CV-nya biasa-biasa saja kemudian didesain bagus akan mendatangkan hasil yang luar biasa. Oleh karena itu penting sekali memiliki CV yang bagus ditambah lagi dengan desain berkas yang disusun rapi dan menarik.

Hal penting yang sudah saya sebutkan di atas adalah IPK. Sebaiknya ketika mendaftar untuk mawapres IPK Anda termasuk dalam kategori sangat memuaskan minimal sekali 3.00 lebih tinggi lebih baik. Terus bagaimana jika IPK Anda kurang dari itu? Well, tak ada salahnya tetap mencoba, namun Anda juga perlu ingat bahwa IPK adalah syarat pertama dalam seleksi mawapres, meski komponen-komponen lainnya akan dilihat juga. IPK saya ketika mendaftar mawapres 2007 di IPB adalah 3.30, bukan termasuk IPK yang tinggi jika dibandingkan mawapres terbaik 1 fakultas lainnya di IPB. Namun, sudah termasuk kategori aman dalam screening awal mawapres.

Seleksi di tingkat universitas biasanya tantangan dan pressurenya cukup tinggi, sehingga kualitas mental calon mawapres universitas juga akan diuji. Di tingkat ini akan kelihatan sikap dan mental para calon mawapres. Mereka yang sangat aktif dalam organisasi atau kelembagaan akan kentara sekali cara bicaranya yang persuasif, argumentatif dan komunikatif namun seringkali penyampaiannya tidak memakai bahasa Indonesia yang baku, karena memang dalam organisasi hal itu tak terlalu dibutuhkan. Mereka yang study oriented student akan juga kelihatan bagaimana ia berbicara secara teratur, kadang kaku, sistematis, dan argumennya kuat, namun seringkali sulit untuk dipahami oleh para audiens atau bahkan dewan juri (hehe… pernah lihat soalnya jurinya pada ga mudeng dengan presentasi karya tulis seorang rekan). Ada juga yang mungkin sangat jarang atau belum pernah presentasi sama sekali, sehingga waktu gilirannya maju, buyar atau justru tak berkutik menyampaikan presentasinya. Nah bagusnya yang seperti apa? Ada banyak contoh tata cara presentasi yang baik dan menarik. Anda bisa belajar dari banyak kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di kampus Anda.

Apakah Anda akan “dibantai” oleh dewan juri saat presentasi Anda? Anda takut??? Well, kalau Anda takut dengan itu berarti Anda mungkin belum siap untuk menjadi mawapres. Bagi saya “dibantai” atau tidak selama seleksi… tak ada bedanya. Selama karya tulis Anda itu memang baik dan kuat pondasi data serta pembahasannya dan Anda memang menguasainya, saya rasa tidak ada yang perlu ditakutkan. Pun ketika misalnya dewan juri “membantai” Anda dengan pertanyaan atau kritikan yang bertubi-tubi itu tak lain dan tak bukan untuk menguji seberapa kemampuan Anda mempertahankan karya tulis ilmiah Anda dan kapan Anda mampu menerima masukan dan kritikan itu. Selama presentasi karya ilmiah, biasanya jika seleksinya di IPB misalnya, akan ada psikolog yang turut memantau sikap kita selama dalam “tekanan” itu. Pertimbangan dari psikolog itu nantinya yang akan menjadi masukan penting dalam seleksi mawapres. Jadi semua aspek dalam diri seorang mawapres akan dilihat dan dinilai.

Dalam sesi wawancara misalnya, dewan juri akan bertanya banyak hal kepada Anda misalnya terkait dengan data CV yang Anda serahkan. Dewan juri sebelumnya akan mengecek berkas CV Anda apakah data yang Anda cantumkan di sana sesuai dengan berkas pendukung yang Anda lampirkan atau tidak. Berkas lampiran yang mana??? Yaitu sertifikat, surat keterangan, atau dokumen pendukung lainnya yang menyatakan secara resmi bahwa Anda adalah pemenang lomba, peserta konferensi, atau anggota/pengurus organisasi. Tanpa itu, data yang Anda tuliskan di CV Anda (meski itu jujur dan memang fakta) akan menjadi sia-sia karena tak ada bukti otentik yang menyertainya. Oleh karenanya sangatlah penting menyiapkan berkas-berkas pendukung itu. Mintalah sertifikat atau surat keterangan jika Anda ikut seminar/konferensi ataupun lomba. Mintalah surat pengantar atau keterangan dari organisasi Anda. Seringkali banyak calon mawapres yang keteteran menyiapkan data pendukungnya alhasil penilaian yang seharusnya tinggi, menjadi berkurang sangat banyak karena tak adanya data pendukung tersebut.

Selain seleksi utama, ada juga tes psikologi yang waktu itu diberikan oleh tim seleksi di IPB dengan mengundang tim psikolog yang memang berpengalaman dalam tes psikologi. Tesnya secara umum sebenarnya sederhana dan mudah, karena intinya adalah kita mengerjakan soalnya sesuai dengan apa yang kita tangkap dan kita tahu, apa adanya. Misalnya Anda diminta untuk menggambarkan diri Anda seperti apa… atau melanjutkan gambar dari pola-pola yang ada di kertas secara bebas… atau bercerita tentang diri Anda sendiri… semuanya itu tak ada istilahnya benar dan salah… namun dari sanalah kecenderungan kepribadian Anda akan terlihat. So, jika Anda terbiasa menjadi orang yang baik dalam kehidupan Anda… insya Allah hasilnya saya rasa juga akan baik… wallahualam…

So… sampai di sini saya sudah menjelaskan secara umum apa saja tahap yang Anda harus lewati dalam seleksi mawapres dalam universitas. Saya akan menjelaskan kiat-kiatnya menyiapkan diri memenuhi syaratnya secara lebih khusus. Namun tentunya bersifat objektif karena diambil dari pengalaman saya pribadi, sehingga bagi yang tidak cocok dengan kiat-kiat yang saya berikan, bisa menyesuaikan dengan kondisinya.

  1. Bagaimana agar IPK minimal tetap 3.00 dari awal kuliah hingga seleksi mawapres?

Jawabannya sederhana sebenarnya, belajar yang serius dan mengulang-ulang materi kuliah Anda, jika perlu latihan yang sering sehingga Anda tidak sekedar bisa mengerjakan soal-soal dalam UTS atau UAS, namun juga paham dengan apa yang Anda pelajari. Believe me… ilmu yang Anda kira tak berguna selama kuliah… insya Allah nantinya akan Anda sadari sangat berguna di masa depan, jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk belajar. Usahakan setiap ujian Anda mendapat nilai minimal B, susah? Ya mungkin saja, tapi bukan berarti ga bisa, kan ya? Paksa diri, jalan kesuksesan memang ga mudah. Jika malas adalah alasannya… saya hanya akan bilang, how pathetic you are (sorry to say…)! Apa Anda gak pengen lihat orang tua Anda bangga kalo kita punya prestasi yang bagus? Motivasi terbaik saya adalah membahagiakan orang tua dan itu selalu berhasil membuat saya bersemangat. Tentu Anda bisa mencari motivasi Anda sendiri… fleksibel saja.

  1. Bagaimana agar data CV kita bagus?

Data CV akan bagus kalo kita aktif dalam berbagai kegiatan selama menjadi mahasiswa. Bisa ikut dalam organisasi yang baik dan terarah serta punya tujuan yang memang dapat membuat Anda menjadi lebih baik, atau ikut seminar dan konferensi, aktifitas sosial atau aktifitas yang sifatnya sementara misalnya menjadi panitia suatu acara.

Di sini saya tekankan, bukan berarti karena pengen punya banya data untuk CV kemudian Anda ikut banyak sekali organisasi (umumnya ini kesalahan strategi yang sering dilakukan oleh banyak mahasiswa baru)… cukuplah Anda ikut 1-2 organisasi yang benar-benar BAIK dan Anda aktif di dalamnya dalam berbagai kegiatannya. Mengapa saya tekankan organisasinya harus baik? Karena tidak sedikit organisasi yang kelihatannya bagus dan solid di luar, namun di dalamnya justru “menghancurkan” diri Anda, bahkan seringkali tanpa Anda sadari. Anda boleh saja bergabung dalam organisasi yang memang Anda SUKA berada di dalamnya, tapi SUKA saja ga cukup. Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu mendidik Anda  menjadi insan yang rabbani, manusia yang baik, dan bukannya mendoktrin Anda dengan sesuatu yang justru menghancurkan pondasi dasar Anda baik saat recruitment-nya atau dalam aktivitasnya. So, pilihlah organisasi dengan bijak.

Misal pengalaman saya di IPB, saya pernah “mencoba dahulu” beberapa organisasi untuk kemudian menentukan manakah yang terbaik untuk saya selama berada di IPB dan masa depan. Ada organisasi yang jelas-jelas menyebutkan “ISLAM” di dalamnya, namu sewaktu open recruitment justru mereka menggoyahkan pondasi pemahaman tentang Islam dan Iman para calon anggota dengan pertanyaan yang menurut saya sangat bodoh untuk ditanyakan oleh para seniornya, semisal: “Sejak kapan kamu jadi muslim ?” “Kamu kalo sudah sholat masih do’a gak? Lho ngapain do’a, kan sholat dah termasuk do’a…?” atau pertanyaan super tolol lainnya yang hanya berlandaskan logika kelas rendahan. Sewaktu saya jawab pertanyaan “dodol” itu dengan logika balik:

“Saya muslim sejak ruh ditiupkan ke dalam diri saya saat berada di dalam janin ibu saya. Ada di dalam Al Qur’an. Nah Anda sendiri sejak kapan muslimnya, mas?”

Atau…

“Wah… mas sendiri tahu gak bedanya antara do’a dan sholat? Kalo menurut mas sholat itu sama dengan do’a, coba dong bagian mana dari sholat yang ada do’anya dan artinya apa ya mas?”

Eh yang ada dianya malah marah-marah hehe…  apa organisasi yang beginian yang mau diikuti? Belum lagi kalo melihat pergaulan di dalam organisasi tersebut yang justru sangat jauh dari yang namanya Islam… tak ada batasan antara lelaki dan perempuan, penampilan tak sedikit yang urakan, atau bahkan sholat saja ga dikerjakan… lha… apa yang seperti ini yang ingin dijadikan organisasi selama kuliah? Pertanyaan2 seperti di atas bisa sangat berbahaya bagi para mahasiswa baru yang mungkin masih awam dan butuh banyak bimbingan.

Hehe… malah ngalor ngidul saya bahasnya. Intinya adalah berhati-hatilah dalam memilih “teman-teman” Anda, karena merekalah yang akan mempengaruhi lingkungan Anda nantinya.

Selama di IPB saya beruntung bisa memilih organisasi yang benar-benar bisa menjadikan diri saya menjadi pribadi lebih baik, semisal saya aktif di unit kegiatan mahasiswa (UKM) Taekwondo dan Karate (karena memang hobi sejak kecil), ikut dalam klub fotografi, dan juga aktif di lembaga dakwah tarbiyah fakultas dan kampus di bagian ilmiahnya. (Sayang waktu itu belum ada Forum for Scientific Studies (FORCES) IPB). Dari semua organisasi itu saya benar-benar mendapatkan manfaat yang luar biasa.

Cara lain menambah data CV adalah sering lihat informasi kompetisi baik skala lokal, nasional, atau internasional. Bisa melalui mading kampus, di bagian kemahasiswaan rektorat, atau bisa juga search lewat internet. Begitu juga mengenai seminar atau konferensi. Namun yang paling utama adalah, bukan karena ingin CV kita jadi bagus barulah kita ikut aktif… tapi niatkanlah untuk mendapatkan ilmu. Untuk bahasan mengenai konferensi ilmiah… silakan baca tulisan saya sebelumnya. Dari aktif berorganisasi yang baik atau turut dalam berbagai kompetisi dan seminar ini pula nantinya Anda akan terlatih dalam sikap dan tutur katanya.

  1. Bagaimana melatih kemampuan bahasa Inggris?

Sebenarnya atau mungkin lebih tepatnya… seharusnya setiap lulusan SMA di tanah air sudah bisa berbahasa inggris… karena sejak SMP atau bahkan sejak SD, kita sudah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris. Hanya saja kemudian banyak “alasan” yang menjadikan kita ga bisa-bisa berbahasa Inggris. Namun bagi Anda yang memang belum bisa berbahasa Inggris… maka sejak tingkat 1 kuliah Anda harus benar-benar melatih kemampuan berbahasa Inggris Anda dengan benar-benar serius. Anda bisa memulai dengan ikut kursus intensif berbahasa Inggris ataupun belajar secara mandiri. Misalnya dengan mendengarkan lagu-lagu atau nonton film berbahasa Inggris, membiasakan membaca buku bahasa Inggris… atau bahkan dengan main game berbahasa Inggris. Yang jelas… tujuan utamanya adalah belajar bahasa Inggris dan kemudian membiasakannya.

  1. Softskill lainnya perlukah?

Perlu! Keterampilan Anda dalam menguasai suatu hal akan sangat mendukung Anda nantinya. Kemampuan menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris, misal bahasa Jerman, Perancis, Mandarin, Jepang, atau lainnya bisa menambah penilaian dalam seleksi mawapres. Penguasaan Anda dalam keterampilan tertentu yang membuahkan hasil juga bisa menjadi pertimbangan. Misal: Anda suka dengan taekwondo, ikut UKM Taekwondo, kemudian menang dalam kompetisi taekwondo itu adalah hal yang akan sangat berguna nantinya.

  1. Saya ga punya dana banyak untuk mengasah diri, lalu bagaimana?

Well… dana bukanlah satu-satunya hambatan saya rasa… ada banyak yang bisa survive menjadi terbaik di bidangnya bahkan tanpa modal dana yang banyak. Asalkan Anda bisa tahu caranya. Saya rasa di kampus akan ada banyak kakak kelas Anda yang bisa dimintai masukan mengenai hal ini. Ada banyak kompetisi yang ga membutuhkan dana besar untuk modalnya, hanya modal rental komputer, ngeprint, dan jilid mungkin. Namun jika itu Anda siapkan dengan maksimal, insya Allah hasilnya pun akan sangat bagus. Saat ini ada banyak pelatihan2 karya tulis atau semacamnya yang kadang gratis atau kalaupun membayar tak terlalu mahal, silakan infonya dicari di kampus Anda masing-masing.

Dari 5 poin dan penjelasan di atasnya adakah yang ingin Anda tanyakan? Silakan ketikkan di bagian comment di bawah.

Saya akan lanjutkan dengan penjelasan tahap seleksi mawapres di tingkat nasional. Setelah seleksi tingkat universitas dilaksanakan. Ada 2-3 tahap lagi yang harus dilalui oleh mawapres terbaik 1 setiap universitas. Mekanismenya sedikit berbeda antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Mawapres terbaik 1 universitas negeri akan dapat langsung mengajukan berkas persyaratan untuk screening ke tahap final seleksi mawapres nasional. Sementara mawapres dari perguruan tinggi negeri harus kembali bersaing di tingkat kopertis (koordinasi perguruan tinggi swasta) sesusai dengan wilayahnya. Dari setiap kopertis, mawapres terbaik 1 dan 2 berhak mengajukan berkas persyaratn seleksi untuk ke tahap final seleksi mawapres nasional. Mengapa peraturannya seperti ini? Silakan tanyakan ke DIKTI hehe…

Apa saja berkas yang harus disiapkan untuk tahap seleksi mawapres nasional? SAMA dengan berkas yang Anda siapkan sejak dari tahap seleksi di jurusan. Hanya mungkin akan ada masukan dan perbaikan di sana-sini setiap kali Anda lolos melaju ke tahap seleksi berikutnya. Biasanya dewan juri akan berbaik hati memberikan masukan untuk Anda, maka ambil dan laksanakan. Berkas itu antara lain: Karya tulis ilmiah, CV, lembar IPK,  form pendaftaran, surat pengantar dari universitas yang menerangkan bahwa Anda adalah mahasiswa terbaik 1 universitas Anda, serta lainnya.

Tahap seleksi mawapres nasional sendiri ada dua tahap… pertama tahap seleksi berkas dokumen dimana ratusan mawapres terbaik 1 universitas dan terbaik 1 dan 2 kopertis akan diseleksi untuk menentukan 15 finalis terbaik mawapres nasional. Tahap kedua adalah tahap final yang akan mempertemukan 15 finalis terbaik mawapres di ajang nasional. Di tahap ini berarti Anda sudah bisa menyisihkan ratusan mawapres terbaik 1 universitas di tanah air untuk menjadi 15 terbaik nasional. Namun, seleksi nasional tekanan dan kompetisinya lebih ketat lagi. Dan setiap tahunnya mawapres nasional semakin naik level persaingan ketatnya.

Tahun 2007 silam saya mewakili IPB di tingkat nasional. Ketika bertemu dengan 14 finalis terbaik lainnya saya sangat menyadari bahwa mereka adalah sosok-sosok hebat yang siap untuk menjadi yang terbaik. Apapun dan bagaimanapun kondisinya… kompetisi ketat harus dijalankan dan dilalui bersama… meski ya selama kompetisi kita-kita enjoy-enjoy saja dengan canda dan tawa hehe… Sosok-sosok mawapres nasional 2007 yang saya temui waktu itu di kemudian hari memang benar-benar menjadi orang-orang hebat di bidangnya. Bukan berarti yang tidak lolos di tahap nasional tidak hebat… hanya saja saya waktu itu belum kenal dengan rekan-rekan lainnya… saya yakin merekapun tak kalah luar biasanya :)

Di seleksi tahap nasional… selain berkompetisi, Anda juga bisa menimba ilmu dan pengalaman… tidak hanya kepada sesama rekan mawapres nasional… tapi juga panitia dan para dewan juri yang benar-benar pakar di bidangnya masing-masing, selain juga untuk menjalin jaringan untuk masa depan.

Di tahap nasional, seleksi yang paling berat menurut saya adalah… seleksi wawancara dengan dewan jurinya. Pertanyaannya sungguh “dibuat” sedemikian rupa sehingga menguras pikiran dan kesabaran saya kala itu. Sepertinya memang sengaja untuk melihat daya tahan setiap peserta seleksi. Karena seleksi berlangsung mulai dari pagi jam 8 dan baru berakhir sekitar pukul 22.00 malam kala itu, siapa yang ga fit jasmani dan ruhaninya… mungkin akan cukup berat menghadapinya. Dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya kami harus berpindah-pindah untuk mendapat giliran seleksi. Hampir di setiap sesi seleksi, psikolog selalu ada untuk melihat berlangsungnya ajang seleksi. Dan tugas psikolog-lah yang kemudian memberikan pertimbangan akhir nantinya untuk setiap calon mawapres nasional. Pertanyaan yang diajukan ke saya seingat saya misalnya, yang sedikit nyeleneh dari dewan juri:

“Anda aktif di dakwah kampus? Tarbiyah? Wah pasti Anda PKS nih?” Mendapat pertanyaan yang tak terduga seperti itu, saya jawab saja: “Yang jelas  sih pak… bagi seorang muslim, dia adalah da’i sebelum menjadi apapun… mau PKS atau bukan, dosen atau mahasiswa, juragan atau petani… kalau dianya muslim ya tugas utamanya adalah berdakwah dalam setiap bidang yang ia jalani… tapi iya, Pak… saya di pemilu insya Allah akan milih PKS, tidak salah to?” Hehe… jurinya ga mudeng kayaknya… yo wes ben…

Rekan mawapres saya yang aktif sebagai ketua BEM di universitasnya diberondong dengan pertanyaan misalnya: “Ngapain sih BEM itu sering demo… apa layak kamu sebagai ketua BEM yang sering bolos kuliah untuk demo jadi mawapres?” dan pertanyaan yang benar-benar menguji kesabaran dalam menjawabnya.

Seru…

Seleksi nasional yang saya ikuti tahun 2007 silam mekanismenya relatif sama dengan seleksi di tahap universitas (IPB). Yang membedakan hanyalah prosedurnya. Misal untuk tahap bahasa Inggris… mekanismenya adalah peserta mengambil satu amplop tertutup yang isinya adalah tema yang harus disampaikan secara oral di hadapan dewan juri dan peserta lainnya. Anda diberikan waktu 1 menit untuk menyusun kerangka pemikiran kemudian menyampaikan penjelasan tema yang diberikan dalam amplop selama sekitar 7 menit. Setelahnya, dewan juri atau peserta akan bertanya. Nah di sini… kadang bisa jadi ajang “bunuh-bunuhan” karakter dan gagasan antara peserta hehe… beruntung waktu itu peserta di ruangan saya adem ayem saja saling mengerti untuk tidak saling menjatuhkan hehe…

Selama 2 hari para mawapres akan diuji, dan untuk dua hari berikutnya mereka akan menghadiri acara-acara kenegaraan (misal mengikuti sidang umum MPR menjelang hari kemerdekaan di gedung MPR-DPR bersama sosok-sosok terbaik lainnya di bidangnya… para pemimpin daerah, pelajar terbaik nasional, dosen dan guru terbaik / teladan nasional, dan sebagainya). Hari berikutnya mereka akan mengikuti upacara bendera di istana negara Jakarta. Dan tentunya mendengarkan pengumuman pemenangnya di kementrian pendidikan nasional.

That was one of the best thing of my life… :)

Demikian mungkin penjelasan umum tentang seleksi mawapres yang saya lalui di tahun 2007 silam dari tahap jurusan hingga tahap nasional. Tentu ada banyak pembaharuan di sana-sini sering dengan waktu. Dan semakin ke sini semakin hebat sosok-sosok yang menjadi mawapres nasionalnya. Namun menjadi juara atau pemenang hanyalah satu hal… dalam kompetisi menang dan kalah adalah dua hal yang pasti ada, tak mungkin terpisahkan. Proses menuju ke sanalah yang tak kalah pentingnya. Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan penjelasan dalam tulisan ini.

Komentar dan pertanyaan terbuka untuk siapa saja… silakan disampaikan lewat kolom comment di bawah ini :)

Bissmillahirrahmanirrahim…

Pada tulisan sebelumnya: “Let us buy a land in heaven, brother”, saya menceritakan kondisi proyek pembangunan masjid di Okinawa yang masih sangat lambat jalannya. Kali ini saya akan meneruskan info mengenai proses pembangunan masjid di Hiroshima, Jepang oleh rekan-rekan muslim di sana.

Pada dasarnya, kedua proyek ini sama-sama pentingnya, namun melihat kondisi saudara-saudara muslim di Hiroshima yang saat ini lebih (sangat) membutuhkan bantuan donasi keuangan untuk melunasi sisa pembayaran lelang yang habis masa tenggangnya pada 24 November ini, maka saya mengajak rekan-rekan yang sempat membaca tulisan ini untuk turut menyumbangkan sebagian rezekinya untuk mengambil kesempatan  ”membeli” tanah di syurga melalui donasi pembangunan masjid dan Islamic Center di Hiroshima, Jepang.

Sekiranya lewat tenggang waktu tersebut pembayaran belum dilunasi, maka uang DP sekitar 8 juta yen (sekitar 800 juta rupiah) akan hangus dan tanah yang akan dibangun masjid akan lepas dari kepemilikan rekan-rekan muslim di Hiroshima. Masya Allah… tentu kita tak ingin itu terjadi bukan?

Marilah kita turut membantu…

Untuk lebih jelasnya mengenai penyaluran dananya, bisa dibaca lebih lanjut pada tulisan di bawah ini.

Semoga Allah, membuka hati para dermawan yang rindu akan syurga :) , insya Allah… dan semoga diantaranya adalah kita-kita yang mengetahui kabar ini…

Allahu Akbar…

DAP-Okinawa


Forwarded Message:

Assalamualaikum wr wb
Rekan-rekan sekalian,

Menjelang hari raya Iedul Adha, kembali kami tawarkan kesempatan “membeli kavling tanah di syurga” melalui infaq untuk pembangunan  Islamic Cultural Center dan Masjid di Hiroshima. 

Tidak seperti kota-kota besar lain di Jepang, Hiroshima yang memiliki lebih dari 1000 orang muslim saat ini belum memiliki satu pun mesjid yang dapat digunakan sebagai tempat untuk beribadah dan bersosialisasi antar sesama muslim maupun berdakwah kepada masyarakat Jepang.

Alhamdulillah, setelah 15 tahun lebih berusaha, akhirnya keinginan warga muslim di Hiroshima untuk memiliki tempat ibadah insya Allah saat ini telah di ambang pintu. Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC), komunitas muslim yang terdiri dari beragam kewarganegaraan di Hiroshima, telah memenangkan sebuah lelang di Hiroshima Court atas sebuah tanah dan gedung seharga 40 juta yen. Namun mereka membutuhkan dukungan kaum muslimin semua untuk melunasi kekurangan dana lelang tersebut sebelum batas waktu 24 November 2011, atau mereka harus kehilangan uang DP sebesar 8 juta yen yg telah dibayarkan sebelum mengikuti lelang tsb.

Ini adalah kesempatan berinfaq yang insya Allah buah pahalanya akan mengalir terus, bahkan setelah kita wafat nanti, lewat kegiatan ibadah yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim kita di Hiroshima  Islamic Center tersebut nantinya, setelah berhasil terwujud… Semoga rekan-rekan sekalian berkenan untuk memberikan bantuan donasi untuk tercapainya cita-cita para muslim Hiroshima.

Sisa uang yang masih dibutuhkan: 7,31 juta yen (sekitar 750an juta rupiah)


Setelah memberikan donasi, dimohon agar memberikan konfirmasi dengan menghubungi salah satu CP yang tertera di akhir email ini.
Kami juga memohon bantuan rekan-rekan untuk meneruskan email ini kepada saudara-saudara sesama muslim lainnya.

Kami mengucapkan terima kasih atas segala upaya rekan-rekan dalam menyebarkan infomasi ini dan membantu mewujudkan cita-cita saudara-saudari muslim kita di Hiroshima.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat untuk rekan sekalian.

Wasalamu’alaikum wr.wb.

Donasi dapat disalurkan ke:
(Jepang)

JAPAN POST BANK
Code number: 15120
No. rekening: 39878311
a.n. Suwandana Endan (スワンダナ エンダン)

MOMIJI BANK
Branch code: 432
No. rekening: 2165970
a.n. Asep Suhendi (アセシプ スヘンヂイ)

(Indonesia)
BANK BCA KCP PONDOK CANDRA SURABAYA
No. rekening: 2160532079 a.n. Hewis Rakhendi

LINKS: 

CP:

Endan Suwandana
(Koord. Penggalangan Dana dari Komunitas Indonesia)
080-4260-1840 - endan2006@yahoo.com

Asep Suhendi
(Sekretaris Hiroshima Masjid Project)
080-3886-0020 - assuh102@gmail.com

Zaenal Mutaqin
(Presiden Keluarga Muslim Indonesia Hiroshima)
080-3059-8114 - sabdaalam@gmail.com

Rudy Rahmaddi
(Presiden Persatuan Pelajar Indonesia Jepang, Hiroshima)
080-4268-2802 - r_rachmadi03@yahoo.com

“Let’s “buy” a land in heaven brother…”

Demikian ujar seorang rekan muslim, yang tengah menempuh program doctoral di Ryudai, Okinawa. Selepas sholat Jum’at tadi beberapa brothers berkumpul untuk membahas proyek pembangunan masjid di Okinawa yang sudah 5 tahunan ini terkesan hanya jalan di tempat.

“Mari kita “membeli” tanah untuk tinggal di surga kelak, Saudaraku. Dan kita bisa mulai mencicilnya dari proyek kita ini…”

Sebenarnya proyek pembangunan masjid pertama di Okinawa ini sudah sejak lama dijalankan, karena saat ini aktivitas sholat Jum’at, sholat tarawih, dan sholat ied selalu dilakukan di ruangan internasional universitas yang bisa dipakai secara umum untuk siapa saja. Masalahnya, ruangan itu tak jarang digunakan untuk pesta-pesta mahasiswa Jepang dan asing yang terkadang melibatkan minuman beralkohol atau makanan haram (babi, dll) sehingga bisa saja tanpa sepengetahuan muslim Okinawa, ada sedikit/banyak material haram tersebut tertinggal di ruangan itu… sungguh tentunya ruangan itu bukan lokasi ideal untuk melakukan ibadah bagi muslim, sehingga keberadaan masjid sebagai tempat ibadah dan juga pusat aktivitas keislaman menjadi sangat penting sekali. Pada masa awal-awalnya uang sumbangan dari muslim Okinawa untuk pembangunan masjid bergulir dengan cepatnya. Hingga kemudian, entah skenario dari mana, ada oknum yang kemudian berhasil “memecah belah” komunitas muslim di Okinawa, sehingga proses pengumpulan dananya menjadi sangat lambat sekali. Dulu sekali, hanya dalam kurun beberapa tahun saja, sekitar 5 juta yen (sekitar 500 juta rupiah) bisa dikumpulkan dari sumbangan sukarela para donatur… namun selepas kejadian itu, dalam waktu 1 tahun saja… mengumpulkan 500 ribu yen saja sungguh teramat sulit.

Masalah utama yang muncul setelah kejadian itu adalah… rasa curiga dan eksklusifisme kelompok di dalam komunitas muslim Okinawa menjadi sangat besar, terutama pada muslim yang baru datang ke Okinawa. Hal itu sangat saya rasakan ketika pertama kali menghadiri sholat Jum’at berjamaah di ruangan internasional kampus. Harapan saya hari itu saya bisa bertemu dengan wajah-wajah baru saudara nan seiman di negeri asing, Okinawa. Namun yang saya temui adalah sikap acuh tak acuh dari saudara muslim ketika saya coba mengajak berbicara dengan mereka sebagai sebuah awal menjalin silaturahim. Hanya segelintir saja yang berkenan untuk menyambut saya dengan keramahan yang tulus. Namun, dari sekitar 70-an muslim yang hadir sholat Jum’at kali itu… masya Allah… seolah-olah tak ada yang “mau” saling kenal atau sekedar menyapa. Masing-masing sibuk berkumpul dengan kelompoknya yang terbagi berdasarkan asal negaranya.

Mulanya memang menyedihkan, namun selepas saya diberitahu detail mengapa hal ini terjadi, saya mulai memahaminya. Memang terlihat sekali “senior” muslim yang mungkin khilaf (semoga Allah membukakan hatinya) merasa dirinya yang paling “sholeh” dan “berpengetahuan” sehingga seringkali ia “menghasut” rekan-rekannya untuk tidak turut serta dalam aktivitas muslim yang diperuntukkan untuk seluruh muslim internasional, dan memilih melakukan aktivitas yang sifatnya lebih tertutup untuk kelompoknya. Bahkan mereka terkadang menaruh curiga kepada pengelola keuangan proyek pembangunan masjid Okinawa dengan menghembuskan isu bahwa keberadaan uangnya tidaklah jelas… astaghfirullah… Sehingga selama 1 tahun yang lewat saya tinggal di Okinawa, tak terasa sekali ukhuwah islamiyah antara umat muslim internasional.

Bayangkan saja, setiap selesai sholat Jum’at, semuanya langsung bubar atau paling berkumpul di tempat-tempat tertentu dengan kelompoknya, dan tak jarang sesekali saya menangkap tatapan curiga setiap kali berjalan melewati mereka. Selepas sholat idhul fitri atau idhul adha pun, nuansa kemeriahan hari besar Islam tak terasa di Okinawa. Semuanya bubar selepas sholat idhul fitri/adha… betul-betul garing…

“Kita harus bersabar, brother…” demikian ujar brother Ibrahim, lelaki paruh baya yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di Okinawa itu suatu hari…

“Keberadaan saudara muslim kita yang tengah “khilaf” itu tidak perlu kita hadapi secara frontal… Kita tunggu saja hingga mereka lulus dari studinya Oktober 2011 ini… dan insya Allah kita akan merenovasi komunitas muslim Okinawa kita dengan lebih baik… insya Allah…”

Dan hari ini, selepas Sholat Jum’at… 28 Oktober 2011… selepas “oknum-oknum” itu lepas meninggalkan Okinawa untuk kembali ke negara asalnya (semoga Allah membukakan hatinya dan memberi petunjuk baginua)… Berkumpullah segelintir orang yang ingin sekali membuat komunitas muslim okinawa cerah kembali…sungguh terasa sekali bedanya berkumpul dengan mereka yang punya visi dan misi dakwah yang sama… meski berbeda asal negaranya dan kembali lagi terngiang kalimat dari seorang brother…

“Let’s buy a land in heaven brother…”

Yang mengawali syuro’ (rapat) kecil selepas sholat Jum’at untuk menggalakkan kembali pengumpulan dana untuk pembangunan masjid pertama di Okinawa.

“…brothers… jika kita megandalkan pengumpulan uang pembangunan masjid di Okinawa ini hanya dari sumbangan setiap hari Jum’at… sungguh… dalam 10 tahunpun… kemungkinan besar kita masih belum bisa membangun apa-apa di Okinawa…”

Perlu diketahui, biaya untuk membangun masjid ukuran kecil-medium di Okinawa diperlukan dana minimal 60-an juta yen (6 milyaran rupiah)… yang terbagi dua yaitu pembelian lahan (minimal 18 juta yen / sekitar 1,8 milyar rupiah)… dan sisanya untuk pembangunan fisik masjidnya. Uang kas hasil pengumpulan donasi saat ini baru mencapai 7 juta yen (700 juta rupiah)… jika mengandalkan sumbangan rutin sholat Jum’at yang setahunnya gak sampai 1 juta yen… mungkin butuh lebih dari 10 tahunan hanya untuk mengumpulkan uang untuk membeli lahan… masya Allah… dan kami pun belajar dari daerah-daerah lain di Jepang yang telah lebih dahulu berhasil mendirikan masjid… masing-masing menempuh jalan yang berbeda-beda dengan tantangan yang berbeda-beda pula.

Demikian pula di Okinawa. Okinawa merupakan pulau kecil yang terletak paling selatan di Jepang dan karakteristik kulturnya sangat unik jika dibandingkan pulau utama Jepang. Sejak berakhirnya perang dunia kedua, pulau ini sudah menjadi pangkalan militer Amerika Serikat, sehingga pengaruh budaya barat sangat kental terasa di sini. Selain kepercayaan animisme orang asli Okinawa, terdapat sejumlah kecil penganut Budha dan Shinto, sementara agama kristen dan katolik muncul seiring dengan keberadaan pangkalan militer Amerika serikat. Banyak gereja, vihara, atau tempat-tempat pemujaan animisme di Okinawa… namun belum ada satupun masjid yang berdiri di pulau ini, dan keberadaannya sangatlah penting bagi komunitas muslim internasional dan Jepang di Okinawa… bahkan juga bagi komunitas non muslim di Okinawa sebagai wahana untuk mengenalkan tentang Islam kepada mereka.

Sebenarnya sudah banyak proposal yang telah diajukan kemana-mana, termasuk kepada para konglomerat muslim di negeri yang kaya akan minyak di Timur Tengah sana… namun baru sedikit yang menanggapinya… wallahualam…

Hingga mungkin tercetuslah kata pengantar dari Hussein tadi:

“Mari kita “membeli” tanah untuk tempat tinggal kita di syurga kelak… dan kita bisa mencicilnya dari ikut aktif dalam proyek ini…”

“Ada saudara kita yang mereka dibangunkan istana oleh Allah di surga atas perjuangannya dengan jiwa dan raga… bahkan kematian adalah “uang” yang mereka berikan untuk itu dalam jalan menegakkan kalimatullah… namun ada juga yang tak “seberuntung” mereka…”

Saya pun kemudian terhenyak…

“Masya Allah… sungguh beruntung muslim dan mukmin yang diberikan Allah kekayaan harta kemudian dengan ikhlasnya menyumbangkanya di jalan Allah (untuk membangunkan sebuah masjid di negeri nan asing ini)… tidaklah ia sudah melakukan” transaksi jual-beli tanah” untuk tempat tinggalnya di syurga kelak… subhanallah… dan sungguhlah malu jika seorang muslim punya kelebihan harta yang begitu banyak… namun enggan atau tidak mau untuk menyumbangkannya di jalan Allah… tiadalah ia telah membeli “lahan” di neraka… astaghfirullah…”

Maka hasil syuro kali itu… kita akan mencoba kembali “menjalin” silaturahim kepada muslim-muslim yang berkenan untuk membantu sebagian besar dana pembangunan masjid (Insya ada beberapa kontak potensial yang sedang dalam proses komunikasi). Ide lainnya adalah bagi muslim internasional yang mendapatkan beasiswa untuk dapat menyisihkan 50 ribu yen pertahun (5 juta rupiah pertahun) untuk disumbangkan.

Lucu juga sih… melihat banyak yang komplain bahwa sumbangan 50 ribu yen pertahun itu kebesaran dan terlalu merepotkan, padahal… seringkali mereka itu pulang pergi “melancong” ke negaranya atau negara lainnya dengan menghabiskan biaya lebih dari 100 ribu yen hanya dalam beberapa hari saja… lhaaa… ini setahun aja kok ya komplain yahh… astaghfirullah

Terbayang dalam benak saya… sekiranya lahan di syurga itu besarnya sesuai dengan banyaknya kebaikan dan bantuan yang diberikan untuk dakwah di jalan Allah… mungkin belum ada sejengkal tanah pun yang sudah menjadi kavling saya di surga kelak… astaghfirullah…

Jika dibandingkan apa yang sudah disumbangkan oleh seorang brother dari uang baito dan beasiswanya untuk pembangunan masjid okinawa secara rutin, sementara ia selalu bilang…

“Lahan di syurga itu “mahal” brother… tak gratis kita mendapatkannya… dan aku mencicilnya sedikit demi sedikit selama ini… mungkin baru sekecil kelingking jari kakiku saja… atau bahkan belum ada sedikitpun “tanah” syurga itu diperuntukkan bagiku… bagaimana aku bisa berhenti menyisihkan rezekiku untuk membantu membangun masjid ini…?

Masya Allah… dia saja begitu… bagaimana denganku yang sungguh masih teramat jauh usahaku dibandingkan dengan dirinya… masya Allah dalam fastabikhul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) sungguh tak ada seorang muslimpun yang mau mengalah dari saudara muslimnya :)

Well… yang bisa saya lakukan saat ini adalah berusaha “menyainginya” dengan cara yang penuh kebaikan… tentu saya tidak pengen kalah dengan mereka yang berkompetisi tuk menjadi “juara” di hadapan Allah kelak… tak ada seorangpun yang mau ngalah, deshou ne ?!

Bissmillah… semoga saja Allah mengirimkan dermawan mukmin dan muslim terbaiknya untuk turut segera mewujudkan pembangunan masjid di Okinawa, yang telah kami damba-dambakan selama ini. Semoga dengan masjid Okinawa nantinya… syiar Islam akan lebih berkembang dengan pesat dan indah…

Andakah dermawan yang Allah akan kirimkan kepada kami kelak? Wallahualam… 

Jika Anda tertarik untuk “membeli” tanah di syurga melalui donasi pembangunan masjid pertama di Okinawa… Anda bisa menghubungi email saya di: danang_ap7@yahoo.co.uk

Semoga Allah memberkahi… amin :)

Silakan klik “di sini” dan “ di sini” untuk membaca dua tulisan terkait yang saya post di blog multiply saya :)

Bissmillah…

Subhanallah… demikian ungkap saya dalam hati sambil bergetar tangan memegang pena selepas mendengarkan kuliah umum dari salah satu pembicara…

Pagi itu adalah hari ketiga saya berada di Yeosu, Korsel dalam rangka APPF 2011 (silakan baca 2 post sebelumnya tentang APPF 2011 ini). Dan hari itu merupakan hari pertama pembukaan konferensi mikroalga asia pasifik. Acara dibuka secara singkat dengan pidato dari ketua panitia dan ketua perhimpunan mikroalga asia pasifik di ruangan mewah Yeosu Ocean Resort, Korsel. Namun yang sungguh menarik adalah plennary session (semacam kuliah umum) dari pembicara pertama, ilmuwan kelas dunia asal Rutgers University, Amerika Serikat namun keturunan India, Professor Debashish Bhattacharya (http://dblab.rutgers.edu/home/index.php). Banyak hasil riset tentang mikroorganisme yang dimuat di jurnal-jurnal terkemuka internasional, dan hari itu beliau memberikan sebuah materi yang sungguh amat mempesona… tema umumnya: endosimbiosis dan efeknya terhadap perkembangan karakteristik mikroorganisme dalam kehidupan.

“You are what you eat!”

Demikian beliau menyimpulkan secara sederhana paparan panjang tentang kuliah umumnya yang berlangsung selama 1,5 jam itu. Mengapa menarik? Karena di sanalah saya menemukan tentang keajaiban ilmu pengetahuan yang memperkuat landasan keislaman dan keimanan saya kepada Allah SWT. Saya akan coba share dengan bahasa yang paling sederhana.

Pertama, endosimbiosis… apa pula itu?

Endosimbiosis, secara sederhana adalah gagasan yang diajukan oleh ilmuwan untuk menjelaskan bagaimana sel/mikroorganisme dapat memiliki karakter yang berbeda-beda. Proses endosimbiosis diawali dengan proses dimana satu mikroorganisme “memakan”  mikroorganisme lainnya. Selanjutnya, ada dua proses yang akan berlangsung, yaitu: mikroorganisme yang dimakan tersebut akan dicerna secara keseluruhan sebagai nutrisi, namun dalam kasus kedua sebagian/seluruh bagian mikroorganisme yang dimakan tersebut dipertahankan oleh si pemakan dan selanjutnya berkembang menjadi “organ” tambahan baru yang memiliki fungsi tertentu.

Perkembangan selanjutnya, “organ” baru yang ada di dalam mikroorganisme tersebut menjadikan dirinya memiliki karakter / sifat yang berbeda dari mikroorganisme yang mulanya satu jenis. Proses ini disebut dengan primary endosymbiosis… atau mudahnya: mendapatkan “organ” baru secara langsung dari makanan yang kemudian dapat memunculkan sifat baru dan tetap dalam tubuh mikroorganisme. Sifat / karakteristik ini nantinya dapat diwariskan dalam sel keturunannya yang baru (sel anak). Nah di sini penting kita garis bawahi… sifat baru dan tetap yang muncul di dalam tubuh karena makanan dan dapat diturunkan!

Selanjutnya… ada istilah secondary endosymbiosis… waduh apa pula itu?

Mudahnya… adalah proses memakan mikroorganisme yang sudah melalui primary endosymbiosis, yang kemudian menjadikan mikroorganisme itu jauh lebih berkembang dengan organ-organ barunya dibandingkan dengan mikroorganisme lainnya. Dan seperti primary endosymbiosis… karakter yang muncul dari proses secondary endosimbiosis ini pun bisa diwariskan ke pada keturunannya, tanpa harus melalui proses endosimbiosis. Di sini kita kembali perlu menggaris bawahi: Sifat baru yang diperoleh dapat diturunkan secara langsung kepada sel anak!

Mudahnya bisa kita lihat pada skema endosimbiosis berikut:

Lalu apa yang menarik? Well… Sungguh sangat menarik, jika kita pikirkan secara seksama. Namun sebelumnya saya akan melanjutkan paparan Professor Bhattacharya…

Endosimbiosis mulanya hanyalah teori yang diajukan oleh ilmuwan sebagai salah satu alternatif daripada teori evolusi. Namun penelitian yang dilakukan oleh beliau (juga ilmuwan lainnya) menunjukkan, bahwa gagasan mengenai “pembentukan karakter dari makanan” ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah.

Beliau menunjukkan beberapa hasil analisis molekular terhadap organel-organel berbagai mikroorganisme kemudian membandingkannya dengan materi genetik yang ada pada mikroorganisme lain yang jauh lebih sederhana. Hasilnya? Organel tersebut menunjukkan kesamaan kode genetik dengan mikroorganisme sederhana yang menjadi pembanding tersebut. Secara sederhana: Organel yang ada dalam mikroorganise yang diuji berasal dari mikroorganisme lainnya yang “dimakan”-nya… endosimbiosis terbukti! Dan hasil riset ini tidak diambil dari 10-20 kali uji dengan berbagai jenis mikroorganisme… tapi dari ratusan sampel uji yang dilakukan selama lebih dari 20-30 tahun…

Nah… mari saya arahkan kepada hikmah Islam apa yang bisa kita peroleh dari endosimbiosis dan pembentukan karakter dalam mikroorganisme ini…

Mari kita kutip terjemahan ayat Al Qur’an dalam surat Al Baqarah: 168, berikut:

“Wahai manusia, makanlah apa-apa yang ada diatas muka bumi yang halal lagi baik dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.”

Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda:

Setiap daging tumbuh yang diperoleh dari kejahatan (jalan haram), maka neraka lebih layak baginya.” (HR Imam Ahmad)

“Seorang lelaki bermusafir sehingga rambutnya menjadi kusut dan mukanya dipenuhi debu. Dia menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Allah, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan mulutnya disuap dengan sesuatu yang haram. Bagaimana akan diperkenankan permohonannya?”(HR Muslim, Ahmad, dan Tarmidzi)

Apa kesamaan dari semua landasan Islam di atas dengan kuliah umum yang diberikan oleh Prof. Bhattacharya tentang endosimbiosis? Makanan!

Prof. Bhattacharya menyimpulkan: “You’re what you eat! (Jati dirimu dibentuk dari apa yang kamu makan)

Seekor mikroorganisme bisa berubah karakteristiknya karena memakan sesuatu yang kemudian menjadi bagian yang integral dari dirinya. Dan sifat itu dapat terus diwariskan kepada keturunannya. Demikian jelasnya.

Dan demikianlah Allah SWT dan Rasulnya mengajarkan betapa pentingnya menjaga dan memilih makanan, karena makanan akan menjadi berproses “daging” selama pertumbuhan, dan makanan akan menentukan karakter seorang hamba di hadapan Allah SWT. Ajaran ini sudah ada jauh sebelum manusia mengenal ilmu biologi molekuler dan mencetuskan gagasan endosimbiosis. Bagi orang-orang yang mau berpikir dan mengambil hikmah keimanan… maka temuan ilmiah yang dipaparkan oleh Prof. Bhattacharya di atas pasti akan semakin menambah keimanan.

Tentu kita masih ingat pelajaran SMP atau bahkan SD tentang sel… sekumpulan sel menyusun jaringan, sekumpulan jaringan menyusun organ, dan sekumpulan organ akan menyusun organisme… demikian sederhananya…

Bayangkan… tubuh manusia terdiri atas milayaran sel yang memiliki fungsi dan karakteristik tertentu dan menjadi pondasi paling mendasar dalam struktur biologis makhluk hidup. Sel-sel tersebut memiliki kemampuan untuk “memakan” bahkan mungkin saja melakukan proses endosimbiosis terhadap materi-materi yang kita dapatkan dari makanan yang kita makan sehari-harinya. Bukankah kemudian… struktur biologis terkecil dalam tubuh kita itu bisa saja kemudian berubah menjadi sel dengan karakteristik yang baru? Jika benar demikian adanya… sel-sel dengan sifat “baru” akan membentuk jaringan-jaringan dengan sifat yang “baru”… jaringan “baru” tersebut selanjutnya membentuk organ-organ dengan sifat yang “baru” …dan selanjutnya menjadikan organismenya memiliki sifat dan karakter yang “baru” pula?

Tentu… proses endosimbiosis berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama sekali… tapi bukan pula mustahil bisa berlangsung dalam proses yang singkat.

Hikmah yang ingin saya tekankan di sini… sekiranya kita makan atau minum sesuatu yang haram… hal itu tidak hanya masuk ke dalam perut kita saja… tapi… akan masuk ke setiap sel yang jumlahnya milyaran dalam tubuh kita… dan tidakkah kita ingat ayat Al Qur’an surat Al Zalzalah: 7-8:

“Barangsiapa melakukan kebaikan seberat biji zarah, maka dia akan melihatnya. Dan barangsiapa melakukan keburukan seberat biji zarah, maka dia juga akan melihatnya”

Zarah… menurut sebagian ulama adalah atom… yang jauh lebih kecil daripada sel… Masya Allah… seberat satu “biji” atom saja Allah akan pertanggung jawabkan… bagaimana jika itu 1 sel yang terdiri atas banyak atom… masya Allah… bagaimana jika itu seluruh sel yang ada dalam tubuh kita… berapa jumlah atom yang ada? Berapa yang “tumbuh” dari hasil makanan yang haram itu? Dan… semua itu akan dipertanggung jawabkan kelak… Astaghfirullah… sungguh tak terbayangkan…

Selayaknya gagasan endosimbiosis… dimana karakter baru yang terbentuk dapat diwariskan ke keturunan… tidakkah terpikirkan bahwa sel-sel dalam tubuh kita juga akan diwariskan selanjutnya kepada keturunan kita… masya Allah… sekiranya makanan kita berasal dari sesuatu yang haram… pastilah ada “materi” yang akan terwariskan bersama keturunan kita… tentu kita tak ingin semuanya itu terjadi bukan?

Maka… marilah kita belajar dari makluk hidup super duper mikro… yang tak dapat kita lihat secara langsung dengan keterbatatasan pandangan… marilah kita belajar dari mikroalga dan mikroorganisme lainnya… bahwa dalam keterabaikannya mereka dalam kehidupan… sungguh mereka mengajarkan mengenai pentingnya menjaga dan memilih makanan yang baik dan halal… Insya Allah.

Masya Allah… panjang juga ya tulisan kali ini… hehe… namun semoga bermanfaat… mohon maaf jika ada salah kata di dalamnya…

NB: setelah saya pikir-pikir… “ngurusin” mikroalga yang sangat kecil aja… banyak sekali penelitian yang telah dihasilkan… bukan penelitian yang simple… tapi… sungguh penelitian yang mengandung hikmah dan pelajaran… Subhanallah…

 

Alhamdulillah… akhirnya dapat kesempatan “GRATIS”… (yup… gratis tis tis) untuk berkunjung selama kurang lebih 6 hari ke Korea Selatan… negeri yang mungkin bagi banyak anak muda di tanah air sana dianggap sebagai “kiblat”-nya film-film drama dengan nama-nama aneh para pemerannya… (sori saya gak mudeng Korean Drama soalnya…)

Bagi saya Korea adalah negeri asalnya salah satu beladiri terbaik dan tercantik dunia… Taekwondo dengan Kukkiwon hall-nya yang melegenda tempat berlatihnya tim atraksi Taekwondo kelas dunia: The Korean Tiger. Jadi ingat semasa SMA dan kuliah di IPB dulu ketika badan dan perut masih bisa diajak kompromi untuk tak terlalu “menggelembung”… Taekwondo menjadi “pelarian” saya dari rutinitas belajar yang kadang teramat menjemukan.
Kali ini Sensei mengajak saya untuk hadir di konferensi internasional The Asia-Pacific Phycology Forum (APPF) 2011 yang akan bertempat di kota pesisir modern Korea Selatan: Yeosu. Biasanya kalau ada info untuk bisa nyerahin paper saya lihat dulu apakah ada dana atau tidak… kalo ga ada dana… saya pasti tak berangkat! Namun kali ini Alhamdulillah bisa sedikit jejingkrakan karena 100% dananya ditanggung oleh Sensei…
Well… sebenarnya dilematis juga untuk pergi ke sana… karena semula paper yang sebenarnya perlu saya presentasikan hanya satu buah. Tapi Sensei menambahkannya menjadi total dua buah paper… kalo sekedar presentasi dengan paper yang dah okeh sih no problemo… lha iki… satu papernya lagi hanya diberi waktu 1 minggu untuk menghasilkan data genetiknya paling tidak sampai 80%… GEDOMBRAANGGG… sementara sensei sendiri pamit selama 1 minggu itu pergi sampling mikroalga ke Afrika Selatan… *enaaaknyooo @_@
Ya mau gimana lagi… emang semuanya pasti ada “bayaran” sepadan euy… Mana 1 minggu ini ada banyak matsuri di Okinawa yang sayang kalo dilewatin dengan tidak memotretnya… (dasar tukang foto…)… sampai-sampai istri saya bilang:
“Mas itu lebih ahli tentang kamera dan foto dibandingkan penelitian mikroalganya…” Ahaha… seandainya bisa nulis jurnal ilmiah dari kumpulan foto2 saya… pasti dah banyak publikasi yang saya buat… sayangnya… ndak ada T_T…
Well… saatnya fokus nge-lab… meski motret dan nge-blog tak boleh terganggu :p
Ganbarimashouuuu!!!!